Jakarta, Beritageothermal.com – Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melihat masa depan energi panas bumi dengan optimisme. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan, memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus menciptakan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Komitmen tersebut ditandai dengan sejumlah langkah strategis PGEO, mulai dari percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu Bottoming Unit (BU) dan PLTP Lahendong BU hingga penerimaan mandat survei potensi panas bumi di Cubadak Panti, Sumatra Barat.
Tiga agenda strategis itu diwujudkan dalam gelaran The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta melalui penandatanganan dua Letter of Intent (LoI) antara PT PLN (Persero) dengan konsorsium PGEO dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP).
LoI tersebut mencakup rencana pengembangan PLTP Ulubelu BU berkapasitas 30 megawatt (MW) dan PLTP Lahendong BU berkapasitas 15 MW. Pada momentum yang sama, PGEO menerima Surat Keputusan (SK) Menteri ESDM mengenai penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) panas bumi di wilayah Cubadak Panti.
Bagi PGEO, rangkaian capaian tersebut menjadi tonggak penting dalam memperkuat pengembangan panas bumi nasional sekaligus mendukung ambisi perusahaan menjadi world leading geothermal producer.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani mengatakan pengembangan Ulubelu BU dan Lahendong BU merupakan bagian dari strategi perusahaan mengoptimalkan aset panas bumi yang telah beroperasi.
PLTP Ulubelu di Lampung dan PLTP Lahendong di Sulawesi Utara selama ini menjadi bagian penting dalam penyediaan listrik di masing-masing wilayah. Melalui pengembangan unit tambahan, PGEO bersama PLN IP berupaya memaksimalkan energi panas yang masih tersisa dari pembangkit eksisting untuk menghasilkan tambahan listrik.
“Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menyediakan energi yang memberdayakan masyarakat,” kata Ahmad Yani dalam keterbukaan informasi, Jumat (21/8/2026).
Optimalkan Panas Sisa
PLTP Ulubelu BU dan PLTP Lahendong BU dikembangkan menggunakan teknologi binary atau bottoming cycle. Teknologi tersebut memungkinkan panas sisa dari operasi pembangkit panas bumi eksisting dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan energi listrik tambahan.
Pengembangan kedua proyek itu sejalan dengan salah satu strategi pertumbuhan PGEO, yakni mengoptimalkan aset eksisting agar dapat menghasilkan kapasitas listrik tambahan tanpa harus sepenuhnya membangun pembangkit baru dari awal.
Sebelumnya, konsorsium PGEO dan PLN IP telah menyepakati tarif listrik dengan PLN selaku offtaker. Kesepakatan tarif untuk PLTP Ulubelu BU dicapai pada Desember 2025, sedangkan PLTP Lahendong BU pada April 2026.
Penandatanganan LoI kemudian menjadi tahapan lanjutan menuju pengembangan kedua proyek tersebut.
Tahapan berikutnya mencakup pendirian perusahaan patungan atau joint venture, penyusunan Power Purchase Agreement (PPA), serta proses Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC).
Kedua pembangkit tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2028.
PGEO Dapat Mandat Eksplorasi Cubadak Panti
Selain mempercepat optimalisasi aset eksisting, PGEO juga memperluas portofolio eksplorasi panas bumi. Dalam IIGCE 2026, perusahaan menerima SK Menteri ESDMNomor 176.K/EK.04/MEM.E/2026 tentang Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE) Panas Bumi di wilayah Cubadak Panti, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, Sumatra Barat.
Penugasan tersebut menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi sekaligus membuktikan potensi sumber daya panas bumi di wilayah tersebut.
PGEO sebelumnya menempati peringkat pertama dalam proses seleksi kompetitif yang diselenggarakan Kementerian ESDM dengan nilai 87,01.
Wilayah PSPE Cubadak Panti memiliki luas sekitar 29.897 hektare. Berdasarkan data awal, kawasan tersebut diperkirakan menyimpan potensi cadangan panas bumi sekitar 77 megawatts electric (MWe).
Jika potensi tersebut terbukti melalui tahapan survei dan eksplorasi, kapasitas tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 40.000 rumah tangga.
Ahmad Yani mengapresiasi kepercayaan pemerintah kepada PGEO untuk menjalankan mandat eksplorasi tersebut. Menurut dia, penugasan itu menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pencapaian target Net Zero Emission 2060 sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pengembangan potensi Cubadak Panti juga dinilai sejalan dengan komitmen Provinsi Sumatra Barat sebagai Green Province.
“Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, PGE akan melaksanakan mandat ini agar dapat mengubah potensi panas bumi Cubadak Panti menjadi manfaat yang berkelanjutan dan bernilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Menuju Satu Abad Panas Bumi Indonesia
Rangkaian capaian tersebut menjadi semakin strategis di tengah momentum Indonesia menuju satu abad perjalanan pengembangan panas bumi.
Setelah hampir satu abad membangun fondasi industri panas bumi, Indonesia memiliki peluang untuk meningkatkan pemanfaatan energi dari dalam bumi sebagai salah satu pilar energi bersih nasional.
Bagi PGEO, momentum tersebut menjadi dorongan untuk menjaga keandalan pembangkit yang telah beroperasi sekaligus mempercepat pembangunan kapasitas baru.
Sejumlah proyek strategis saat ini tengah dikembangkan PGEO, di antaranya PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, PLTP Lahendong Unit 7-8 dan Binary Unit di Sulawesi Utara, serta proyek Gunung Tiga di Lampung.
Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, PGEO melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad pertama menjadi perjalanan untuk membangun dan membuktikan potensi panas bumi Indonesia, maka abad berikutnya menjadi kesempatan untuk menjadikannya sebagai salah satu kekuatan utama energi bersih nasional.
PGEO pun berkomitmen menjaga keandalan operasi, mempercepat pengembangan proyek, serta memperluas manfaat panas bumi agar energi yang berasal dari bumi Indonesia dapat menjadi penggerak kemajuan bangsa.
“Inilah kontribusi kami untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” tandas Ahmad Yani.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















