Berita Geothermal –Indonesia dikenal sebagai negeri cincin api, dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia. Ironisnya, dari potensi sekitar 24 gigawatt (GW), baru sekitar 2,6 GW yang dimanfaatkan menjadi listrik. Padahal, panas bumi menyimpan jawaban atas banyak tantangan bangsa—dari krisis energi, perubahan iklim, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Dr. John O’Sullivan, dosen di Geothermal Institute, University of Auckland, Selandia Baru, menegaskan pentingnya peran energi panas bumi bagi negara-negara seperti Indonesia.
“Energi panas bumi dapat menyediakan pasokan listrik yang bersih, murah, dan andal di berbagai negara di seluruh dunia. Di negara-negara seperti Indonesia dan Kenya, energi ini berpotensi menggantikan biomassa dan sumber bahan bakar fosil, mengurangi deforestasi, dan memitigasi perubahan iklim. Sifat energi panas bumi membuatnya tidak dapat diangkut sehingga menciptakan lapangan kerja dan infrastruktur lokal serta peluang bagi berbagai industri di sekitar sumber daya tersebut,” ujar O’Sullivan.
Pernyataan yang diunggah melalui laman Geothermal Institute itu mencerminkan realitas di lapangan.
Tidak seperti batu bara atau minyak yang bisa diperdagangkan lintas daerah, panas bumi hanya bisa dimanfaatkan di lokasi sumbernya. Artinya, keberadaan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) harus memberi dampak langsung: infrastruktur yang lebih baik, tenaga kerja lokal yang terserap, hingga peluang usaha baru bagi masyarakat sekitar.
Itulah wajah energi bersih panas bumi yang dekat dengan rakyat.
Kemudian lebih dari sekadar pembangkit, panas bumi juga dapat menjadi tulang punggung transisi energi Indonesia. Listrik dari PLTP yang stabil bisa berpadu dengan energi surya dan angin yang sifatnya fluktuatif. Kombinasi ini bukan hanya menghadirkan listrik bersih, tetapi juga menjaga keandalan sistem energi nasional.
Dr. O’Sullivan sendiri bukan nama asing di dunia panas bumi Indonesia. Jejaknya tercatat di berbagai forum, mulai dari Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) ke-5 pada 2017. Kemudian pada Mei 2024 lalu, ia hadir kembali sebagai pembicara dalam International Professional Guest Lecture di Institut Teknologi PLN (ITPLN), membawakan topik “Geothermal and its Potential as an Energy Alternative”.
Dengan pengalaman globalnya di Asia, Afrika, Eropa hingga Australia, O’Sullivan menekankan bahwa panas bumi bukan sekadar teknologi pembangkit, melainkan pintu masuk menuju pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Di tengah krisis energi dan ancaman perubahan iklim, pesan ini layak direnungkan: panas bumi bukan hanya tentang energi bersih, tetapi juga tentang menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat di kaki gunung api Indonesia.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















