Jakarta, Berita Geothermal – Upaya menurunkan emisi di sektor infrastruktur energi mulai bergeser ke wilayah hilir. Salah satunya melalui pemanfaatan energi panas bumi untuk menopang operasional terminal LPG yang selama ini bergantung pada pasokan listrik konvensional.
Langkah tersebut ditandai dengan dimulainya inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong di Cilegon, Banten. Program ini dibuka lewat Kick Off ESG Initiative Green Terminal Tanjung Sekong yang digelar di Terminal LPG Tanjung Sekong.
Dalam inisiatif tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengambil peran dengan menghadirkan solusi energi rendah emisi berbasis panas bumi. Keterlibatan ini menjadi bagian dari strategi pemanfaatan panas bumi secara menyeluruh untuk mendukung keberlanjutan infrastruktur energi strategis nasional.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani, mengatakan integrasi panas bumi ke sektor hilir merupakan langkah konkret dalam memperluas nilai tambah energi terbarukan.
“PGE memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi melalui pemanfaatan panas bumi sebagai sumber energi bersih yang andal dan berkelanjutan. Melalui pengembangan green hydrogen berbasis panas bumi, kami mendorong pemanfaatan end-to-end panas bumi tidak hanya untuk penyediaan listrik, tetapi juga untuk menciptakan nilai tambah dan mendukung penerapan energi rendah karbon pada fasilitas energi strategis,” kata Ahmad Yani, seperti dikutip dari keterangan resmi, Kamis (12/2/2026).
Green Hydrogen Jadi Penggerak
Kontribusi PGEO dalam proyek ini diwujudkan melalui pengembangan green hydrogen berbasis panas bumi yang bersumber dari Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Ulubelu, Lampung. Skema tersebut dikembangkan sebagai proyek percontohan untuk mendukung sistem pembangkit listrik rendah karbon di Terminal Tanjung Sekong.
Targetnya, porsi pemanfaatan listrik rendah karbon di terminal ini meningkat secara bertahap hingga sekitar 25 persen dari total kebutuhan listrik operasional.
Integrasi energi panas bumi ke dalam ekosistem terminal juga menjadi bagian dari sinergi lintas entitas di lingkungan Pertamina Group. Tujuannya, menekan emisi dari penggunaan listrik operasional sekaligus membangun model dekarbonisasi yang dapat direplikasi di fasilitas energi strategis lainnya.
Peran Vital Terminal Tanjung Sekong
Terminal LPG Tanjung Sekong dikelola oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET) dan merupakan salah satu simpul utama distribusi LPG nasional. Terminal ini memiliki kapasitas penyimpanan hingga 98.000 metrik ton (MT) dan mampu melayani kapal berkapasitas sampai 65.000 deadweight tonnage (DWT).
Sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional dipasok dari terminal ini, menjadikannya bagian penting dalam menjaga ketahanan energi rumah tangga.
Melalui inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong, PGEO kembali menegaskan arah pengembangan panas bumi secara end-to-end, termasuk inovasi produk turunan seperti green hydrogen, untuk mendukung target transisi energi nasional menuju Net Zero Emission 2060.
Kegiatan kick off ini dihadiri jajaran pimpinan Pertamina Group, antara lain Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono, Direktur Utama PT Pertamina Energy Terminal Bayu Prostiyono, Direktur Operasi PT Pertamina Energy Terminal Rangga Raditya, serta jajaran direksi dan manajemen Pertamina Group lainnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















