Jakarta, Berita Geothermal – PT Sarulla Operation Limited bersiap memasuki fase baru pengembangan lapangan panas bumi Sarulla di Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Tahun 2026 dipatok sebagai momentum penting karena perusahaan menargetkan dimulainya pengeboran sumur tambahan.
Saat ini, manajemen masih menunggu proses persetujuan sebelum alat bor benar-benar diturunkan ke lapangan. Targetnya, izin bisa dikantongi dalam waktu dekat sehingga aktivitas pengeboran dapat berjalan paling lambat Juli 2026.
Chief Operating Officer Sarulla Operation Limited Riza Pasikki menegaskan, agenda utama perusahaan tahun ini adalah memastikan pengeboran terealisasi.
“Tahun ini kita masih berfokus untuk kita akan melakukan proses pengeboran.”
“Sekarang masih dalam proses approval, mudah-mudahan approval ini kita bisa mendapatkan di Bulan Februari.”
“Sehingga paling lambat di Bulan Juli kita bisa mulai lakukan proses pengeboran,” ujarnya dalam bincang Meet the Leaders dikutip Senin (2/3/2026).
Sudah Operasikan 3 Unit PLTP
Saat ini, Sarulla mengelola pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan total kapasitas terpasang 330 megawatt (MW). Kapasitas tersebut berasal dari tiga unit pembangkit, masing-masing berdaya 110 MW.
“Lapangan Sarula ini sendiri saat ini kita sudah mengoperasikan tiga kali 110 megawatt.”
“Jadi total install kapasitasnya 330 megawatt yang berlokasi di Tapanuli Utara,” ungkap Riza.
Lapangan Sarulla dikenal sebagai salah satu wilayah kerja panas bumi terbesar di Indonesia dari sisi konsesi. Di balik kapasitas yang sudah beroperasi, potensi sumber daya yang tersimpan disebut masih jauh lebih besar.
“Secara konsensi, Sarula ini paling besar di Indonesia.”
“Jadi secara resource potensial itu bisa sekitar 1.000 megawatt. walaupun memang yang kita baru kembangkan 330 megawatt,” tambahnya.
Kejar Potensi 1.000 MW, Tapi Tunggu Hitungan Ekonomi
Pengeboran tahun ini akan menjadi fondasi dalam menentukan langkah ekspansi berikutnya. Jika hasilnya positif dan menunjukkan cadangan yang layak dikembangkan, perusahaan membuka peluang menambah kapasitas pembangkit.
Namun, Riza menekankan bahwa pengembangan hingga mendekati 1.000 MW tidak semata-mata soal potensi teknis, tetapi juga harus layak secara bisnis.
“Untuk kita mengembangkan sampai 1000 MW tentunya kan balik lagi, investor ekonomi apa enggak nih?” Ucapnya.
Menurut dia, skema harga patokan tertinggi (HPT) dalam Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022 menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan kelayakan proyek panas bumi.
Karena itu, perusahaan berharap ada kebijakan yang mampu memperkuat keekonomian proyek agar rencana ekspansi dapat direalisasikan.
Permintaan Listrik Sumatra Tumbuh
Dari sisi pasar, Sarulla melihat peluang di Sumatra masih terbuka lebar. Pertumbuhan konsumsi listrik dan dorongan peningkatan bauran energi baru terbarukan (EBT) dinilai menjadi kombinasi positif bagi proyek panas bumi.
“Apalagi demand di Sumatra juga bagus, dan juga enggak cuma dari sisi demand-nya yang growth, tapi kan juga porsi dari EBT-nya terus digenjot,” jabarnya.
Riza juga menilai kualitas sumber daya Sarulla berada di level yang kompetitif secara global. Kendati demikian, realisasi pengembangan lanjutan tetap akan mempertimbangkan kalkulasi ekonomi dan kepastian regulasi.
“Saya yakin lah, Sarulla ini salah satu resource yang terbaik di dunia,” cetusnya.
Dengan kapasitas terpasang 330 MW dan potensi yang bisa menyentuh sekitar 1.000 MW, Sarulla menjadi salah satu proyek panas bumi strategis di Sumatra. Tahun ini akan menjadi penentu, apakah ekspansi besar-besaran benar-benar bisa dimulai atau masih menunggu perbaikan iklim investasi.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















