Jakarta, Beritageothermal.com – Pengembangan energi panas bumi tidak lagi hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur pembangkit. Di balik operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), sistem digital kini menjadi salah satu penentu kecepatan pengambilan keputusan, efisiensi biaya, hingga keandalan pasokan listrik.
Kesadaran itu mendorong PT Geo Dipa Energi (Persero) melakukan transformasi besar pada sistem manajemen perusahaan. BUMN yang mengelola aset panas bumi strategis nasional tersebut mulai meninggalkan sistem lama (legacy) dan mengintegrasikan seluruh proses bisnis ke dalam platform komputasi awan (cloud) yang terhubung secara menyeluruh.
Perubahan tersebut dilakukan untuk mendukung aktivitas perusahaan yang terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia. Dengan sistem digital yang saling terhubung, proses bisnis diharapkan berlangsung lebih sederhana, data lebih mudah diakses secara real-time, dan keputusan strategis dapat diambil lebih cepat.
Transformasi ini menjadi semakin penting karena Geo Dipa saat ini mengoperasikan PLTP Dieng dan PLTP Patuha dengan total kapasitas terpasang 120 megawatt (MW). Selain itu, perusahaan juga menyimpan cadangan potensi panas bumi lebih dari 800 MW yang masih dapat dikembangkan pada masa mendatang.
President Director PT Geo Dipa Energi (Persero), Yudistian Yunis, mengatakan digitalisasi yang dijalankan perusahaan merupakan bagian dari upaya memperkuat fondasi operasional agar mampu menjawab tantangan bisnis yang semakin kompleks.
“Bagi Geo Dipa, transformasi ini lebih dari sekadar teknologi ini adalah tentang bagaimana kami dapat menjalankan operasional secara lebih cerdas,” ujar Yudistian dikutip Jumat (26/6/2026).
Menurut Yudistian, sistem digital yang baru akan menjadi fondasi pengelolaan perusahaan berbasis data. Kehadiran platform tersebut memungkinkan pengambilan keputusan dilakukan secara lebih presisi sekaligus menjaga efisiensi belanja operasional di tengah agenda pengembangan kapasitas pembangkit.
Integrasi data juga diharapkan menghilangkan hambatan koordinasi antarunit kerja. Seluruh aktivitas bisnis kini berada dalam satu ekosistem digital sehingga setiap informasi dapat dipantau secara lebih cepat dan akurat.
Di sisi lain, transformasi digital dinilai menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda bagi industri energi. Tingginya tuntutan efisiensi, transparansi, serta kemampuan merespons perubahan membuat perusahaan energi memerlukan sistem yang lebih adaptif.
Managing Director SAP Indonesia, Sianto Wongjoyo, mengatakan fondasi digital menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing perusahaan di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat.
“Fondasi digital modern menjadi elemen penting untuk meningkatkan kelincahan dan ketahanan bisnis,” kata Sianto Wongjoyo.
Ia menambahkan, implementasi SAP Cloud ERP membuka jalan menuju konsep autonomous enterprise. Melalui integrasi data otomatis dan dukungan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), perusahaan diyakini dapat mengelola seluruh proses bisnis secara lebih efisien dan responsif terhadap berbagai tantangan operasional.
Geo Dipa mencatat proses transformasi tersebut berlangsung relatif singkat. Migrasi sistem beserta harmonisasi proses bisnis dari sektor hulu hingga hilir berhasil dituntaskan dalam waktu empat bulan.
Implementasi itu dilakukan bersama PT Soltius Indonesia sebagai mitra platinum yang mendampingi proses integrasi teknologi cloud. Kehadiran sistem digital baru tersebut diharapkan menjadi pijakan Geo Dipa dalam memperkuat pengembangan energi panas bumi sekaligus mendukung target transisi energi nasional melalui penyediaan listrik bersih yang andal.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















