_Satu Dekade Konservasi Elang Jawa_
Jakarta, Kabariku.com – Komitmen PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dalam menjaga kelestarian alam kembali mendapat pengakuan. Melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK), PGE meraih Penghargaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 Bidang Konservasi Spesies dan Genetik dari Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Penghargaan tersebut diserahkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni kepada Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho dalam pembukaan Peringatan HKAN 2026 di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (20/8/2026).
Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap kontribusi PKEK dalam upaya penyelamatan dan pelestarian satwa liar, sekaligus memperkuat komitmen PGE bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan beriringan dengan perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, peringatan HKAN harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pihak dalam menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.
“Dengan HKAN ini mari tingkatkan komitmen kita untuk bekerja lebih keras lagi, menemukan cara-cara yang lebih kreatif, yang lebih inovatif dalam melindungi keanekaragaman hayati kita,” tutur Juli.
Berdasarkan surat Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Nomor S.356/KSG/PSG.2/KSA.03.02/B/08/2026, PGE ditetapkan sebagai penerima penghargaan setelah melalui proses penilaian atas kontribusi yang diberikan dalam bidang konservasi.
PKEK dinilai memiliki peran penting sebagai pusat penyelamatan, rehabilitasi, pelepasliaran, penelitian, hingga edukasi konservasi burung pemangsa di Indonesia.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho menegaskan, penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk apresiasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa keberlanjutan industri panas bumi tidak dapat dipisahkan dari kelestarian alam.
“Penghargaan ini adalah pengakuan atas keyakinan yang kami pegang sejak awal: pengembangan energi panas bumi dan pelestarian alam adalah satu kesatuan. Panas bumi hanya lestari jika hutan dan ekosistem di sekitarnya terjaga, karena itu kepedulian lingkungan menjadi bagian dari cara PGE beroperasi setiap hari,” ujar Andi.

Satu Dekade Selamatkan Elang Jawa
PKEK berdiri sejak 2014 melalui kemitraan PGE dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Raptor Indonesia. Fasilitas konservasi tersebut secara khusus menangani satwa elang, terutama Nisaetus bartelsi (Elang Jawa), spesies endemik Indonesia yang menjadi inspirasi lambang negara Garuda.
Elang Jawa juga berstatus Endangered atau terancam punah berdasarkan IUCN Red List of Threatened Species.
Selama lebih dari satu dekade, PKEK telah melakukan upaya konservasi terhadap 392 ekor elang dan berhasil melepasliarkan 153 ekor ke habitat alaminya.
Elang yang ditangani PKEK berasal dari beragam kondisi, mulai dari hasil penyitaan, serahan masyarakat, hingga satwa yang menjadi korban konflik dengan manusia.
Untuk mendukung program tersebut, PGE mengalokasikan sekitar 116 hektare kawasan di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang untuk konservasi Elang Jawa.
Kawasan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain karantina, observasi, rehabilitasi, serta kandang pelatihan terbang. Fasilitas ini digunakan untuk memastikan kondisi elang benar-benar siap sebelum dikembalikan ke habitat alaminya.
PKEK juga menjalankan program edukasi konservasi bagi pelajar dan masyarakat. Warga di sekitar kawasan turut dilibatkan dalam mendukung operasional konservasi, salah satunya melalui penyediaan pakan elang oleh peternak lokal.

Ancaman Elang Jawa Masih Tinggi
Upaya pelestarian Elang Jawa menghadapi tantangan yang tidak ringan. Satwa ini memiliki tingkat reproduksi yang rendah. Sepasang Elang Jawa umumnya hanya menghasilkan satu telur dalam satu tahun.
Di sisi lain, populasinya menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perburuan dan perdagangan ilegal hingga penyusutan habitat akibat alih fungsi kawasan hutan.
Perdagangan ilegal bahkan disebut dapat mencapai 30–40 ekor per tahun. Sementara proses rehabilitasi membutuhkan waktu panjang dan penanganan yang sangat hati-hati sebelum seekor elang dinyatakan siap kembali ke alam.
PGE terus memberikan dukungan terhadap PKEK, termasuk melalui penguatan fasilitas medis, penelitian, serta pemantauan setelah proses pelepasliaran.
Langkah tersebut diarahkan agar PKEK tidak hanya menjadi pusat konservasi, tetapi juga berkembang sebagai model kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat yang dapat diterapkan di wilayah lain.
“Selama lebih dari satu dekade, kami mendampingi PKEK bersama BBKSDA Jawa Barat dan Raptor Indonesia. Ini merupakan proses penyelamatan dan rehabilitasi, hingga menyaksikan elang-elang itu kembali terbang bebas di habitatnya,” kata Andi.
Menurut dia, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan industri energi dapat berjalan seiring dengan upaya perlindungan alam.
“Ini adalah bukti bahwa industri energi dan industri alam dapat saling menghidupi. Karena itu, apresiasi dari Kementerian Kehutanan ini kami terima sebagai amanah untuk melanjutkan dan memperluas komitmen tersebut, agar Elang Jawa, sang inspirasi Garuda, tetap mengangkasa di langit Indonesia untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Konsistensi PGE di Bidang Lingkungan
Komitmen lingkungan PGE di Kamojang juga tercermin melalui capaian lainnya. PGE Area Kamojang tercatat meraih PROPER Emas selama 15 kali berturut-turut.
Sementara PGE Area Ulubelu memperoleh PROPER Emas selama empat kali berturut-turut dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH).
Di tingkat global, PGE juga tercatat sebagai satu-satunya perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar Top 50 Global ESG Companies 2025 versi Sustainalytics.
Berbagai capaian tersebut memperkuat pendekatan PGE dalam mengembangkan energi panas bumi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga menempatkan perlindungan lingkungan dan keanekaragaman hayati sebagai bagian integral dari kegiatan operasional perusahaan.
Bagi PGE, keberlanjutan pengembangan energi panas bumi dan kelestarian alam bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya menjadi bagian dari satu upaya untuk memastikan pemanfaatan energi bersih dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan generasi mendatang.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















