TANGGAMUS – Beritageothermal.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) terus mengembangkan potensi panas bumi di Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Selain melakukan pengeboran sumur baru, perusahaan menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 85 megawatt (MW) melalui pengembangan teknologi binary unit dan eksplorasi wilayah Gunung Tiga.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan listrik berbasis energi bersih di Lampung sekaligus meningkatkan pemanfaatan panas bumi yang selama ini menjadi salah satu sumber energi andalan daerah.
Di kawasan perbukitan Ulubelu, aktivitas pengeboran berlangsung di Cluster T, wilayah kerja panas bumi Gunung Wayang, Pekon Ngarip, Tanggamus. Di lokasi dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), rig pengeboran GW121 setinggi 45 meter digunakan untuk menembus lapisan bumi guna mencari sumber panas yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik.
Sumur T1 menjadi sumur pertama dari empat sumur baru yang ditargetkan dikembangkan di klaster tersebut. Pengeboran sumur ini direncanakan mencapai kedalaman 2.100 meter untuk menemukan reservoir bersuhu tinggi yang menghasilkan uap bagi pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP).
Berdasarkan data yang disampaikan dalam keterangan pengembangan lapangan, wilayah kerja PGE Area Ulubelu mencakup 92.064 hektare dengan 62 sumur telah beroperasi.
PLTP Ulubelu Berpotensi Naik Menjadi 305 MW
Saat ini, PLTP Ulubelu memiliki kapasitas terpasang 220 MW. Dari jumlah tersebut, 115 MW dioperasikan PT PLN Indonesia Power, sedangkan 105 MW lainnya dikelola langsung oleh PGE.
Untuk meningkatkan kapasitas produksi listrik, pengembangan dilakukan melalui dua jalur, yakni penambahan kapasitas dari teknologi binary unit sebesar 30 MW dan eksplorasi panas bumi di wilayah Gunung Tiga dengan potensi tambahan 55 MW.
Jika kedua rencana tersebut terealisasi sesuai target, total tambahan kapasitas yang dipersiapkan mencapai 85 MW. Dengan demikian, kapasitas PLTP Ulubelu diproyeksikan meningkat dari 220 MW menjadi 305 MW.
Penambahan kapasitas tersebut berpotensi memperkuat pasokan listrik di Lampung, sekaligus mengoptimalkan sumber energi domestik yang dapat menghasilkan listrik secara berkelanjutan.
PGE Kembangkan Binary Unit dari Sisa Panas Geotermal
General Manager PGE Area Ulubelu Edi Sudarmadi menjelaskan, salah satu peluang peningkatan produksi listrik berasal dari pemanfaatan panas yang tersisa setelah proses pembangkitan utama.
Dalam proses konvensional, air panas geothermal dengan temperatur sekitar 170 derajat Celsius yang tersisa dari proses produksi umumnya diinjeksikan kembali ke dalam bumi. Padahal, menurut Edi, panas tersebut masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi tambahan.
PGE bersama PLN pun membentuk perusahaan patungan atau joint venture untuk mengembangkan teknologi binary unit. Teknologi ini dirancang untuk mengambil energi dari air panas sebelum air tersebut dikembalikan ke reservoir geothermal.
Melalui skema tersebut, energi panas diekstraksi ketika temperatur fluida turun dari sekitar 170 derajat Celsius menjadi 110 derajat Celsius sebelum proses reinjeksi. Pemanfaatan rentang temperatur itu ditargetkan menghasilkan tambahan listrik sebesar 30 MW.
Pengembangan teknologi binary unit diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya panas bumi tanpa hanya bergantung pada penambahan sumur produksi baru.
Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mengoptimalkan energi panas yang masih tersedia dalam sistem pembangkit.
Uji Coba Hidrogen Hijau dari Panas Bumi
Selain meningkatkan produksi listrik, PGE Area Ulubelu mengembangkan inovasi hidrogen hijau atau green hydrogen. Pengembangan tersebut masih berada dalam tahap uji coba melalui fasilitas pilot plant.
Edi mengatakan, inovasi tersebut diarahkan untuk memanfaatkan potensi energi geothermal dalam pengembangan hidrogen sebagai salah satu alternatif energi bersih.
Dalam uji coba yang dijelaskan perusahaan, air panas geothermal dialirkan dalam skala kecil sekitar 15 kilogram per jam untuk mendukung proses pengembangan hidrogen. Proses pemisahan molekul air ditujukan untuk memperoleh hidrogen, sedangkan oksigen dilepaskan.
Menurut Edi, pemanfaatan tersebut dirancang tanpa mengganggu ketersediaan air permukaan yang digunakan masyarakat.
“Tahap ini masih berstatus pilot plant, di mana pasokan hidrogen hijau disuplai secara gratis untuk kebutuhan internal kilang Pertamina dan pusat riset teknologi inovasi. Ke depannya, seiring pematangan aspek keselamatan dan regulasi, inovasi energi bersih ini diproyeksikan untuk diperluas guna melayani kebutuhan komersial industri lain,” kata dia.
Pengembangan hidrogen hijau tersebut masih membutuhkan pematangan teknologi, aspek keselamatan, serta regulasi sebelum dapat diperluas untuk memenuhi kebutuhan industri secara komersial.
Jika dikembangkan lebih lanjut, inovasi ini berpotensi memperluas pemanfaatan panas bumi, tidak hanya untuk menghasilkan listrik, tetapi juga untuk mendukung pengembangan teknologi energi rendah karbon.
Gubernur Lampung Sebut Ulubelu Jadi Tulang Punggung Energi Bersih
Pemanfaatan panas bumi Ulubelu juga memiliki peran strategis bagi sistem kelistrikan daerah. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyebut kontribusi PLTP Ulubelu mencapai sekitar 25 persen dari kebutuhan listrik di provinsi tersebut.
“Selain menjawab kebutuhan energi, kontribusi ini juga mendukung langkah kita dalam menurunkan emisi karbon serta mewujudkan Lampung dan Indonesia yang lebih ramah lingkungan,” ujar Gubernur Mirza.
Ia menegaskan, pemerintah daerah berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk mendukung pengembangan energi bersih. Pemerintah juga mendorong dunia pendidikan agar generasi muda Lampung memiliki kesempatan mengambil peran dalam transformasi energi.
Dukungan tersebut dinilai penting untuk menghubungkan pengembangan energi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, investasi, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Berbeda dengan pembangkit yang bergantung pada ketersediaan sinar matahari atau kecepatan angin, panas bumi dapat memasok listrik secara stabil selama 24 jam selama kondisi reservoir dan fasilitas pembangkit mendukung operasi.
Karakteristik tersebut menjadikan geothermal sebagai salah satu sumber energi yang berpotensi menopang keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung pengurangan emisi dari sektor energi.
PGE Perluas Manfaat Panas Bumi bagi Masyarakat
Selain mengembangkan pembangkit dan teknologi energi baru, PGE Area Ulubelu mendorong pemanfaatan langsung panas bumi atau Direct Use Geothermal untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Sejumlah inovasi yang dikembangkan antara lain Geothermal Dry House untuk pengeringan kopi, budidaya melon geothermal, serta pupuk organik Geo-Fert yang dikeringkan dengan memanfaatkan sisa panas bumi.
Pemanfaatan langsung tersebut membuka peluang penggunaan energi geothermal di luar sektor ketenagalistrikan. Panas bumi dapat membantu proses produksi, pengolahan hasil pertanian, serta pengembangan komoditas lokal.
Melalui pendekatan ini, pengembangan geothermal tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas listrik, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi di sekitar wilayah operasional.
Dari sisi tata kelola, PGE juga tercatat masuk dalam daftar Top 50 ESG Global versi Sustainalytics, dengan skor risiko ESG 7,1 yang dikategorikan sebagai risiko yang dapat diabaikan (negligible risk), sebagaimana disebutkan dalam materi sumber.
Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi bagian penting dalam pengembangan energi berkelanjutan, terutama untuk memastikan kegiatan operasional memperhatikan aspek lingkungan dan manfaat bagi masyarakat.
Kapasitas Panas Bumi PGE Capai 1.932 MW
Di tingkat nasional, PGE mengelola kapasitas energi panas bumi sebesar 1.932 MW. Kapasitas tersebut terdiri atas 727 MW yang dioperasikan langsung oleh perusahaan dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama atau Joint Operation Contract (JOC) dengan mitra strategis.
Energi panas bumi yang dikelola PGE disebut mampu memasok listrik bagi lebih dari dua juta rumah tangga serta berpotensi mengurangi emisi karbon sekitar 10 juta ton CO₂ per tahun.
Pengembangan Ulubelu menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Dengan rencana tambahan kapasitas 85 MW, penerapan teknologi binary unit, serta uji coba hidrogen hijau, pengembangan panas bumi di Ulubelu diarahkan untuk memberikan manfaat lebih luas bagi ketahanan energi nasional, pengurangan emisi, dan perekonomian masyarakat.
Meski demikian, realisasi penambahan kapasitas tetap bergantung pada keberhasilan pengeboran, kesiapan teknologi, dan tahapan pengembangan proyek. Optimalisasi potensi panas bumi diharapkan dapat memperkuat peran Lampung dalam transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















