Yogyakarta, Berita Geothermal – Upaya kolaborasi sektor energi dan pertanian mulai menemukan bentuk nyatanya. Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk dan PT Agrotekno Estetika Laboratoris resmi mengikat kerja sama melalui penandatanganan Joint Development Agreement (JDA) untuk proyek Beyond Energy Katrili.
Lewat proyek ini, ketiganya tidak lagi memandang panas bumi sebatas sumber listrik. Endapan silika yang selama ini menjadi residu proses geotermal justru diolah menjadi pupuk cair berbasis nanoteknologi yang lebih ramah lingkungan. Pendekatan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk menjawab persoalan klasik: mahal dan langkanya pupuk di sektor pertanian.
Tak berhenti di laboratorium, pengembangan inovasi Katrili diarahkan menyentuh langsung masyarakat, khususnya di wilayah sekitar proyek panas bumi seperti Sulawesi Utara. Harapannya, hasil riset ini tak hanya menjadi publikasi ilmiah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru di tingkat lokal.
Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Andi Joko Nugroho, menegaskan bahwa hilirisasi energi menjadi kunci dalam memaksimalkan potensi sumber daya Indonesia. Ia menyebut kolaborasi berbasis riset ini mempercepat pengembangan inovasi, termasuk rencana produksi hidrogen dari geotermal pada 2026, serta mendorong penguatan ketahanan pangan melalui pemanfaatan produk turunan energi.
Dari sisi kampus, Dekan FT UGM, Prof. Selo, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai penghubung antara riset dan kebutuhan industri. Ia menilai proyek Katrili menjadi contoh konkret integrasi energi dan pangan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi baru terbarukan di tengah dinamika global.
Pandangan serupa datang dari CEO PT Agrotekno Estetika Laboratoris, Alexander H. Soeriyadi, yang melihat kandungan silika memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas tanaman. Sementara itu, tim peneliti FT UGM yang dipimpin Dr. Pri Utami dari Departemen Teknik Geologi memastikan inovasi ini dikembangkan melalui pendekatan ilmiah lintas disiplin agar dapat diterapkan secara luas.
Proyek Katrili menjadi sinyal bahwa masa depan energi tak hanya soal listrik. Ketika limbah bisa diolah menjadi solusi pertanian, kolaborasi seperti ini berpotensi mempercepat kemandirian energi, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih inklusif.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















