Jakarta, Beritageothermal.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) mencatatkan produksi listrik panas bumi sebesar 2.745 gigawatt hour (GWh) sepanjang semester I 2026. Realisasi tersebut meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2.416 GWh, sekaligus menjadi salah satu capaian produksi tertinggi perseroan pada paruh pertama tahun ini.
Peningkatan produksi listrik tersebut menjadi motor utama pertumbuhan kinerja perusahaan. Seiring naiknya volume listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), PGE juga membukukan pendapatan sebesar US$235,027 juta, atau tumbuh 14,7 persen dibandingkan semester I 2025 yang sebesar US$204,850 juta.
Direktur Keuangan PGE, Fransetya Hasudungan Hutabarat, mengatakan kenaikan produksi merupakan hasil dari strategi perusahaan dalam menjaga keandalan pembangkit serta meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasional.
“Pertumbuhan pendapatan juga tercermin pada laba bersih Perseroan yang naik 15,48 persen secara tahunan menjadi US$79,605 juta, ditopang oleh pertumbuhan produksi dan keandalan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), serta keuntungan selisih kurs yang positif. Adapun total produksi PGE sepanjang semester I-2026 mencapai 2.745 gigawatt hour (GWh), meningkat 13,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2.416 GWh. Pertumbuhan yang kami catatkan di kuartal ini bukan sekadar angka di atas kertas. Ini adalah bekal bagi PGE untuk terus memperluas manfaat panas bumi bagi masyarakat sekaligus mendorong transisi energi nasional,” ujar Fransetya.
Meningkatnya produksi listrik panas bumi juga berdampak pada kinerja keuangan perseroan. Hingga akhir Juni 2026, PGE membukukan laba bersih sebesar US$79,605 juta, naik 15,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, fundamental perusahaan tetap terjaga. Total aset PGE tercatat sebesar US$2,967 miliar, dengan ekuitas mencapai US$2,006 miliar dan kas serta setara kas sebesar US$656,634 juta. Sementara itu, liabilitas turun 2,80 persen menjadi US$961,184 juta, mencerminkan struktur permodalan yang semakin kuat.
Kelola 70 Persen Kapasitas Panas Bumi Nasional
PGE saat ini mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dengan total kapasitas terpasang 727 megawatt (MW) atau sekitar 70 persen dari kapasitas panas bumi nasional. Perseroan juga menargetkan kapasitas terpasang meningkat menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan mencapai 1,8 GW pada 2033 guna mendukung target transisi energi pemerintah.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, mengatakan peningkatan produksi pada semester I 2026 bertepatan dengan momentum 100 tahun pengembangan panas bumi di Indonesia, yang menjadi pengingat pentingnya pemanfaatan energi geothermal sebagai sumber listrik bersih.
“Momentum 100 tahun ini adalah pengingat betapa luar biasanya kekayaan alam Nusantara. Seratus tahun lalu, perjalanan ini dimulai dari eksplorasi di Kamojang, Jawa Barat. Hari ini, PGE bangga menjadi penggerak utama yang mengelola sekitar 70 persen energi panas bumi di seluruh Indonesia, dan Kamojang menjadi bagian penting dari kami. Bagi saya dan seluruh perwira PGE, satu abad ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan juga momentum untuk membuktikan bahwa energi bersih nan melimpah yang kita miliki ini siap mendukung ketahanan energi negeri,” kata Ahmad Yani.
Dengan meningkatnya produksi listrik panas bumi pada semester I 2026, PGE optimistis dapat terus memperkuat kontribusinya terhadap penyediaan energi bersih nasional sekaligus mendukung target pemerintah dalam meningkatkan porsi energi baru terbarukan di sektor ketenagalistrikan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















