1. Ramah Lingkungan
Dibandingkan dengan sumber energi konvensional seperti batu bara, geothermal menghasilkan lebih sedikit karbon dioksida, partikel berbahaya, dan zat beracun lainnya yang mengakibatkan efek rumah kaca. Pemasangan pembangkit cukup dilakukan sekali dan selanjutnya akan bertahan hingga 80 sampai 100 tahun.
Hal tersebut merupakan upaya untuk menghindari perubahan iklim atau global warming. Fakta bahwa tidak ada bahan bakar fosil yang digunakan juga berarti pemberdayaannya akan meminimalisir resiko kebakaran atau kecelakaan kerja.
Di samping itu, kebutuhan air bersih untuk makhluk hidup juga tidak akan terganggu. Hal ini dikarenakan mengingat fluida thermal bukan berasal dari air permukaan, namun dari reservoir dengan kedalaman 1.500 s.d. 2500 meter.
2. Jumlahnya Tak Terbatas
Energi panas bumi selalu tersedia. Baik siang maupun malam, apapun musim dan kondisi cuacanya. Pembangkit listrik tenaga panas bumi rata-rata menghasilkan energi sekitar 8.600 jam setahun. Terbukti pada tahun 2007, sekitar 10 megawatt dari pembangkit listrik tenaga bumi menyumbang sekitar 0.3% total energi listrik di dunia.
Pengirimannya konstan sehingga dapat bekerja dengan kapasitas penuh tanpa henti. Ini berarti bahwa jumlah energi yang dihasilkan akan setara dengan daya dikalikan dengan jam penggunaan.
Berbeda lagi sistem tenaga surya, hidroelektrik, dan udara, yang jarang bekerja pada kapasitas penuh. Jadi, akan lebih banyak energi yang dihasilkan untuk daya nominal yang sama.
3. Cocok Diterapkan di Indonesia
Pemerintah Indonesia sudah lama mencanangkan program-program mandiri energi. Namun, banyak orang tidak sadar bahwa Indonesia merupakan negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di dunia. Sayangnya, pemanfaatannya tersebut belum dieksplorasi dengan baik.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















