NGADA, Beritageothermal.com – Potensi panas bumi di Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) tengah mengembangkan kawasan tersebut menjadi destinasi wisata edukasi berbasis geothermal.
Pengembangan ini membuka peluang baru bagi Desa Wogo, Kecamatan Golewa, terutama dalam mendorong aktivitas ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.
Tokoh Pemuda Kampung Wogo, Hans Bhagi, menyambut baik inisiatif tersebut. Dia berharap kehadiran destinasi baru itu dapat menjadi kesempatan bagi warga setempat untuk terlibat langsung dalam pengelolaan wisata maupun kegiatan usaha pendukung.
Menurut Hans, keterlibatan generasi muda menjadi salah satu hal penting agar pengembangan kawasan panas bumi tidak hanya menghadirkan bangunan dan fasilitas wisata, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
“Senang dengan adanya pembangunan geowisata ini dan berharap programnya berjalan sukses. Kehadiran geowisata tentu menjadi potensi baru bagi Desa Wogo. Harapan kami, anak-anak muda di sini nantinya bisa ikut terlibat dan mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan wisata yang dikembangkan,” ujar Hans.
Dia menilai dukungan berbagai pihak, termasuk PLN, diperlukan agar potensi wisata tersebut dapat dikelola secara berkesinambungan.
Hans juga mengapresiasi program PLN Peduli yang telah memberikan dukungan berupa pembangunan fasilitas, peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan, serta pembentukan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Kami berterima kasih kepada PLN atas berbagai dukungan yang sudah diberikan, baik pembangunan fasilitas maupun pelatihan untuk masyarakat. Apalagi sekarang sudah ada Pokdarwis yang dibentuk. Kami berharap hubungan baik dan kerja sama ini terus berlanjut agar Geowisata Mataloko benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Wogo,” tambahnya.
Geowisata Jadi Alternatif Pemanfaatan Energi Panas Bumi
PLN UIP Nusra menargetkan pengembangan Geowisata Mataloko dapat diselesaikan pada awal 2027. Saat ini, pengerjaan kawasan tersebut telah memasuki tahap akhir.
Konsep yang diusung bukan sekadar menghadirkan tempat kunjungan wisata, melainkan memperkenalkan karakteristik panas bumi kepada masyarakat melalui pendekatan edukasi.
Dengan konsep tersebut, kawasan Mataloko diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran mengenai fenomena geothermal sekaligus memperkenalkan pemanfaatan energi panas bumi sebagai salah satu sumber energi bersih.
Pengembangan ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas nilai manfaat sumber daya alam Flores. Selain mendukung penyediaan listrik, potensi panas bumi dapat dikembangkan untuk mendorong pariwisata dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut rekomendasi Satuan Tugas (Satgas) Geotermal bentukan Pemerintah Provinsi NTT pada 2025. Satgas mendorong agar kawasan manifestasi panas bumi Mataloko dikelola dengan memperhatikan keselamatan, kondisi lingkungan, serta kepentingan masyarakat.
Model pengembangan wisata geothermal juga telah diterapkan di sejumlah wilayah Indonesia. Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengembangkan Desa Wisata Geothermal Kamojang di Jawa Barat dan Geowisata Kopi Ulubelu di Lampung.
Adapun PT Geo Dipa Energi mengembangkan wisata edukasi geothermal di Dieng, Jawa Tengah.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu referensi pengembangan Mataloko agar aktivitas wisata dapat berjalan beriringan dengan edukasi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi warga.
PLN Siapkan Proyek Pembangkit Panas Bumi 20 MW
Di luar pengembangan pariwisata, PLN UIP Nusra juga melanjutkan persiapan pembangunan PLTP Mataloko FTP-2 dengan kapasitas rencana sebesar 20 MW atau 2 x 10 MW.
Proyek pembangkit tersebut membutuhkan sejumlah infrastruktur pendukung untuk memasuki tahapan pengeboran.
PLN telah menyelesaikan pembangunan empat wellpad, jalan akses dengan panjang sekitar delapan kilometer, serta laydown area yang disiapkan untuk menunjang kebutuhan pelaksanaan proyek.
Tahapan berikutnya mencakup penyelesaian kajian Environmental and Social Impact Assessment (ESIA). Kajian ini antara lain membahas rencana pengambilan dan penggunaan air yang diperlukan selama kegiatan pengeboran berlangsung.
Aspek tersebut menjadi perhatian dalam persiapan proyek agar kebutuhan operasional dapat dikaji bersama dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
General Manager PLN UIP Nusra, RDW Manurung, mengatakan pengembangan Geowisata Mataloko merupakan bagian dari strategi PLN dalam menghadirkan nilai tambah dari potensi geothermal di Flores.
Menurutnya, sumber daya panas bumi memiliki peluang pemanfaatan yang lebih luas daripada sekadar pembangkit listrik. Pengembangan sektor wisata dan edukasi dapat menjadi jalur lain untuk menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Potensi panas bumi di Flores sangat besar dan pemanfaatannya tidak hanya terbatas pada pembangkitan energi listrik. Melalui pengembangan Geowisata Mataloko, kami ingin menghadirkan manfaat lain yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, baik melalui kegiatan pariwisata, edukasi, maupun peluang ekonomi bagi warga sekitar. Kami juga terus membuka ruang kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat adat, dan seluruh pemangku kepentingan agar pengembangan kawasan ini dapat dikelola secara berkelanjutan,” ujar Manurung.
Dia menegaskan, pengembangan PLTP Mataloko tetap diarahkan dengan memperhatikan aspek sosial, keselamatan, dan perlindungan lingkungan.
PLN juga berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi Satgas Geotermal Pemerintah Provinsi NTT dalam proses pengembangan proyek tersebut.
Manurung berharap kawasan wisata yang sedang dibangun dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Kabupaten Ngada. Selain menarik kunjungan wisatawan, kawasan itu diharapkan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan produktif.
“Harapan kami, kehadiran geowisata ini nantinya tidak hanya menjadi destinasi wisata baru di Kabupaten Ngada, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mengenai energi panas bumi sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya generasi muda dan Pokdarwis Desa Adat Wogo, kami optimistis manfaat pengembangan panas bumi dapat terus dirasakan secara berkelanjutan,” tutupnya.
Pengembangan Geowisata Mataloko menjadi salah satu upaya menghubungkan pemanfaatan energi panas bumi dengan penguatan ekonomi lokal. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya dilihat dari rampungnya pembangunan kawasan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat Desa Wogo memperoleh kesempatan dan manfaat dari keberadaan destinasi tersebut.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini















