Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) memperjelas hubungan bisnisnya dengan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dalam pengelolaan aset panas bumi. PGEO menyebut hubungan kedua perusahaan merupakan kemitraan melalui skema Joint Operating Contract (JOC).
Melalui skema tersebut, BREN berperan sebagai partner dalam pengelolaan wilayah kerja panas bumi PGEO. Sementara itu, PGEO mendapatkan royalti dari aktivitas pengelolaan working area tersebut.
Direktur Keuangan PGEO Fransetya Hasudungan Hutabarat menjelaskan posisi BREN sebagai mitra PGEO dalam skema JOC. Penjelasan itu disampaikan ketika dirinya menjawab pertanyaan investor terkait hubungan kedua perusahaan dalam bisnis panas bumi.
“Perlu juga disampaikan bahwa BREN merupakan partner PGEO di dalam bentuk JOC. Di mana perseroan mendapatkan royalti dari pengelolaan working area PGEO oleh BREN,” kata Fransetya dalam Surabaya Investor Meeting and Connectivity 2026, dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (10/8/2026).
PGEO Kejar Kapasitas 1 GW
Di tengah kemitraan tersebut, PGEO terus menggenjot ekspansi kapasitas pembangkit panas bumi. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW).
Sejumlah proyek masuk dalam daftar prioritas pengembangan, termasuk cogeneration serta proyek Hululais Unit 1 dan Unit 2.
Selain mengandalkan pertumbuhan organik melalui proyek baru, PGEO juga membuka opsi ekspansi melalui akuisisi aset panas bumi.
Fransetya menyebut akuisisi dapat menjadi jalan lebih cepat bagi PGEO untuk mencapai target 1 GW, dengan catatan perusahaan menemukan aset yang memiliki kualitas dan prospek yang baik.
PGEO juga masih mengkaji peluang untuk meningkatkan pemanfaatan wilayah kerja yang telah dimiliki. Tingkat utilisasi working area dinilai berpotensi mencapai 100% apabila permintaan listrik dari PT PLN (Persero) meningkat.
Cogeneration Jadi Strategi Tambah Produksi
Untuk meningkatkan output pembangkit, PGEO mengembangkan proyek cogeneration. Proyek tersebut dinilai mampu memberikan tambahan produksi dengan kebutuhan belanja modal dan tingkat risiko yang relatif lebih rendah.
Selain itu, perseroan menjalankan program production excellence untuk meningkatkan efisiensi dan mengoptimalkan produksi uap serta listrik dari aset panas bumi yang sudah beroperasi.
Dari sisi regulasi, PGEO juga mendorong pemerintah melakukan perubahan terhadap Perpres No. 112/2022.
Perseroan menilai revisi aturan tersebut penting untuk meningkatkan keekonomian proyek panas bumi. Jika regulasi mengalami perubahan sesuai usulan industri, kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi katalis terhadap peningkatan profitabilitas PGEO maupun perusahaan panas bumi lainnya.
Capacity Factor Panas Bumi Capai 90%
PGEO menilai panas bumi memiliki keunggulan karena merupakan sumber energi base load. Karakteristik tersebut membuat pembangkit panas bumi dapat menghasilkan listrik secara relatif stabil.
Saat ini, capacity factor pembangkit PGEO disebut mampu mencapai sekitar 90%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan sejumlah pembangkit energi terbarukan lain yang produksinya lebih bergantung pada kondisi alam.
Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga surya yang sangat dipengaruhi ketersediaan sinar matahari.
Untuk penjualan listrik, PGEO saat ini masih memiliki satu konsumen, yakni PLN. Kondisi tersebut mengikuti ketentuan pemerintah yang berlaku.
Adapun rata-rata harga jual listrik dan uap PGEO berada di kisaran US$0,082 per kWh.
Mayoritas Proyek PGEO Masih Pakai Harga Lama
PGEO menjelaskan sebagian besar proyek yang saat ini dimiliki perseroan masih menggunakan harga sebelum pemberlakuan Perpres No. 112/2022.
Hal tersebut berkaitan dengan perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) untuk sejumlah wilayah kerja PGEO yang telah ditandatangani sebelum regulasi tersebut diterapkan.
Kondisi harga tersebut menjadi salah satu alasan PGEO terus mendorong adanya penyesuaian kebijakan agar keekonomian pengembangan panas bumi menjadi lebih kompetitif.
Mulai Raup Pendapatan dari Carbon Credit
Ekspansi bisnis PGEO tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas pembangkit. Perseroan juga mulai mengembangkan bisnis turunan melalui perdagangan karbon.
Hingga Juni 2026, PGEO mencatat transaksi carbon credit sebesar US$42.000.
Transaksi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengembangkan sumber pendapatan baru dari ekosistem panas bumi sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul dari perdagangan karbon.
Green Hydrogen Masih Tahap Pilot Project
PGEO juga mengidentifikasi peluang di sektor green hydrogen. Namun, bisnis tersebut masih berada dalam fase proyek percontohan dan kajian keekonomian.
Perseroan memperkirakan kebutuhan terhadap green hydrogen dan green ammonia berpotensi meningkat pada masa mendatang.
Pemanfaatan hidrogen hijau pun dinilai tidak hanya terbatas pada sektor transportasi. Komoditas tersebut berpeluang digunakan dalam berbagai kebutuhan industri, termasuk sektor kilang dan terminal.
Dengan kombinasi ekspansi kapasitas, optimalisasi aset eksisting, peluang akuisisi, perdagangan karbon hingga pengembangan green hydrogen, PGEO berupaya memperluas sumber pertumbuhan bisnis panas bumi sekaligus mengejar target kapasitas terpasang 1 GW.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















