Jakarta, Berita Geothermal – Area Kamojang, salah satu ikon sejarah pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia, menjadi sorotan dalam kegiatan Media Site Visit dan Journalist Workshop di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Area Kamojang pada 5-6 November 2025, bersama beberapa media Nasional, salah satunya Berita Geothermal.
Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan energi bersih yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.

Pjs. General Manager PGE Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga, mengatakan bahwa Kamojang merupakan wilayah panas bumi tertua di Indonesia yang hingga kini tetap menjadi tulang punggung penyediaan energi hijau nasional.
“Eksplorasi panas bumi pertama di Indonesia dimulai dari Kamojang. Kami beroperasi sejak 1983 dan hingga hari ini tetap menjadi bukti bahwa energi bersih bukan sekadar konsep, tetapi telah memberikan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat,” ujar Hendrik. Kamis (6/11/2025).
Area Kamojang berada di WKP Kamojang–Darajat, Jawa Barat. Total kapasitas terpasang panas bumi di wilayah ini mencapai 235 MW, dengan estimasi suplai listrik setara kebutuhan 260 ribu rumah tangga. Selain itu, pemanfaatan panas bumi di Kamojang berkontribusi pada pengurangan emisi sebesar 1.222.000 ton CO₂ per tahun, serta berpotensi menghemat konsumsi minyak dan gas bumi sekitar 11.115 BOEPD.

Sejarah Panjang Kamojang dari Eksplorasi ke Energi Hijau Modern
1970: Pertamina memperoleh hak eksplorasi di Kamojang.
1978: Sumur panas bumi pertama menghasilkan uap.
1983: PLTP Unit 1 beroperasi (30 MW).
1987: PLTP Unit 2 dan 3 beroperasi (masing-masing 55 MW).
2008 dan 2015: Unit 4 dan 5 beroperasi, menambah total pasokan energi menjadi 235 MW.
“Kamojang tidak hanya menjadi pionir, tetapi terus dikembangkan dengan prinsip efisiensi, keberlanjutan, dan teknologi pengelolaan reservoir yang ketat,” kata Hendrik.

14 Kali PROPER Emas Beruntun: Bukti Pengelolaan Lingkungan Berkelas
Pada Februari 2025, PGE Area Kamojang untuk ke-14 kalinya menerima PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup. Penghargaan tersebut diberikan atas inovasi program Gemah Karsa (Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture Through Kamojang Responsible & Sustainable Farming).
Program ini memberdayakan ribuan masyarakat melalui: Pemanfaatan panas bumi untuk pembibitan tanaman; Sistem air bersih pertanian bertenaga surya; Produksi pupuk organik GeO-Fert dari limbah pertanian; dan Pengolahan hasil pertanian melalui Geothermal Dehydrator bagi kelompok wanita tani.
Selain Gemah Karsa, PGE Area Kamojang juga menjalankan berbagai program pemberdayaan unggulan, seperti:
Digital Rangers App yang membuka peluang kerja berbasis layanan digital.
Ibun Mall, marketplace UMKM lokal.
Sinyal Kita, layanan internet berbasis penukaran sampah dan penanaman pohon.
Pusat Konservasi Elang Kamojang, pusat pelepasliaran Elang Jawa dengan 22 individu telah kembali ke alam sejak 2014.
Kopi Geothermal Canaya, kopi hasil pengeringan panas bumi yang telah masuk pasar Jepang, Korea, dan Eropa.
Hendrik menegaskan, keberadaan panas bumi harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
“Energi panas bumi bukan hanya soal listrik. Ini tentang kesejahteraan warga, konservasi, dan keberlanjutan ekonomi lokal. Prinsip kami jelas: tumbuh bersama lingkungan dan masyarakat,” ujarnya.
Tentang PGE
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang 1.932 MW, atau sekitar 70% kapasitas panas bumi nasional. PGE berkomitmen mendukung agenda Net Zero Emission 2060, dengan pengurangan karbon mencapai 3,16 juta ton CO₂ pada November 2025.
Dengan sejarah panjang, kontribusi energi bersih, dan program pemberdayaan yang berkelanjutan, Kamojang terus menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki pijakan kuat menuju masa depan energi hijau.
“Kami percaya, Kamojang akan terus menjadi simbol kemandirian energi bersih Indonesia,” tutup Hendrik.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















