Yogyakarta, Berita Geothermal– Dosen Teknik Kimia UGM, Himawan Tri Bayu Murti Petrus, memanfaatkan panas bumi untuk menciptakan nanosilika, pupuk super yang diklaim bisa memperkuat tanaman dan meningkatkan hasil panen. Inovasi ini diharapkan bisa masuk ke industri dan dimanfaatkan secara luas.
“Prosesnya kami desain supaya bisa direplikasi dan ditingkatkan skalanya. Tujuannya, hasil riset ini bisa sampai ke tahap hilirisasi dan pemanfaatan industri,” kata Himawan, dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (30/1/2026).
Indonesia punya potensi panas bumi terbesar di dunia, sekitar 40 persen dari total global atau 23.965,5 MW, tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, dan Sulawesi. Selain bisa jadi sumber energi, panas bumi ternyata menyimpan kandungan silika yang bisa diolah menjadi nanosilika untuk pertanian.
Himawan menjelaskan, nanosilika dibuat dari silika geothermal yang melalui proses rekayasa material dan pengendalian tahap demi tahap. Hasilnya, nanosilika stabil, konsisten, dan berkualitas unggul.
Di dunia pertanian, nanosilika bekerja dengan memperkuat dinding sel tanaman, membuat batang lebih tegak, dan meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi. Karena ukurannya yang kecil, tanaman mudah menyerapnya.
“Penggunaan sangat hemat, cukup 1–2 kilogram per hektare. Jauh lebih rendah dibandingkan pupuk NPK, tapi tetap efektif,” jelas Himawan. Ia menambahkan, cara ini mendukung pertanian yang lebih efisien, adaptif, dan ramah lingkungan.
Uji Lapangan: Panen Bisa Naik Hingga 50%
Dari uji coba di lapangan, nanosilika terbukti meningkatkan produktivitas tanaman antara 30–50 persen, terutama pada padi, jagung, alpukat, pepaya, hingga anggur. Namun, peningkatan ini bukan semata karena nanosilika saja. Formulasi tambahan seperti humat dan boron ikut berperan dalam memperbaiki kesehatan tanah dan kualitas tanaman.
“Jadi, ini bukan cuma nanosilika, tapi ada sinergi dengan aditif lain agar tanah dan tanaman sama-sama sehat,” kata Himawan.
Meski menjanjikan, tantangan terbesar riset ini adalah mengubah penelitian laboratorium menjadi produk industri. Oleh karena itu, Himawan dan tim berencana mengembangkan berbagai turunan produk nanosilika agar manfaatnya lebih luas.
“Kami ingin tidak berhenti pada satu produk saja, tapi membuka peluang hilirisasi lebih banyak lagi,” tambahnya.
Penelitiannya sudah berjalan sejak 2013, dengan kolaborasi internasional seperti NTU Singapore, Swinburne University, Kyushu University, dan University of the Philippines. Kerja sama ini memperkuat pertukaran ilmu, pendekatan material maju, serta perspektif keberlanjutan.
“Dengan dukungan jejaring internasional, riset ini tidak hanya berhenti di laboratorium, tapi siap diterapkan lebih luas dan berkelanjutan,” pungkas Himawan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















