Berita Geothermal — Indonesia akan segera memiliki perusahaan baru di sektor panas bumi yang merupakan joint vetura antara PT DSSR Daya Mas Sakti, anak usaha Grup Sinar Mas melalui PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), bersama PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak usaha Energy Development Corporation (EDC) asal Filipina.
Pembentukan perusahaan baru joint venture (JV) dari kedua entitas tersebut diperkirakan pada kuartal IV/2025 atau sekitar Oktober–Desember. Penandatanganan perjanjian kerangka kerja sama telah dilakukan pada 27 Agustus 2025.
Perusahaan Joint venture ini akan menggarap proyek panas bumi berkapasitas total 440 megawatt di enam lokasi strategis: Jawa Barat, Flores, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah. Struktur kepemilikan JV disepakati berimbang, masing-masing 50% dimiliki DSSR dan 50% oleh FirstGen.
Presiden Direktur DSSR, Lokita Prasetya, menekankan bahwa kerja sama pegembangan panas bumi dengan FirstGen ini lebih dari sekadar investasi.
“Dengan menggabungkan keahlian global EDC dan pengalaman lokal kami, kami ingin membangun kapasitas nasional, memaksimalkan potensi alam, serta menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan,” ujarnya dalam keterangan resmi dikutip Rabu (3/9).
Dari sisi mitra, CEO EDC Francis Giles B. Puno menambahkan, “Kami ingin tidak hanya mengembangkan proyek, tetapi juga mewariskan kapasitas dan pengetahuan yang akan berdampak jangka panjang bagi sektor energi terbarukan Indonesia.”
DSSA sendiri bukan pendatang baru di sektor ini. Melalui proyek eksplorasi panas bumi di Cipanas, Jawa Barat, perusahaan telah memiliki pengalaman yang menjadi bekal dalam mengelola proyek berskala besar bersama mitra internasional.
Sementara itu, EDC dikenal sebagai produsen energi terbarukan terbesar di Filipina dan produsen panas bumi terintegrasi terbesar di dunia dengan portofolio mencakup panas bumi, hidro, angin, dan surya.
Kolaborasi DSSR–FirstGen selaras dengan strategi pemerintah Indonesia mempercepat transisi energi, meningkatkan bauran energi terbarukan, serta mengejar target nol emisi bersih pada 2060. Dengan enam wilayah potensial sebagai sentra energi baru, proyek ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















