Semarang, Beritageothermal.com – Pengembangan panas bumi di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, kembali menjadi pembahasan. Di tengah kekhawatiran mengenai lingkungan dan keberadaan Candi Gedong Songo, pakar geothermal Universitas Diponegoro (Undip) Prof. Agus Setyawan memaparkan sejumlah hasil kajian teknis mengenai kawasan tersebut.
Prof. Agus yang merupakan Guru Besar bidang Geofisika dan Geothermal Undip menyampaikan penjelasan itu dalam Dialog Stakeholder Panas Bumi Gunung Ungaran: Manfaat, Risiko dan Suara Masyarakat di Kampus FISIP Undip Semarang, Kamis (17/9/2026).
Kajian mengenai kondisi panas bumi Gunung Ungaran sebelumnya telah dilakukan Agus pada periode 2002-2007. Menurut dia, sejumlah kekhawatiran yang berkembang perlu ditempatkan dalam konteks kondisi geologi dan teknologi pengembangan panas bumi.
Salah satu hal yang dia soroti adalah penggunaan istilah risiko tinggi dalam proyek panas bumi. Risiko tersebut, kata Agus, tidak otomatis berarti adanya ancaman keselamatan bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Risiko terbesar justru berada di sisi investasi
Dalam pengembangan panas bumi, pengeboran menjadi salah satu tahapan yang membutuhkan biaya besar. Namun, pengeboran juga memiliki ketidakpastian karena keberadaan fluida panas bumi di bawah permukaan harus dibuktikan melalui kegiatan eksplorasi.
Agus menjelaskan, apabila sumur yang dibor tidak menemukan fluida panas bumi sebagaimana yang diharapkan, kerugian finansial akan menjadi konsekuensi bagi pengembang.
“Ketika melakukan pengeboran (eksploitasi) dan ternyata tidak mendapatkan fluida panas bumi, maka PLN akan kehilangan investasi sekitar 10 juta Dolar AS atau setara Rp150-an miliar per sumur. Jadi, PLN sendiri sebenarnya yang ‘deg-degan’ dan harus sangat berhati-hati menentukan titik bor, bukan masyarakat yang terancam,” ujarnya.
Dengan demikian, menurut Agus, istilah risiko tinggi dalam konteks tersebut perlu dibedakan antara risiko investasi dengan risiko terhadap keselamatan masyarakat.
Eksplorasi diawali dengan pemetaan kondisi bawah tanah
Agus juga menjelaskan bahwa pengembangan panas bumi tidak langsung dimulai dengan pengeboran. Sebelum menentukan titik sumur, dilakukan serangkaian survei untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi bawah permukaan.
Dia mengibaratkan proses tersebut seperti pemeriksaan kondisi tubuh sebelum tindakan medis dilakukan. Data hasil survei kemudian menjadi salah satu dasar untuk menentukan lokasi yang tepat bagi kegiatan pengeboran.
Penentuan lokasi menjadi penting karena struktur bawah permukaan Gunung Ungaran memiliki karakteristik geologi tertentu, termasuk keberadaan lapisan air tanah dan reservoir panas bumi pada kedalaman yang berbeda.
Mengapa sumber air warga disebut tidak berada di zona yang sama?
Isu air menjadi salah satu perhatian masyarakat dalam rencana pengembangan panas bumi Gunung Ungaran.
Agus menerangkan bahwa air tanah yang dimanfaatkan masyarakat berada pada lapisan yang relatif dangkal. Sementara reservoir panas bumi berada jauh di bawah permukaan.
Ia memperkirakan akuifer air tanah berada pada kedalaman puluhan hingga ratusan meter. Adapun reservoir geothermal diperkirakan berada sekitar 1,5-2,5 kilometer di bawah permukaan tanah.
“Secara vertikal, kedua zona ini sangat tidak berhubungan. Selain itu, sisa air atau fluida panas bumi yang telah digunakan untuk memutar turbin akan langsung dimasukkan kembali ke dalam bumi melalui pipa reinjeksi khusus langsung menuju area reservoir. Jadi, tidak ada pencemaran air tanah,” tegasnya.
Sistem reinjeksi tersebut merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan fluida dalam pengembangan panas bumi. Fluida yang telah digunakan dalam proses pembangkitan tidak kemudian dibuang begitu saja ke lingkungan, melainkan dikembalikan ke reservoir melalui sumur reinjeksi.
Candi Gedong Songo dan aktivitas pengeboran
Keberadaan Candi Gedong Songo juga menjadi perhatian dalam pembahasan rencana panas bumi Gunung Ungaran.
Kekhawatiran yang muncul salah satunya berkaitan dengan kemungkinan aktivitas pengeboran memberikan pengaruh terhadap struktur bangunan cagar budaya tersebut.
Untuk menjelaskan persoalan itu, Agus membandingkannya dengan aktivitas panas bumi di Dieng. Menurutnya, pengeboran di kawasan tersebut pernah dilakukan dalam jarak sekitar 200 meter dari candi dan tidak menyebabkan kerusakan terhadap konstruksi cagar budaya.
Kondisi batuan di Gunung Ungaran juga menjadi faktor yang menurut Agus perlu diperhatikan.
“Apalagi batuan dasar (bedrock) di Gunung Ungaran ini jauh lebih keras, didominasi oleh lava andesit dan basaltik. Ditambah lagi, berdasarkan data simulasi kami, posisi reservoir panas bumi tidak berada di bawah kompleks candi, melainkan lebih bergeser ke arah utara,” jelasnya.
Teknologi pengeboran yang berkembang saat ini juga memungkinkan arah sumur diatur sesuai desain yang telah ditentukan. Salah satunya melalui metode directional drilling, yakni teknik pengeboran dengan lintasan yang dapat diarahkan menuju target reservoir.
Dengan metode tersebut, pengeboran tidak selalu harus dilakukan dalam garis lurus secara vertikal dari titik permukaan menuju reservoir.
Potensi listrik Gunung Ungaran diperkirakan 40-44 MW
Selain membahas aspek lingkungan dan sosial, Agus turut memaparkan potensi energi yang tersimpan di kawasan Gunung Ungaran.
Berdasarkan simulasi numerik yang dilakukan menggunakan komputasi ilmiah, potensi panas bumi di kawasan tersebut diperkirakan berada pada kisaran 40-44 MW.
Angka tersebut menjadi penting karena potensi tersebut mendekati besaran target penugasan pemerintah kepada PLN, yakni 55 MW.
Bagi Agus, pengembangan panas bumi juga berkaitan dengan kebutuhan energi dalam jangka panjang. Karena itu, perbedaan pandangan yang muncul di masyarakat dinilainya dapat menjadi ruang untuk mempertemukan kepentingan energi, lingkungan, pemerintah, pengembang, dan masyarakat.
“Mari kita sengkuyung (gotong royong) dan rengko bareng-bareng (merangkul bersama) antara PLN, pemerintah, dan masyarakat. Ini adalah investasi energi bersih demi menyelamatkan masa depan anak cucu kita hingga 100 tahun ke depan dari krisis energi fosil,” pungkasnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini














