Jakarta, Beritageothermal.com – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) tengah mengembangkan proyek percontohan pusat data ramah lingkungan atau green data center yang seluruh kebutuhan listriknya bersumber dari energi panas bumi. Proyek ini digadang-gadang menjadi yang pertama di dunia dengan sistem pasokan listrik geothermal secara mandiri tanpa terhubung dengan pembangkit energi lainnya.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani mengatakan, pengembangan tersebut menjadi langkah perusahaan untuk membuktikan kemampuan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dalam memasok kebutuhan listrik pusat data secara berkelanjutan.
“Nanti ini menjadi green data center geothermal pertama, mungkin, di dunia, ya. Yang tidak terkoneksi dengan sumber lain,” ujar Ahmad Yani dalam Media Briefing Laporan Keuangan Kuartal III-2026 PT Pertamina Geothermal Energy Tbk di Jakarta, Rabu.
Menurut Yani, keunggulan utama proyek tersebut terletak pada sumber energi yang digunakan. Seluruh pasokan listrik pusat data nantinya hanya mengandalkan panas bumi, tanpa tambahan suplai dari pembangkit listrik lain.
Dengan konsep tersebut, PGE ingin menunjukkan bahwa energi geothermal mampu menjadi sumber listrik utama untuk mendukung operasional industri pusat data yang membutuhkan pasokan energi secara stabil.
“Kami tekankan keunikan dari pilot project green data center ini, jadi kami murni dari geothermal, tidak tergantung dengan energi-energi lain,” kata Yani.
Kamojang Disiapkan untuk Proyek Percontohan 5 MW
PGE memilih kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sebagai lokasi pengembangan proyek percontohan tersebut.
Dalam tahap awal, perusahaan mengalokasikan kapasitas listrik sebesar 5 megawatt (MW) dari PLTP Kamojang untuk mendukung operasional green data center.
Ahmad Yani menjelaskan, dari sisi teknologi, kajian untuk proyek percontohan tersebut telah diselesaikan. Saat ini, perusahaan mulai mengkaji aspek komersial dan regulasi yang diperlukan sebelum pengembangan memasuki tahapan berikutnya.
“Secara studi teknologinya sudah kami jalankan, sudah fix. Nah, sekarang masuk ke tahap bagaimana commerciality, bagaimana regulasi, nah ini sedang kaji menuju ke sana,” ujar Yani.
Selain menguji kemampuan pasokan listrik panas bumi, proyek tersebut juga menjadi sarana untuk membuktikan kesiapan teknologi dan aspek lingkungan dalam pengembangan pusat data.
Salah satu perhatian yang ingin dijawab PGE adalah kekhawatiran masyarakat mengenai kebutuhan air dan potensi dampak lingkungan dari pembangunan fasilitas pusat data.
“Nah ini kami coba dengan pilot project untuk memperlihatkan itu. Proof of concept dari teknologi, aspek lingkungan, dan commerciality-nya,” ujar Yani.
Melalui proyek percontohan ini, PGE ingin mendapatkan gambaran mengenai kelayakan teknologi, dampak lingkungan, serta potensi bisnis sebelum konsep serupa diterapkan di lokasi lain.
Sebelumnya, pengembangan green data center di Kamojang juga diarahkan untuk menguji model bisnis, mengidentifikasi kebutuhan calon pengguna, sekaligus mempersiapkan pasar bagi pemanfaatan listrik panas bumi di sektor pusat data.
PGE Dorong Dukungan Regulasi dan Investasi
Di luar kesiapan teknologi, PGE menilai pengembangan pusat data berbasis energi baru terbarukan (EBT) membutuhkan dukungan kebijakan dan ekosistem bisnis yang memadai.
Ahmad Yani menyebut terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat agar pemanfaatan panas bumi untuk industri pusat data dapat berkembang secara optimal.
Pertama, penyempurnaan regulasi tarif listrik agar lebih kompetitif, transparan, dan memiliki kepastian bagi pelaku usaha. Kedua, perluasan pemanfaatan insentif fiskal serta skema pembiayaan hijau atau green financing.
Selanjutnya, diperlukan sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan kelistrikan, Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PPA), serta target Commercial Operation Date (COD).
Langkah lainnya adalah menyesuaikan strategi pengembangan proyek dengan kebijakan pemerintah dalam penyusunan peta jalan atau blueprint pengembangan industri pusat data dan panas bumi nasional.
“Ketiga, memperkuat sinkronisasi WKP, RUPTL, jaringan, PPA, dan target COD. Keempat, diperlukan penyesuaian strategi dengan kebijakan pemerintah dalam blueprint pengembangan data center sekaligus panas bumi nasional,” ujar Ahmad Yani.
Berpeluang Dikembangkan di Wilayah Kerja Panas Bumi Lainnya
PGE berharap keberhasilan proyek percontohan di Kamojang dapat menjadi pijakan untuk memperluas pemanfaatan energi panas bumi bagi industri pusat data di Indonesia.
Apabila aspek teknologi, lingkungan, regulasi, dan keekonomian dapat dibuktikan melalui proyek tersebut, peluang pengembangan green data center terbuka di wilayah kerja panas bumi lainnya.
Langkah ini sekaligus menjadi upaya memperluas pemanfaatan energi panas bumi, tidak hanya untuk memasok kebutuhan listrik konvensional, tetapi juga mendukung pertumbuhan industri digital yang membutuhkan energi dalam jumlah besar dan berkelanjutan.
Pengembangan pusat data berbasis geothermal tersebut diharapkan dapat mempertemukan dua sektor strategis, yakni energi bersih dan ekonomi digital, sekaligus memperkuat posisi panas bumi dalam mendukung transisi energi nasional.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















