Berita Geothermal — Anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar mendesak pihak kepolisian mengusut tuntas kasus kematian aktivis lingkungan Flores, Rudolfus Oktavianus Ruma alias Vian Ruma (30).
Yulian Gunhar menegaskan, pengungkapan kasus kematian Vian Ruma yang transparan sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.
“Jangan sampai kasus ini melahirkan kecurigaan di tengah masyarakat, terkait pembungkaman para aktivis lingkungan,” tegasnya dalam keterangan tertulisnya Rabu (10/9).
Yulian pun menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga almarhum Vian Ruma. Menurutnya, kepergian Vian bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga kehilangan bagi gerakan lingkungan yang selama ini diperjuangkannya.
Sementara itu, Kepolisian Resor Nagekeo, Polda NTT, terus mendalami kasus kematian Vian Ruma. Selain aktivis lingkungan, Vian juga seorang guru Matematika di SMPN 1 Nangaroro.
Vian Ruma ditemukan tewas pada Jumat (5/9) di sebuah pondok sederhana di Kampung Wodo Mau, Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, dengan kondisi leher terikat tali sepatu.
Kapolres Nagekeo, AKBP Rachmad Muchamad Salili, mengatakan pihaknya berencana melakukan ekshumasi jenazah korba untuk kepentingan autopsy.
Ditambahkannya, pihaknya pun telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk kepala desa, ketua RT, keluarga, hingga warga yang pertama kali menemukan korban.’
“Kami masih melakukan pendalaman. Untuk memastikan penyebab kematian korban, kami akan berkoordinasi dengan pihak keluarga terkait rencana ekshumasi dan autopsi,” ujarnya, Rabu (10/9).
Hasil visum luar tidak mampu memastikan penyebab kematian karena kondisi jasad sudah membusuk. Diduga, korban telah meninggal sekitar empat hari sebelum ditemukan.
Posisi tubuh korban saat ditemukan juga menimbulkan tanda tanya, karena lututnya masih menekuk dan telapak kaki menyentuh lantai bambu. Barang-barang pribadi korban, termasuk telepon genggam, tas, sepatu, dan sandal, masih berada di sekitar tubuh, sementara sepeda motornya ditemukan di luar pondok.
Kematian Vian memunculkan reaksi dari keluarga, kerabat, hingga sesama aktivis. Mereka menilai ada kejanggalan yang harus diungkap, bahkan sejumlah sahabatnya menginisiasi petisi di media sosial menuntut transparansi penyelidikan.
Profil Vian Ruma
Vian Ruma dikenal luas sebagai sosok muda yang berkomitmen pada pendidikan dan lingkungan. Lahir dan besar di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, ia menempuh pendidikan tinggi di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang.

Ia pun ktif dalam berbagai organisasi mahasiswa, termasuk PMKRI Cabang Kupang dan Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Keo Tengah (Himplket), yang pernah ia pimpin pada 2016–2017.
Usai menyelesaikan studi, Vian kembali ke kampung halaman dan mengabdi sebagai guru Matematika di SMPN 1 Nangaroro. Bahkan Vian Ruma telah berstatus ASN P3K.
Di luar profesinya, ia aktif dalam kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) serta komunitas lingkungan seperti Kelompok Orang-Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI) NTT. Vian dikenal tegas menolak proyek geothermal di Flores dan tak segan turun langsung membersihkan sampah di lokasi wisata Nagekeo.
Kematian Vian Ruma meninggalkan duka sekaligus misteri besar. Polisi berjanji akan mengusut kasus ini hingga tuntas.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















