Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai berada dalam posisi yang semakin solid di tengah dorongan pemerintah mempercepat transisi energi. Emiten panas bumi ini disebut memiliki fondasi bisnis yang relatif stabil, ditopang karakter pembangkit baseload dan rencana ekspansi yang terukur.
Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, menilai PGEO berpotensi menjadi salah satu pemain utama dalam peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) nasional. Menurutnya, panas bumi memiliki keunggulan karena mampu memproduksi listrik secara konsisten tanpa terpengaruh faktor cuaca.
“Dengan pipeline ekspansi yang jelas, PGEO menawarkan kombinasi pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang defensif,” tulis Jeremy dalam risetnya.
Salah satu pendorong utama optimisme tersebut adalah langkah PGEO dalam meningkatkan belanja modal tahun ini. Perusahaan menyiapkan capital expenditure (capex) sebesar US$ 209,3 juta atau sekitar Rp 3,3 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan realisasi capex tahun sebelumnya yang tercatat US$ 105,5 juta.
Tambahan investasi ini diarahkan untuk menopang kenaikan kinerja operasional sepanjang 2026. Produksi listrik PGEO diproyeksikan mencapai 5.255 gigawatt hour (GWh), tumbuh 3,14% secara tahunan.
Dari sisi penjualan, kinerja tiap segmen diperkirakan bergerak berbeda. Stockbit Sekuritas mencatat volume penjualan uap PGEO diproyeksikan berada di level 2.356 GWh atau turun 1,1% yoy. Sementara itu, penjualan listrik justru diperkirakan meningkat menjadi 2.899 GWh atau tumbuh 6,8% yoy.
“Berdasarkan segmen, volume penjualan uap PGEO diperkirakan mencapai 2.356 GWh atau turun 1,1% yoy. Sedangkan volume penjualan listrik diproyeksikan sebanyak 2.899 GWh atau naik 6,8% yoy,” tulis Stockbit Sekuritas dalam catatannya, dikutip Minggu (15/2/2026).
Ke depan, PGEO menargetkan peningkatan kapasitas terpasang hingga 1 gigawatt (GW) pada 2028. Dengan tambahan kapasitas tersebut, produksi listrik perusahaan diperkirakan berada di kisaran 5,5 hingga 6 ribu GWh.
“Target tersebut realistis dan mencerminkan arah pertumbuhan organik yang berkelanjutan,” kata Jeremy.
Dari sisi kinerja keuangan, Bahana Sekuritas memproyeksikan EBITDA PGEO dapat mencapai US$ 484 juta pada 2028, dengan CAGR sebesar 11% pada periode 2024–2028. Sementara laba bersih diperkirakan menembus US$ 201 juta pada 2028, dengan CAGR sekitar 5,8%.
“Karakteristik bisnis panas bumi membuat pertumbuhan pendapatan dan laba PGEO relatif konsisten. Ini menjadi daya tarik bagi investor yang ingin eksposur ke sektor energi hijau dengan risiko yang lebih terkendali,” ungkap Jeremy.
Selain kinerja operasional dan laba, kekuatan neraca juga menjadi nilai tambah PGEO. Dengan rasio gearing yang relatif rendah, ruang pendanaan perusahaan dinilai masih cukup luas untuk mendukung ekspansi lanjutan. Dari sisi valuasi, saham PGEO juga dinilai masih berada pada level yang wajar dibandingkan emiten panas bumi lain, seiring dengan prospek pertumbuhan kapasitas yang lebih terukur.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















