MANGGARAI, Beritageothermal.com – Kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), tidak hanya berkontribusi memasok energi listrik untuk wilayah Flores. Keberadaan pembangkit tersebut juga membawa berbagai manfaat bagi masyarakat Desa Wewo, Kecamatan Satar Mese, mulai dari pembangunan infrastruktur, terbukanya lapangan pekerjaan, hingga pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Perubahan tersebut dirasakan oleh masyarakat yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan aktivitas PLTP Ulumbu. Salah satunya Margareta (46), warga yang rumahnya berada hanya beberapa meter dari kawasan pembangkit.
Dia mengungkapkan, aktivitas PLTP Ulumbu tidak mengganggu kegiatan pertanian maupun kesehatan keluarganya. Sejumlah komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, dan cengkeh tetap memberikan hasil yang stabil.
Bahkan, produktivitas sawah miliknya justru mengalami peningkatan meskipun tidak menggunakan pupuk kimia.
“Tidak ada pengaruh. Sayur-sayuran juga tidak ada pengaruh, dampak kesehatan juga tidak ada, paling penyakit musiman seperti flu. Saya punya hasil sawah ini malah meningkat, padahal saya tidak pakai pupuk,” ujarnya dikutip (02/11).
Pengalaman Margareta menjadi salah satu gambaran kehidupan masyarakat Wewo yang merasakan perubahan sejak PLTP Ulumbu beroperasi pada 2011.
Bagi warga setempat, manfaat kehadiran pembangkit panas bumi tidak hanya terlihat dari tersedianya energi listrik. Perkembangan infrastruktur, kemudahan akses transportasi, dukungan pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat turut menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Listrik Ulumbu Ubah Kehidupan Masyarakat Flores
Perjalanan PLTP Ulumbu telah disaksikan langsung Hendrikus Ampak, Tu’a Gendang Wewo. Dia mengaku mengikuti perkembangan pengembangan panas bumi tersebut sejak dekade 1980-an, mulai dari survei, penelitian, hingga beroperasi menghasilkan listrik.
Menurut Hendrikus, keberadaan PLN membawa perubahan yang dapat dirasakan masyarakat, sekaligus menunjukkan perhatian terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat adat.
“Saya mengikuti ini sejak tahun 80-an sampai sekarang. Jadi mereka tidak cuma datang membangun dan mengubah geotermal menjadi listrik, tetapi mereka benar-benar peduli dengan lingkungan dan adat istiadat kehidupan masyarakat,” ujar Hendrikus.
Dia mengenang kondisi kehidupan masyarakat sebelum listrik menjangkau wilayah tersebut. Pada masa itu, warga masih mengandalkan pelita dan lampu petromaks untuk menerangi rumah.
Kini, kehadiran listrik memberikan kesempatan lebih luas bagi anak-anak untuk belajar pada malam hari. Masyarakat juga semakin mudah menggunakan telepon genggam dan berbagai perangkat elektronik untuk menunjang aktivitas sehari-hari.
“Listrik itu sudah jelas bisa menerangi seluruh Flores dari Ulumbu, dan itu tidak bisa dibohong-bohongi. Hampir setiap rumah di Manggarai menikmati hasil produksi listrik Ulumbu,” tegasnya.
Selain penerangan, perubahan juga dirasakan pada akses transportasi. Hendrikus mengatakan, dahulu perjalanan masyarakat dari Wewo menuju Ruteng cukup sulit karena kondisi jalan yang terbatas.
Warga bahkan harus berjalan kaki hingga Ponggeok untuk mendapatkan kendaraan. Kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan hasil pertanian dan mobilitas masyarakat membutuhkan waktu serta tenaga lebih besar.
Kini, pembangunan akses jalan membantu memperlancar perjalanan warga menuju berbagai wilayah.
“Yang paling buruk itu kan jalan, kalau sampai mobil tidak bisa masuk kampung, itu sudah kita paling udik sudah, mau cari apa hidup ini kalau jalan tidak bagus. Dengan PLN ini kan ya sudah kita bisa akses ke mana-mana, ke Ruteng, ke mana dengan jalan aspal bagus, dia bangun jalan untuk masyarakat. Jadi menurut kami, kami yang berdamping, kami yang menyaksikan puluhan tahun, saya sebagai Tua Gendang Wewo, masyarakat Gendang Wewo bahwa PLN telah berbuat yang terbaiklah,” ungkapnya.
PLN Dukung Pelestarian Rumah Adat dan Pendidikan
Kontribusi PLTP Ulumbu terhadap masyarakat juga terlihat melalui dukungan terhadap pelestarian budaya lokal.
Hendrikus menyebut PLN memberikan bantuan pembangunan tiga rumah adat, yakni Gendang Wewo, Gendang Lale, dan Gendang Gonggor dengan nilai bantuan sebesar Rp 250 juta.
Dukungan tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat Manggarai yang menjadikan rumah adat sebagai pusat kehidupan sosial dan budaya.
Selain pembangunan rumah adat, PLN juga disebut hadir dalam berbagai kegiatan ritual dan hajatan masyarakat melalui bantuan hewan kurban serta kebutuhan lainnya.
Di sektor pendidikan, dukungan diberikan dalam bentuk fasilitas pembelajaran, seperti komputer dan proyektor, serta pembangunan gedung perpustakaan di sejumlah sekolah.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat pembangunan energi agar dapat dirasakan masyarakat di luar sektor ketenagalistrikan.
Hendrikus juga mengajak masyarakat yang masih meragukan pengembangan panas bumi untuk melihat secara langsung perkembangan Desa Wewo.
“PLN itu kan saya berpikir ibaratnya dia mengayomi masyarakatlah. Maksudnya apa? Yang kami rasakan bahwa dia tidak sedang merayu, membujuk yang untuk orang istilah Manggarai jatuh jurang. Dia tidak sedang membimbing orang, mengarahkan orang untuk jatuh jurang,mengarahkan orang supaya di pelosok belahan bumi Flores ini menyala listrik,” ujarnya.
Dia menegaskan pengalamannya selama puluhan tahun tinggal berdampingan dengan PLTP Ulumbu menjadi dasar pandangannya terhadap keberadaan pembangkit tersebut.
“Mungkin teman-teman, saudara-saudara saya yang di luar sana tolak geotermal paling benci dengan pernyataan saya, tetapi tolong, kami ini masyarakat Desa Wewo berdampingan dengan PLN selama puluhan tahun. Di sini tidak sedang karang-karang. Silakan datang ke Wewo, lihat pembangunan jalan, air minum, dia kasih, air minum untuk masyarakat, dia kasih,” tambahnya.
85 Tenaga Kerja Lokal Terserap dalam Pengembangan Unit 5
Manfaat ekonomi dari pengembangan PLTP Ulumbu juga terlihat melalui kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar.
Vinsensius Jo, petugas keamanan atau security di kawasan PLTP Ulumbu, menjadi salah satu warga yang memperoleh kesempatan bekerja di lingkungan operasional PLN. Dia telah mengabdi selama enam tahun.
Vinsensius mengaku mendapatkan pengalaman kerja yang positif. Menurutnya, sistem operasional perusahaan berjalan sesuai prosedur dan pembayaran gaji selalu dipenuhi tepat waktu.
“Jujur secara pribadi, Pak. Saya bergabung dengan PLN itu sangat memuaskan sekali. Yang pertama, kerjanya ya paling sesuai prosedur. Yang kedua, mengenai gajinya, itu tidak pernah tersendat. Pokoknya, sangat memJuaskan lah bagi saya untuk dari PLN,” katanya.
Sementara itu, pengembangan PLTP Ulumbu Unit 5 yang dimulai pada 2023 juga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat lokal.
Kepala Teknis Panas Bumi (KTPB) PLTP Ulumbu PT PLN (Persero) UIP Nusra, Roya Ginting, menyampaikan bahwa sebanyak 85 tenaga kerja lokal dari wilayah Ring 1 telah terserap dalam kegiatan pengembangan proyek tersebut. Jumlah pekerja dapat berubah mengikuti kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Menurut Roya, pengembangan pembangkit juga diiringi Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Program ini dirancang untuk membantu masyarakat meningkatkan kemampuan ekonomi dan membangun usaha yang lebih mandiri.
26 Perempuan Wewo Berhasil Kembangkan Usaha Temulawak
Salah satu program pemberdayaan yang menunjukkan perkembangan adalah Kelompok Wela Sita. Kelompok beranggotakan 26 perempuan tersebut mengembangkan pengolahan temulawak menjadi produk bernilai ekonomi.
Di bawah kepemimpinan Evodia Alut, kelompok ini mulai merintis usaha sejak 2020 dengan peralatan sederhana dan kapasitas produksi terbatas.
Perkembangan usaha semakin terlihat setelah PLN memberikan dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Dukungan tersebut meliputi pembukaan lahan budidaya temulawak, pembangunan rumah produksi, serta penyediaan sejumlah peralatan modern, seperti mesin penggiling, blender, dan sifter atau alat pengayak.
Dengan fasilitas tersebut, proses pengolahan temulawak menjadi lebih efisien. Produk yang dihasilkan kemudian dipasarkan melalui kerja sama dengan koperasi.
Pengelolaan keuntungan dilakukan secara terbuka dan dibagikan kepada seluruh anggota melalui mekanisme Rapat Anggota Tahunan (RAT).
Bagi Evodia, dukungan tersebut memberikan kesempatan bagi perempuan desa untuk mengembangkan potensi pertanian menjadi kegiatan usaha produktif.
“Saya sebagai ketua kelompok, kami sangat berterima kasih kepada PLN. Semoga untuk kedepannya PLN tetap memperhatikan kami sehingga di kelompok kami lebih sukses dan lebih maju,” tutur Evodia.
Pengembangan kelompok Wela Sita juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal. Temulawak yang sebelumnya lebih banyak dikenal sebagai tanaman obat tradisional kini diolah menjadi produk yang memiliki peluang pemasaran lebih luas.
67 Kepala Keluarga Nikmati Program Air Bersih
Roya Ginting menjelaskan, berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat terus dikembangkan untuk menjawab kebutuhan warga di sekitar wilayah operasional PLTP Ulumbu.
Pada 2024-2025, PLN menjalankan dukungan terhadap Kelompok Temulawak Wela Sita melalui pembibitan, penyediaan peralatan pengemasan, dan pembangunan rumah produksi.
Pada periode yang sama, Kelompok Hortikultura Gua Maria Wewo Welasita mendapatkan bantuan bibit, pengolahan lahan, serta pendampingan pemasaran hasil panen.
PLN juga mendukung Kelompok Kopi Ulumbu melalui bantuan peralatan sangrai, penggilingan, pengemasan, dan pembangunan rumah produksi kopi.
Di bidang kebudayaan, pembangunan rumah adat Gendang Gonggor menjadi salah satu program yang dilaksanakan pada 2025.
Memasuki 2026, program pemberdayaan diperluas melalui pengembangan agroforestri bersama Kelompok Perempuan Desa Wewo. Kegiatan ini meliputi penyediaan bibit jagung, mangga, durian, dan kacang tanah serta pengolahan lahan. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung rencana pengembangan desa wisata pertanian.
Program lainnya adalah pembangunan rumah penggilingan padi berbasis listrik bersama Kelompok Masyarakat Gendang Wewo. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu menekan biaya penggilingan padi yang selama ini ditanggung warga.
Selain program ekonomi, PLN telah menyelesaikan pembangunan fasilitas penyediaan air bersih yang melayani 67 kepala keluarga di Desa Wewo.
Infrastruktur tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan dasar.
PLN juga terus melanjutkan pembangunan jalan akses sepanjang 7,2 kilometer, mulai dari perempatan Ponggeok hingga perbatasan Desa Wewo. Jalan tersebut diharapkan semakin memudahkan mobilitas masyarakat dan distribusi hasil pertanian.
Dorong Energi Bersih Sekaligus Kesejahteraan Masyarakat
Berbagai program di Desa Wewo memperlihatkan bagaimana pengembangan energi panas bumi dapat terhubung dengan pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Selain menghasilkan listrik, pengembangan PLTP Ulumbu turut membuka ruang bagi masyarakat untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha, memperoleh kesempatan kerja, dan memperbaiki akses infrastruktur.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan. PLN menyatakan tetap membuka ruang terhadap kritik, saran, dan masukan warga agar program yang dijalankan dapat terus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Di sisi lain, pemantauan lingkungan, perlindungan sumber air, kesehatan warga, serta keberlanjutan lahan pertanian tetap menjadi aspek penting yang harus dijaga seiring pengembangan panas bumi.
Dengan demikian, keberhasilan PLTP Ulumbu tidak hanya tercermin dari listrik yang dihasilkan untuk menerangi Flores, tetapi juga dari manfaat sosial dan ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.
Bagi warga Wewo, pembangunan energi yang memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi, pendidikan, infrastruktur, dan pelestarian adat merupakan bagian penting dari harapan untuk kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















