Ternate, Beritageothermal.com – PT Talaga Rano Geothermal resmi memulai tahapan awal pengembangan proyek panas bumi di kawasan Telaga Rano, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, setelah mengantongi izin eksplorasi dari pemerintah. Proyek energi baru terbarukan (EBT) ini diharapkan menjadi salah satu investasi strategis yang mampu memperkuat pasokan listrik di Maluku Utara sekaligus mendukung target transisi energi nasional.
Langkah awal pengembangan ditandai dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) dan sosialisasi kepada para pemangku kepentingan yang dibuka oleh Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, di Bela Hotel Ternate, Rabu (22/7/2026).
Meski telah memasuki tahap pengembangan, proyek panas bumi Telaga Rano sebelumnya sempat menjadi sorotan publik. Sejumlah isu beredar, mulai dari dugaan adanya keterlibatan investor Israel hingga kekhawatiran masyarakat terhadap potensi dampak lingkungan, khususnya terhadap sumber mata air di sekitar kawasan Telaga Rano.
Bagian Perizinan dan Pengadaan Lahan PT Talaga Rano Geothermal, Ferry, menjelaskan bahwa perusahaan baru memperoleh izin eksplorasi pada 11 Juni 2026. Selama proses perizinan berlangsung, perusahaan memilih tidak menanggapi berbagai isu yang berkembang karena fokus menyelesaikan seluruh kewajiban administratif yang dipersyaratkan pemerintah.
“Kami baru memperoleh izin pada 11 Juni 2026. Sebelum itu memang banyak isu negatif yang berkembang, tetapi kami memilih fokus memenuhi seluruh komitmen perizinan, termasuk penyetoran jaminan eksplorasi sebesar 11 juta dolar AS. Setelah izin keluar, kami langsung bergerak cepat melakukan sosialisasi di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten,” ujar Ferry.
PT Talaga Rano Geothermal Bantah Kabar Investasi Israel
Ferry juga menepis isu yang mengaitkan proyek panas bumi Telaga Rano dengan investasi asal Israel. Menurutnya, tudingan tersebut tidak memiliki dasar karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
Ia menjelaskan, perusahaan induk PT Talaga Rano Geothermal merupakan bagian dari korporasi yang sahamnya tercatat di Bursa Efek New York (NYSE). Sebagai perusahaan publik, kepemilikan saham dapat dimiliki oleh siapa pun melalui mekanisme pasar modal tanpa mencerminkan kepemilikan atau kendali suatu negara.
“Kalau perusahaan sudah menjadi perusahaan terbuka, siapa pun bisa membeli sahamnya melalui bursa. Itu tidak berarti perusahaan tersebut dimiliki atau dikendalikan oleh negara tertentu. Jadi isu yang menghubungkan proyek ini dengan Israel tidak benar,” katanya.
Perusahaan Pastikan Eksplorasi Panas Bumi Tidak Ganggu Sumber Air
Selain menjawab isu kepemilikan saham, perusahaan juga memberikan penjelasan mengenai aspek lingkungan yang menjadi perhatian masyarakat.
Ferry menegaskan bahwa eksplorasi panas bumi memiliki karakteristik yang berbeda dengan aktivitas pertambangan mineral maupun batu bara. Menurutnya, fluida panas bumi berasal dari kedalaman sekitar 1.000 hingga 2.000 meter di bawah permukaan tanah, sehingga tidak berhubungan langsung dengan sumber air yang dimanfaatkan masyarakat.
“Air yang dimanfaatkan masyarakat berada di permukaan, sedangkan panas bumi diambil dari kedalaman yang sangat jauh dan terisolasi oleh lapisan batuan. Secara teknis tidak akan mencemari ataupun mengganggu sumber air permukaan,” jelasnya.
Kebutuhan Lahan Relatif Kecil Dibanding Pertambangan
PT Talaga Rano Geothermal juga memastikan pengembangan proyek ini membutuhkan lahan yang jauh lebih kecil dibandingkan industri pertambangan.
Ferry mengatakan, satu titik pengeboran hanya memerlukan lahan sekitar 1 hingga 2 hektare sebagai lokasi berdirinya rig pengeboran. Penambahan pembukaan lahan hanya dilakukan apabila dibutuhkan pembangunan akses menuju lokasi pengeboran.
Ia memperkirakan kebutuhan lahan pembangkit panas bumi sekitar 1 hektare untuk setiap 1 megawatt (MW) kapasitas terpasang. Dengan target pengembangan sebesar 40 MW, total lahan yang diperkirakan digunakan sekitar 40 hektare.
“Dengan target pengembangan sekitar 40 megawatt di Telaga Rano, kebutuhan lahannya diperkirakan sekitar 40 hektare, jauh lebih kecil dibandingkan pembukaan lahan pada tambang mineral,” kata Ferry.
Diharapkan Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Melalui kegiatan sosialisasi tersebut, pemerintah daerah bersama PT Talaga Rano Geothermal berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai aspek teknis maupun lingkungan dari proyek panas bumi Telaga Rano.
Dengan penyampaian informasi berbasis data dan kajian ilmiah, berbagai polemik yang berkembang diharapkan dapat dijawab secara objektif. Proyek panas bumi Telaga Rano sendiri diproyeksikan menjadi salah satu proyek energi bersih strategis di kawasan timur Indonesia yang berkontribusi terhadap peningkatan bauran energi baru terbarukan serta memperkuat ketahanan energi nasional.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















