Jakarta, Berita Geothermal – PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan pendapatan konsolidasian sebesar US$605 juta sepanjang 2025. Secara tahunan, angka tersebut tumbuh 1,4%.
Jika dikonversi ke rupiah, nilai tersebut setara sekitar Rp9,2 triliun hingga Rp10,2 triliun, dengan asumsi kurs di kisaran Rp15.200 sampai Rp16.900 per dolar AS.
Sebagai gambaran, dengan kurs Rp16.900 per dolar AS, maka perhitungan kasarnya mencapai Rp10,2 triliun. Sementara dalam konteks laporan sebelumnya, nilai US$605 juta pernah setara sekitar Rp9,2 triliun.
Kinerja ini terutama ditopang oleh stabilnya produksi listrik dari sektor panas bumi, termasuk kontribusi dari Unit Binary Salak. Di sisi lain, segmen pembangkit listrik tenaga angin masih menghadapi tekanan dibandingkan tahun sebelumnya.
CEO Barito Renewables, Hendra Soetjipto Tan, mengatakan portofolio panas bumi menjadi tulang punggung kinerja perseroan. Selain itu, proyek retrofit Salak yang rampung pada 2025 turut memperkuat kapasitas pembangkit.
“Didukung oleh pengelolaan biaya yang disiplin serta penurunan beban bunga setelah inisiatif optimalisasi utang yang kami lakukan, Perseroan berhasil mencatatkan margin yang lebih kuat dan peningkatan profitabilitas. Ke depannya, kami tetap fokus untuk melanjutkan proyek-proyek ekspansi serta memperkuat portofolio kami.” Jelas Hendra dalam keterangan persnya, Senin (23/3/2026).
Dari sisi profitabilitas, BREN mencatat EBITDA sebesar US$518 juta dengan margin 85,6%. Sementara laba bersih setelah pajak mencapai US$165 juta atau tumbuh 6,5% dibandingkan tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut ditopang oleh kinerja operasional yang lebih solid serta penurunan biaya pendanaan setelah optimalisasi utang.
Secara operasional, BREN mencatat sejumlah capaian penting sepanjang 2025. Proyek retrofit Salak yang selesai pada kuartal III menambah kapasitas sebesar 7,7 MW, melampaui target awal.
Dengan tambahan tersebut, total kapasitas terpasang bruto panas bumi BREN mencapai 910 MW hingga akhir 2025, atau naik 24 MW dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, perseroan juga menyelesaikan dua sumur eksplorasi di prospek Hamiding pada Desember 2025. Hasilnya mengonfirmasi potensi sumber daya panas bumi sekitar 55–60 MW.
Memasuki 2026, proyek retrofit Wayang Windu telah rampung pada kuartal pertama dan diharapkan semakin meningkatkan kinerja pembangkit.
Ke depan, BREN masih melanjutkan pengembangan Salak Unit 7 dan Wayang Windu Unit 3 yang ditargetkan beroperasi komersial pada akhir 2026.
Dengan tambahan proyek tersebut, kapasitas panas bumi BREN diperkirakan menembus lebih dari 1 GW, memperkuat posisi perseroan di sektor energi terbarukan nasional.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















