Berita Geothermal – Kabupaten Ngada di jantung Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, menyimpan keindahan dan keajaiban yang tak lekang oleh waktu.
Rindangnya hutan bambu, semerbak kopi Arabika Bajawa, kampung-kampung adat yang lestari, serta sumber air panas alami dan energi panas bumi menjadikan Ngada sebagai destinasi yang tak hanya eksotis, tapi juga penuh makna ekologis dan budaya.
Citra memikat itu akan diperkenalkan lebih luas ke dunia melalui penyelenggaraan Wolobobo Ngada Festival 2025. Festival tahunan ini menjadi panggung bagi potensi Ngada, sekaligus digadang-gadang masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2025 oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Mengangkat tiga tema utama—Kopi, Bambu, dan Tenun—festival ini menyajikan sintesa budaya dan kekayaan alam Ngada yang telah harum hingga mancanegara. Festival akan digelar selama tiga hari, dari 7 hingga 9 Agustus 2025, dan melibatkan masyarakat luas, seniman, pelaku UMKM, hingga penggiat sektor pertanian, peternakan, perikanan, dan pariwisata.
Panggung Kultural di Tengah Alam Panas Bumi
Festival ini berlangsung di tiga lokasi utama: Taman Kartini Bajawa, Kebun Raya Wolobobo, dan Kampus Bambu Turetogo di Desa Wogo, Kecamatan Golewa. Lokasi-lokasi ini tak hanya menawarkan lanskap menawan, tetapi juga dekat dengan lapangan panas bumi Mataloko yang kini dalam proses pemanfaatan menjadi energi listrik.
Festival dibuka dengan Karnaval Budaya, Minum Kopi Bajawa bersama, Fashion Show, Konferensi Kopi, serta hiburan musik yang memikat. Hari kedua akan dimeriahkan oleh kegiatan Wolobobo Mountain Walk, sebuah petualangan menyusuri alam pegunungan yang sejuk dan berpanorama dramatis.
Pada hari ketiga, pengunjung bisa menikmati Pasar Napubheto Turetogo, lengkap dengan edukasi dan talkshow seputar bambu, wisata belanja, dan interaksi langsung dengan para perajin lokal. Expo Produk Unggulan dan penutupan meriah akan mengakhiri festival ini dengan semarak.
Festival ini mengambil nama gunung eksotis di sebelah Mataloko: Wolobobo, yang lebih dikenal sebagai Bukit Wolobobo. Gunung ini menjadi simbol keagungan alam Ngada. Terletak di ketinggian sekitar 1.500 mdpl, kawasan ini menjadi bagian dari Kebun Raya Wolobobo, kebun raya daerah ke-41 di Indonesia.
Wolobobo bukan sekadar bukit, tapi laboratorium alam yang menyatukan fungsi konservasi, penelitian, rekreasi, dan eduwisata. Lima zona—dari konservasi hingga wisata alam—disiapkan untuk memperkuat peran kawasan ini sebagai pusat pembelajaran ekologi dan pelestarian hayati.
Panas Bumi dan Desa Adat
Tak jauh dari pusat festival, PLTP Mataloko—proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi yang dikembangkan oleh PT PLN (Persero)—terus menunjukkan kemajuan. Hingga April 2025 lalu, progres fisik proyek telah mencapai 79,57 persen, termasuk pembangunan beberapa wellpad utama.
Meski belum rampung, manfaat PLTP ini sudah terasa. Bersama program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PLN UIP Nusra, kawasan Desa Adat Wogo turut ditata ulang untuk menyambut Festival Wolobobo 2025.
Fasilitas publik seperti ruang informasi budaya, MCK, hingga lapak UMKM direnovasi demi menunjang kenyamanan wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.
Desa Wogo yang sempat dikunjungi Wakil Menteri setahun sebelumnya kini bertransformasi menjadi pusat wisata budaya dan edukasi.
PLN tak hanya hadir sebagai penyedia listrik, tapi juga sebagai bagian dari komunitas yang menjaga warisan leluhur melalui gotong royong dan inovasi.
Alhasil, Festival Wolobobo 2025 bukan hanya agenda hiburan, tapi juga momentum strategis membangun masa depan Ngada.
Dengan energi panas bumi yang bersih, kekayaan budaya yang lestari, dan masyarakat yang kreatif, Ngada bersiap menorehkan dirinya sebagai permata baru pariwisata Indonesia Timur—hangat, menawan, dan sarat keajaiban.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















