Jakarta, Beritageothermal.com – Asosiasi Daerah Penghasil Panasbumi Indonesia (ADPPI) menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026. Forum internasional tersebut dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman sekaligus memperluas sosialisasi energi panas bumi kepada berbagai pemangku kepentingan di Indonesia.
Ketua Umum ADPPI, Hasanuddin, menegaskan bahwa IIGCE 2026 tidak hanya berfungsi sebagai ajang konferensi dan pameran industri energi, tetapi juga menjadi sarana strategis untuk meningkatkan pemahaman publik mengenai potensi besar panas bumi sebagai energi masa depan Indonesia.
“IIGCE 2026 harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk membumikan panas bumi di Indonesia, terutama kepada pemerintah daerah, pelaku industri, hingga masyarakat luas,” ujar Hasanuddin dalam keterangannya, Jumat (12/06).
Menurut dia, energi panas bumi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda transisi energi nasional. Sebagai sumber energi bersih yang stabil dan berkelanjutan, panas bumi dinilai mampu menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.
Hasanuddin menilai Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar dan perlu dimaksimalkan untuk mendukung ketahanan energi nasional. Karena itu, pengembangan sektor ini membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
Selain berkontribusi pada sektor energi, pengembangan panas bumi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah penghasil. Menurut Hasanuddin, manfaat tersebut hadir melalui dana bagi hasil, iuran tetap, hingga program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dapat mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
“Pengembangan panas bumi tidak hanya memberikan manfaat bagi sektor energi nasional, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap peningkatan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Lebih lanjut, ADPPI mendorong agar pemanfaatan panas bumi tidak hanya berfokus pada produksi listrik melalui PLTP. Hasanuddin menilai potensi pemanfaatan langsung atau direct use juga perlu dikembangkan untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang lebih besar.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah kawasan wisata berbasis energi panas bumi. Model pemanfaatan tersebut dinilai mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus memperkuat ekonomi daerah di sekitar wilayah penghasil panas bumi.
Hasanuddin menegaskan bahwa IIGCE 2026 harus menjadi ruang kolaborasi nyata bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mempercepat pengembangan energi panas bumi nasional.
Karena itu, ADPPI menyatakan siap mengambil peran aktif untuk membantu memperkenalkan, meningkatkan pemahaman, serta mendorong pemanfaatan energi panas bumi secara lebih luas di Indonesia.
Dengan dukungan pemerintah, pelaku industri, dan daerah penghasil, IIGCE 2026 diharapkan tidak hanya menjadi forum diskusi berskala internasional, tetapi juga menjadi titik akselerasi pengembangan panas bumi sebagai tulang punggung energi bersih Indonesia di masa depan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















