Berita Geothermal – Dua raksasa energi nasional, PT Pertamina (Persero) dan PT PLN (Persero), memperkuat kolaborasi untuk mengakselerasi transisi menuju energi bersih lewat panas bumi.
Melalui anak usahanya masing-masing yakni PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP), kolaborasi pengembangan panas bumi tersebut ditadai dengan penandatanganan Head of Agreement (HoA) yang difasilitasi oleh Danantara Indonesia, pada Selasa (5/8).
Kerja sama ini menargetkan pengembangan panas bumi di 19 proyek dengan kapasitas indikatif mencapai 530 megawatt (MW). Menariknya, proyek-proyek tersebut berada dalam tiga kategori berbeda: Brownfield, Yellowfield, dan Greenfield. Ketiganya merepresentasikan tahapan dan tingkat risiko berbeda dalam pemanfaatan energi panas bumi. Berikut ini penjelasannya:
- Brownfield: Ekspansi Proyek yang Sudah Berjalan
Proyek Brownfield merupakan pengembangan dari lapangan panas bumi yang sudah beroperasi. Karena potensi sumber daya sudah terbukti dan infrastruktur dasar telah tersedia, proyek ini memiliki risiko paling rendah. Investasi tambahan difokuskan pada ekspansi kapasitas atau perbaikan fasilitas, sehingga biayanya relatif lebih efisien. Dengan kata lain, Brownfield adalah strategi untuk memaksimalkan aset yang ada demi peningkatan pasokan listrik berbasis energi bersih.
- Yellowfield: Tahap Eksplorasi
Proyek Yellowfield berada di tahap eksplorasi, di mana lokasi telah ditentukan dan pengeboran sumur eksplorasi sudah dilakukan. Meskipun sebagian infrastruktur sudah tersedia, proyek ini masih memerlukan investasi cukup besar untuk mengembangkan sumber daya secara penuh dan membangun fasilitas tambahan. Risiko Yellowfield berada pada tingkat menengah, namun hasil keberhasilan eksplorasi dapat membuka jalan bagi peningkatan signifikan pasokan energi ramah lingkungan.
- Greenfield: Menemukan Potensi Baru dari Nol
Berbeda dengan dua kategori sebelumnya, proyek Greenfield dimulai dari tahap paling awal. Sumber daya panas bumi di wilayah ini belum pernah dieksplorasi, sehingga perlu dilakukan survei geologi, geokimia, dan geofisika. Proyek ini berisiko paling tinggi sekaligus menuntut modal besar karena infrastruktur dibangun dari nol. Namun, Greenfield juga menawarkan potensi besar untuk menambah kapasitas energi bersih nasional jika eksplorasi berhasil menemukan sumber daya yang signifikan.
Kolaborasi PLN IP dan PGE ini menandai langkah strategis dalam memadukan proyek dengan tingkat risiko rendah hingga tinggi. Dengan demikian, roadmap transisi energi tidak hanya mengandalkan pengembangan lapangan yang sudah terbukti, tetapi juga mendorong eksplorasi wilayah baru.
Sinergi PGE dan PLN IP ini diharapkan memperkuat ketahanan energi nasional menuju era energi bersih berbasis local wisdom panas bumi.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















