Jakarta, Berita Geothermal – Performa PT Pertamina Geothermal Energi Tbk (PGE) sepanjang 2025 memperlihatkan tren yang kian solid. Dari sisi keuangan hingga operasional, perusahaan mencatat peningkatan yang menegaskan posisi energi panas bumi sebagai salah satu motor penting dalam transisi menuju energi bersih di Indonesia.
Kinerja positif ini terlihat dari kenaikan laba, bertambahnya kapasitas pembangkit, hingga rekor produksi listrik hijau sepanjang sejarah perusahaan. Capaian tersebut sekaligus menandai bahwa panas bumi mulai bertransformasi dari sekadar opsi energi alternatif menjadi fondasi utama dalam sistem energi nasional.
Pengamat energi Hadi Ismoyo menyebut kondisi ini sebagai titik penting bagi pengembangan sektor panas bumi di Indonesia.
“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dari seluruh potensi yang tersedia, ruang pertumbuhan masih sangat luas,” kata Hadi dikutip, Selasa (17/3/2026).
Ia menyoroti peningkatan kapasitas terpasang PGE yang kini mencapai 727 megawatt (MW), dari sebelumnya 672 MW. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan adanya percepatan nyata dalam pengembangan proyek panas bumi.
Namun, Hadi mengingatkan agar keberhasilan tersebut diikuti dukungan yang lebih luas, khususnya dalam kebijakan energi nasional.
“Dalam konteks bauran energi nasional, kinerja seperti ini perlu mendapatkan dukungan penuh, baik dari sisi regulasi, insentif, maupun kemudahan investasi. Panas bumi adalah energi dengan baseload yang stabil, berbeda dengan energi terbarukan lain seperti surya atau angin,” jelasnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah tengah mendorong peningkatan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) hingga 76% dalam periode 2025–2034 melalui RUPTL PLN. Dalam peta tersebut, panas bumi diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak menilai tren positif PGE bisa menjadi katalis percepatan transisi energi di dalam negeri.
“Jika kinerja (bisnis) seperti ini terus dijaga dan diperluas, bukan tidak mungkin transisi energi akan berjalan lebih agresif. Panas bumi bisa menjadi game changer, terutama karena Indonesia memiliki salah satu cadangan terbesar di dunia,” ujar Ali.
Ia juga menyinggung kebutuhan energi yang akan meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%. Menurutnya, sektor kelistrikan memegang peranan vital dalam menopang target tersebut.
“Karena setiap satu persen pertumbuhan ekonomi ditopang 1,8 persen pertumbuhan ketenagalistrikan,” ujarnya.
Meski prospeknya menjanjikan, Ali menilai masih ada sejumlah hambatan yang perlu diatasi, seperti mahalnya biaya eksplorasi awal, risiko proyek yang tinggi, hingga keterbatasan infrastruktur. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, BUMN, dan swasta untuk membuka potensi panas bumi yang masih besar.
Di tengah tuntutan global terhadap dekarbonisasi, capaian PGE dinilai menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki modal kuat untuk mempercepat peralihan energi.
“Dengan potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya, panas bumi bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang menuju kemandirian energi yang berkelanjutan,” katanya.
Dari sisi kinerja keuangan, berdasarkan laporan audit per 31 Desember 2025, PGE mencatat pendapatan sebesar USD 432,72 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD 407,12 juta.
Sementara itu, produksi listrik hijau juga mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, yakni 5.095 gigawatt hour (GWh) pada 2025, atau tumbuh 5,55% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar 4.827 GWh.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















