Mataram, Beritageothermal.com – PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) menegaskan komitmennya untuk mengedepankan komunikasi terbuka dalam pengembangan proyek panas bumi di Flores dan Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Komitmen itu ditunjukkan melalui keikutsertaan PLN dalam Forum Komunikasi Para Pemangku Kepentingan Proyek Panas Bumi Flores dan Lembata yang digelar di Kampus II IFTK Ledalero, Maumere, Kamis (23/7).
Forum tersebut mempertemukan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga perwakilan berbagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap pengembangan energi panas bumi di wilayah Flores dan Lembata.
Dalam forum itu, General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra RDW. Manurung, didampingi Vice President Panas Bumi PT PLN (Persero) Kantor Pusat Maternikus Tigor M. Situmorang serta Manager UPP Nusra 3 Agung Triwibowo, hadir secara langsung untuk mendengarkan pandangan masyarakat mengenai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko dan PLTP Ulumbu.
Diskusi berlangsung terbuka. Berbagai isu yang mengemuka tidak hanya menyangkut aspek teknis proyek, tetapi juga persoalan lingkungan, keberlanjutan sumber daya air, tanah adat, kondisi sosial budaya masyarakat, hingga manfaat ekonomi yang diharapkan dapat dirasakan masyarakat sekitar.
Selain mendengar aspirasi, PLN juga memaparkan perkembangan proyek panas bumi di Flores dan Lembata, termasuk langkah-langkah pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya air, serta upaya mitigasi yang telah dan akan terus dilakukan selama proses pembangunan berlangsung.
Vice President Panas Bumi PT PLN (Persero) Kantor Pusat, Maternikus Tigor M. Situmorang, mengatakan seluruh masukan yang disampaikan dalam forum menjadi bagian penting dalam penyempurnaan pelaksanaan proyek.
“Pengembangan panas bumi merupakan proses yang memerlukan kolaborasi dan komunikasi yang berkelanjutan dengan seluruh pemangku kepentingan. Setiap masukan yang kami terima menjadi bahan evaluasi untuk terus menyempurnakan pelaksanaan proyek, sehingga pengembangannya dapat berjalan sesuai ketentuan, memperhatikan aspek lingkungan dan sosial, serta memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat,” ujar Tigor.
Hal senada disampaikan Manager UPP Nusra 3, Agung Triwibowo. Menurutnya, keberhasilan pengembangan PLTP Ulumbu sangat bergantung pada terbangunnya komunikasi yang transparan dengan masyarakat.
“PLN berkomitmen untuk terus membuka ruang dialog sehingga setiap isu maupun pertanyaan dari masyarakat dapat dijawab secara terbuka, berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Kami meyakini bahwa komunikasi yang baik akan memperkuat kepercayaan dan mendukung kelancaran pelaksanaan proyek,” kata Agung.
Sementara itu, General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, RDW. Manurung, menegaskan bahwa dialog dengan masyarakat bukan sekadar agenda pendukung, melainkan bagian dari setiap tahapan pengembangan proyek panas bumi.
“Kami hadir untuk mendengarkan secara langsung berbagai aspirasi, masukan, maupun kekhawatiran yang berkembang di masyarakat. Setiap pandangan menjadi bahan evaluasi bagi PLN agar pengembangan panas bumi dapat berjalan secara lebih baik, transparan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Manurung.
Menurut Manurung, keberhasilan proyek panas bumi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan membangun kepercayaan dan menjaga hubungan baik dengan masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan.
“Dalam setiap tahapan proyek, PLN terus mengedepankan komunikasi yang terbuka melalui sosialisasi, Forum Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (FPIC), serta dialog bersama pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan masyarakat adat, termasuk melalui pertemuan di rumah-rumah adat. Kami meyakini bahwa pengembangan energi panas bumi harus berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan, penghormatan terhadap nilai-nilai sosial budaya, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tambah Manurung.
PLN UIP Nusra menyatakan akan terus menghargai setiap pandangan, rekomendasi, maupun kritik yang muncul dari masyarakat sebagai bagian dari proses evaluasi. Perusahaan juga memastikan seluruh tahapan pengembangan proyek panas bumi akan dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku dengan tetap memperhatikan aspek sosial, lingkungan, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, PLN berharap pengembangan energi panas bumi di Flores dan Lembata tidak hanya mendukung transisi energi nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















