Jakarta, Berita Geothermal – Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama dengan Korea Selatan di sektor energi bersih dengan menempatkan panas bumi (geothermal) sebagai salah satu fokus utama. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berdampak pada stabilitas pasokan energi.
Komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan Kim Sungwhan. Kesepakatan diumumkan dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung di Blue House, Seoul, Rabu (1/4).
Bahlil menegaskan, kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk mendorong percepatan pemanfaatan energi terbarukan, termasuk panas bumi, yang dinilai memiliki potensi besar di Indonesia.
“MSP ini penting sebagai fondasi bagi kedua belah pihak dalam mendorong transisi energi, khususnya energi bersih sesuai kemampuan negaranya masing-masing. (Energi terbarukan) Ini bagus buat kita ke depan. Jangan sampai ditunda lagi pemanfaatannya,” ujar Bahlil.
Menurutnya, Indonesia memiliki cadangan panas bumi yang melimpah, sementara Korea Selatan unggul dalam teknologi dan industri. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pengembangan geothermal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
“Korea ini kan sahabat lama Indonesia. Jadi kita sama-sama tahu kelebihan dan potensi energi masing-masing. Kalau saling melengkapi bisa memperkuat kemandirian energi sesuai arahan Bapak Presiden,” jelasnya.
Dalam kerangka kerja sama tersebut, pengembangan panas bumi menjadi bagian dari fokus energi terbarukan selain tenaga surya dan angin. Selain itu, kedua negara juga akan menjajaki pengembangan energi masa depan seperti hidrogen dan nuklir.
Tak hanya pada sisi pembangkit, kerja sama juga mencakup penguatan sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS), efisiensi energi, serta pengembangan infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik pintar dan industri baterai.
“Termasuk juga dukungan bagi sistem energi terpadu di pulau-pulau mandiri energi supaya manfaat energi bersih bisa dirasakan lebih luas, termasuk di wilayah terpencil,” tambah Bahlil.
Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tersebut menilai kemitraan dengan Korea Selatan menjadi semakin penting di tengah dinamika global. Ia menekankan bahwa kerja sama ini dapat mengoptimalkan potensi masing-masing negara.
“Korea Selatan memiliki kemampuan industrial dan teknologi yang luar biasa, sementara Indonesia mempunyai sumber daya yang melimpah dan pasar yang besar,” ujar Prabowo.
Sementara itu, Presiden Lee Jae-myung menyebut Indonesia sebagai mitra strategis, terutama dalam sektor energi. Ia menilai hubungan kedua negara telah berkembang menjadi kemitraan yang kuat selama lebih dari lima dekade.
“Selama lebih dari 50 tahun menjalin hubungan diplomatik, Indonesia dan Korea Selatan telah menjadi mitra dan sahabat yang tepercaya dan saling mendukung. Indonesia adalah tujuan investasi luar negeri pertama bagi perusahaan-perusahaan Korea,” ujarnya.
Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat pengembangan panas bumi di Indonesia, sekaligus membuka peluang investasi, transfer teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor energi bersih.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















