Jakarta, Berita Geothermal – Perkembangan energi panas bumi global terus menunjukkan tren positif, meski belum mengalami lonjakan signifikan. Hingga akhir 2025, total kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi dunia tercatat mencapai 17.173 megawatt (MW).
Pertumbuhan ini didorong oleh penambahan unit-unit baru serta pembaruan data di sejumlah pasar utama. Meski demikian, laju ekspansi industri ini masih tergolong bertahap.
Indonesia Catat Pertumbuhan Tertinggi
Dalam daftar 10 negara dengan kapasitas panas bumi terbesar dunia, Amerika Serikat tetap mempertahankan posisi teratas dengan kapasitas mencapai 3.953 MW. Tidak ada tambahan pembangkit besar sepanjang 2025, hanya penyesuaian teknis.
Sementara itu, Indonesia menempati posisi kedua dengan kapasitas 2.742 MW sekaligus mencatat pertumbuhan paling signifikan tahun ini. Penambahan berasal dari sejumlah proyek baru seperti Ijen Unit 1, Lumut Balai Unit 2, serta unit biner di Salak.
Di posisi ketiga, Filipina mencatat kapasitas 2.034 MW setelah menambah fasilitas biner di kompleks BacMan II.
Adapun Turki berada di urutan keempat dengan 1.797 MW, didorong oleh tiga pembangkit baru yang mulai beroperasi sepanjang 2025.
Berikut daftar lengkap 10 besar negara dengan kapasitas panas bumi terbesar dunia per akhir 2025:
• Amerika Serikat – 3.953 MW
• Indonesia – 2.742 MW
• Filipina – 2.034 MW
• Turki – 1.797 MW
• Selandia Baru – 1.259 MW
• Kenya – 980 MW
• Meksiko – 976 MW
• Italia – 916 MW
• Islandia – 808 MW
• Jepang – 607 MW
Sepuluh negara tersebut secara kolektif menyumbang lebih dari 93 persen kapasitas panas bumi global, menandakan bahwa pengembangan sektor ini masih terkonsentrasi pada sejumlah negara dengan infrastruktur matang.
Pertumbuhan Stabil, Namun Masih Terbatas
Sepanjang 2025, kapasitas global hanya bertambah sekitar 223 MW. Namun, jika dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, peningkatan terlihat lebih tinggi akibat adanya koreksi data, termasuk dimasukkannya proyek Te Huka Unit 3 di Selandia Baru.
Sebagian besar penambahan kapasitas berasal dari pengembangan lanjutan (ekspansi) proyek yang sudah ada, bukan dari pembukaan lapangan baru berskala besar.
Di kawasan Amerika Tengah dan Karibia, aktivitas pengembangan tetap berjalan. El Salvador menambah unit biner 8 MW di lapangan Berlin. Sementara itu, proyek panas bumi di Dominika ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2026.
Teknologi Baru Mulai Berkembang
Perkembangan teknologi panas bumi modern belum sepenuhnya tercermin dalam kapasitas terpasang global. Teknologi seperti Enhanced Geothermal Systems (EGS) dan Advanced Geothermal Systems (AGS) masih berada dalam tahap awal implementasi.
Sejumlah perusahaan energi mulai mengembangkan proyek berbasis teknologi baru, termasuk sistem loop tertutup dan pembangkit EGS skala komersial yang ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat.
Prospek 2026 dan Seterusnya
Ke depan, industri panas bumi diproyeksikan masih akan tumbuh secara bertahap pada 2026, seiring mulai beroperasinya proyek-proyek berbasis teknologi baru. Namun, peningkatan kapasitas global yang lebih signifikan diperkirakan baru akan terlihat setelah 2027.
Meski menghadapi tantangan seperti pembiayaan, risiko pengeboran, serta lamanya waktu pengembangan proyek, energi panas bumi tetap menjadi salah satu pilar penting dalam transisi menuju energi bersih global.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















