Berita Geothermal — Alberto Adiluhung Tambur, putra asli Manggarai, Nusa Tenggara Timur, tengah jadi sorotan publik setelah pendapatnya tentang energi panas bumi viral di media sosial.
Dalam sebuah wawancara yang tayang di akun Facebook dan dilansir portal Swara NTT pada 12 Mei 2025, Alberto menyatakan bahwa energi panas bumi merupakan sumber energi bersih paling aman dan ideal untuk wilayah NTT.
Alberto bukan sosok sembarangan. Dikutip dari trisakti.ac.id, ia adalah lulusan terbaik Teknik Geologi Fakultas Teknik Kebumian dan Energi Universitas Trisakti tahun 2023, dengan raihan IPK tertinggi 3,68.
Kemudian mengutip id.linkedin, Alberto kini bekerja sebagai Junior Geologist di PT Eksindo Telaga Said, salah satu anak usaha PT Pertamina (Persero). Ia pun tengah menempuh pendidikan Magister Panas Bumi di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Terkait polemik pemanfaatan energi panas bumi di NTT yang masih menuai pro dan kontra, Alberto menyampaikan pandangannya secara ilmiah dan lugas. Ia menilai bahwa perdebatan terjadi karena kurangnya informasi yang sampai ke masyarakat dan pemangku kepentingan.
“Panas bumi merupakan bagian dari transisi energi global yang disuarakan para pemimpin dunia, termasuk dalam KTT Iklim di Glasgow tahun 2021,” ujar Alberto.
Menurutnya, geothermal merupakan sumber listrik yang paling aman dan ramah lingkungan bagi Indonesia, terutama wilayah-wilayah potensial seperti NTT. Ia juga menjawab kekhawatiran publik terkait luas lahan yang dibutuhkan dalam proyek geothermal.
“Lubang pemboran hanya membutuhkan ruang selebar 30 sampai 40 inci. Untuk seluruh fasilitas pendukung, memang dibutuhkan sekitar 2 hingga 3 hektar. Itu pun sudah cukup untuk mendukung satu titik pembangkit,” jelasnya.
Mengenai kekhawatiran pencemaran akibat uap panas bumi, Alberto meyakinkan bahwa teknologi terkini mampu menjinakkan zat-zat kimia yang mungkin ikut terbawa.
“Uap panas yang menggerakkan turbin pada dasarnya hanya air yang dipanaskan, dan setelah digunakan, uap itu akan dikembalikan ke dalam reservoir agar bisa terus bersiklus,” terangnya.
Ia juga menepis anggapan bahwa pemboran geothermal bisa mencemari air tanah atau memicu gempa bumi.
“Air tanah berada di lapisan dangkal, sementara pemboran geothermal jauh lebih dalam. Adapun getaran pengeboran sangat kecil dan tidak bisa disamakan dengan gempa tektonik yang disebabkan oleh pergeseran lempeng,” jelasnya lagi.
Dari sudut pandang ilmiah, Alberto menilai bahwa geothermal adalah energi bersih yang paling cocok untuk keberlanjutan listrik di Pulau Flores dan sekitarnya. Ia menyebutkan, pengawasan terhadap kandungan sulfur yang mungkin muncul juga dilakukan secara ketat agar tidak berdampak pada lingkungan sekitar.
Pendapat Alberto pun memicu diskusi hangat di media sosial. Banyak warganet, terutama dari NTT, menyambut positif penjelasannya.
Pemilik akun Kanisius Senta menulis, “Penjelasan Nana sangat mencerahkan. Terima kasih, Nana.”
Sementara akun Piduk Crm menggarisbawahi pentingnya edukasi publik: “Sosialisasi itu penting, karena setiap orang memiliki pemahaman berbeda. Pendekatan pemerintah juga perlu diperbaiki.”
Akun Didi Pareira menambahkan bahwa masyarakat di sekitar PLTP Ulumbu sebenarnya sudah memahami dan menerima kehadiran pembangkit tersebut.
Namun, akun Fabianus Gon mengingatkan bahwa kekhawatiran warga bisa dipahami, mengingat kasus lumpur di Mataloko, Ngada, yang memunculkan ketakutan akan tragedi seperti Lapindo di Sidoarjo.
Adapun August Sagala menyampaikan harapan besar kepada generasi seperti Alberto.
“Yang dibutuhkan bangsa ini adalah anak-anak muda kreatif. Kita punya kekayaan alam melimpah. Tinggal bagaimana kita dipimpin oleh orang-orang yang bersih, kuat, dan berwawasan nasional.”
Alberto, dengan suara muda yang cerdas dan berbasis keilmuan, telah membuka diskusi sehat tentang potensi energi panas bumi—sebuah harapan baru bagi masa depan energi bersih di NTT.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















