Berita Geothermal – BUMN panas bumi PT Geo Dipa Energi (Persero) mengambil peran strategis dalam merawat Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, dengan menggandeng masyarakat melalui pendekatan ekonomi sirkuler dan pemberdayaan komunitas.
Wilayah kerja Geo Dipa memang mencakup DAS Serayu sehingga perusahaan menunjukkan tanggung jawab lingkungannya secara konkret lewat kolaborasi lintas sektor dalam Program Penyelamatan DAS Serayu.
Program ini merupakan bagian dari kolaborasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan-perusahaan Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan. Geo Dipa mendapat amanah memimpin.
“Ini adalah bentuk kesinambungan dari sinergi yang sudah dimulai sejak 2022 pasca pandemi. Waktu itu kami memulai dengan konservasi mangrove di Berau, kini saatnya kita bergerak bersama menyelamatkan DAS Serayu,” ujar Direktur Utama Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis saat program diluncurkan.
Program yang dijalankan menyasar 16 desa di sekitar DAS Serayu dengan kegiatan yang mendukung kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Diversifikasi penghasilan menjadi fokus, mulai dari peternakan kambing perah, produksi silase, hingga pengolahan limbah pertanian menjadi pupuk organik.
Sosiolog Imam Prasodjo menegaskan pentingnya program ini.
“Serayu adalah nadi kehidupan lima kabupaten yang dihuni hampir lima juta jiwa. Jika tidak dijaga, risiko seperti longsor dan jebolnya bendungan bisa sangat mengancam,” ujarnya.
Salah satu penggerak utama program ini adalah Kampung Ilmu Serayu Network, komunitas berbasis warga yang mengusung empat pilar: Peternakan Kambing Perah, Bank Pupuk, Bank Pakan, dan Pembibitan tanaman konservasi.
Ketua Serayu Network, Maman Fansyah, menyebut sinergi keempat pilar ini menciptakan ekosistem pertanian terpadu yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Kami tidak hanya menjawab masalah lingkungan, tapi juga masalah ekonomi. Bahkan eceng gondok dan sedimentasi sungai pun kini kami olah menjadi pupuk dan media tanam. Dari masalah jadi berkah,” tutur Maman.
Kampung Ilmu juga tumbuh menjadi destinasi edukatif yang ramai dikunjungi pelajar, mahasiswa, hingga kelompok tani dari berbagai daerah. Mereka datang untuk belajar langsung tentang konservasi modern berbasis komunitas.
Dalam program Jaga Serayu tersebut, Kementerian Keuangan di antaranya memberikan bantuan instalasi air dan mesin pencacah rumput untuk bahan baku pakan.
Menurut Maman, dengan mesin pencacah rumput, ia dan ptani tidak perlu lagi setiap hari merumput sebab bisa membuat stok pakan beberapa hari.
Sementara itu, Ketua Kelompok Dieng Green Land, Aris Tofani, menambahkan bahwa program ini juga membuka kesadaran baru bagi petani.
“Kami ingin masyarakat tahu bahwa ada sumber penghasilan selain menanam kentang,” ujarnya.
Kepala Dinas PUPR Wonosobo, Nurudin Ardianto, berharap program ini membawa dampak ganda.
“Bukan hanya lingkungan yang terjaga, tapi kesejahteraan masyarakat pun ikut meningkat,” tegasnya.
Melalui “Program Jaga Serayu”, Geo Dipa dan mitra komunitas membuktikan bahwa penyelamatan lingkungan tak harus bertentangan dengan ekonomi. Justru, di DAS Serayu, keduanya tumbuh bersama dalam sinergi yang lestari.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















