Jakarta, Beritageothermal.com – Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) resmi mengukuhkan Muhammad Yunus Zulkifli sebagai Doktor Ilmu Komunikasi ke-164 dalam sidang promosi doktor yang digelar di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Kamis (11/6/2026).
Dalam sidang tersebut, Yunus berhasil meraih predikat kelulusan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Sangat Memuaskan setelah mempertahankan disertasinya yang berjudul “Trajektori Translasi dalam Jejaring Komunikasi Transaksional-Material Inovasi Energi Terbarukan: Kontestasi Agensi Non-Manusia dan Dislokasi Pesan pada PLTP Dieng”.
Penelitian tersebut menyoroti dinamika pengembangan energi panas bumi atau geothermal di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Dieng. Berbeda dengan pendekatan yang umumnya berfokus pada aspek teknis dan kebijakan, Yunus melihat pengembangan energi terbarukan sebagai proses komunikasi yang berlangsung dalam jaringan sosial-teknis yang kompleks.
Menurut Yunus, pengembangan energi geothermal tidak hanya berkaitan dengan teknologi maupun regulasi, melainkan juga dibentuk oleh relasi antara berbagai aktor manusia dan non-manusia yang saling memengaruhi dalam satu jaringan.
“Dengan menggunakan kerangka Actor-Network Theory (ANT), penelitian ini menelusuri bagaimana translasi berlangsung melalui problematisasi, interessement, enrollment, dan mobilisasi sebagai trajektori yang dinamis, non-linear, dan terus dinegosiasikan dalam jaringan sosial-teknis,” ujarnya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma konstruktivis dan strategi studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan di kawasan Dieng, serta analisis berbagai dokumen kebijakan dan konten media.
Hasil riset menunjukkan bahwa inovasi geothermal di PLTP Dieng merupakan hasil negosiasi yang melibatkan banyak pihak. Aktor-aktor tersebut mencakup kalangan akademisi, regulator, pemerintah daerah, masyarakat lokal, hingga unsur non-manusia seperti fluida panas bumi, gas hidrogen sulfida (H₂S), data geosains, infrastruktur, dan dokumen kebijakan.
Yunus menemukan bahwa proses pengembangan energi panas bumi tidak berjalan secara linear maupun stabil. Sebaliknya, proses tersebut membentuk trajektori relasional yang ditandai oleh ketidakselarasan makna, kontestasi agensi, reversibilitas jaringan, dan dislokasi pesan.
“Pada tingkat kebijakan dan teknis, geothermal relatif berhasil distabilkan sebagai solusi transisi energi. Namun, pada tingkat sosial, translasi belum sepenuhnya mencapai stabilisasi karena makna energi belum terhubung secara utuh dengan pengalaman material dan sosial masyarakat lokal,” jelasnya.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa tantangan terbesar pengembangan geothermal di Indonesia tidak semata berada pada teknologi maupun investasi. Persoalan komunikasi justru menjadi faktor krusial dalam membangun pemahaman bersama di antara para aktor yang terlibat.
Dalam penelitian ini, komunikasi dipahami lebih luas daripada sekadar penyampaian informasi antarmanusia. Komunikasi diposisikan sebagai proses transaksional-material yang melibatkan interaksi simultan antara manusia dan non-manusia dalam membentuk, menegosiasikan, hingga mempertahankan makna dalam jaringan sosial-teknis.
Dari sisi akademik, penelitian Yunus memberikan kontribusi baru bagi pengembangan Ilmu Komunikasi, khususnya dalam memahami inovasi sosial-teknis dan transisi energi. Penelitian ini menegaskan bahwa komunikasi bukan proses linear yang sederhana, melainkan mekanisme penting yang menentukan keberhasilan stabilisasi inovasi.
Secara teoretis, riset tersebut juga memperluas pengembangan Actor-Network Theory (ANT) melalui konsep trajektori translasi sebagai proses yang dinamis, reversibel, dan terus mengalami negosiasi.
Sementara dari sisi praktis, Yunus menilai kebijakan pengembangan geothermal di Indonesia perlu dipahami sebagai upaya mengelola jaringan sosial-teknis, bukan hanya tata kelola teknologi dan investasi. Karena itu, pemerintah dan pengembang energi perlu memperkuat ruang deliberasi publik, mengintegrasikan aspek sosial-ekologis, serta membangun pola komunikasi yang lebih partisipatif.
Ia juga menekankan bahwa komunikasi publik tidak boleh hanya menjadi pelengkap proyek teknis. Pengembang perlu mendorong komunikasi transaksional melalui dialog komunitas, pelibatan masyarakat dalam pemantauan lingkungan, serta komunikasi risiko yang mempertimbangkan konteks lokal.
Lebih jauh, Yunus menegaskan pentingnya menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian aktif dalam jaringan inovasi geothermal. Pengetahuan lokal dan pengalaman ekologis masyarakat dinilai harus diakui sebagai elemen penting dalam proses transisi energi menuju pembangunan energi terbarukan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















