Berita Geothermal — Meski menyimpan potensi panas bumi hingga 24 gigawatt (GW) — sekitar 40 persen dari total potensi global — pemanfaatan energi geotermal Indonesia baru mencapai sekitar 12 persen hingga Mei 2025.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Julfi Hadi, dalam media gathering The 11th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2025 di SCBD, Jakarta, Kamis (22/5/2025).
Julfi menegaskan bahwa percepatan pemanfaatan energi panas bumi tidak bisa dilakukan dengan pendekatan konvensional.
“Kita membutuhkan langkah-langkah yang beyond the box, outside the box, bukan sekadar business as usual. Tanpa itu, potensi besar ini akan tetap menjadi potensi belaka,” katanya.
Terhambat di Tahap Eksplorasi
Menurut Julfi, hambatan utama pemanfaatan panas bumi terletak pada tahap eksplorasi. Sekitar 80 persen proyek panas bumi mengalami stagnasi akibat ketidaksesuaian antara risiko eksplorasi yang tinggi dengan tarif jual listrik yang berlaku.
Untuk itu, pelaku industri kini mulai fokus pada pengelolaan risiko yang lebih matang agar proyek-proyek eksplorasi dapat berlanjut ke tahap produksi.
Menekan Capex, Mendorong Kompetisi
Tantangan lain adalah besarnya biaya pengembangan atau capital expenditure (capex). Untuk membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan kapasitas 1 GW, dibutuhkan investasi sekitar US$2,7 miliar, atau sekitar Rp44 triliun dengan asumsi kurs Rp16.291 per dolar AS.
Agar panas bumi lebih kompetitif dan menarik bagi investor, Julfi mendorong penerapan tiga strategi utama:
- Efisiensi biaya
Biaya per megawatt (MW) saat ini masih tinggi, mencapai sekitar US$6 juta per MW. Julfi menekankan perlunya efisiensi agar harga listrik panas bumi dapat bersaing.
- Kolaborasi multipihak
Karena PLN merupakan satu-satunya pembeli listrik geotermal, keterlibatan pemerintah, badan usaha, dan pemangku kepentingan lain sangat penting dalam menciptakan ekosistem bisnis yang sehat.
- Peningkatan teknologi
Penggunaan teknologi mutakhir diperlukan agar proyek tidak berhenti di tahap eksplorasi dan bisa terus maju ke pengembangan.
Insentif dan Komitmen Menuju Net Zero
Lebih lanjut, Julfi menekankan pentingnya insentif fiskal dan pembiayaan berbunga rendah untuk mendorong percepatan proyek. “Industri ini sangat bergantung pada dukungan kebijakan dan stimulus dari pemerintah,” ujarnya.
Sebagai Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Julfi menyatakan bahwa API/INAGA berkomitmen mendukung percepatan pengembangan panas bumi melalui advokasi kebijakan, peningkatan kapasitas, dan promosi investasi hijau. Semua langkah ini sejalan dengan target nasional untuk mencapai Net Zero Emission.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















