Berita Geothermal – – Kamojang dan Kawah Kereta Api bukan hanya perwujudan anugerah panas bumi, tetapi juga taman hening bagi jiwa-jiwa yang ingin mendengar suara alam berbicara.
Kawah Kereta Api mengeluarkan suara desis bergemuruh seolah kereta purba dari dalam bumi yang terus melaju, menderu, mengabarkan bahwa kehidupan masih bergolak di kedalaman.
Kawah ini bukan kawah biasa. Ia adalah saksi bisu dari aktivitas geotermal yang telah berlangsung sejak era Hindia Belanda. Dulu, para insinyur kolonial menggali tanah di Kamojang untuk mencari sumber energi. Kini, warisan itu menjelma jadi keajaiban alam yang memesona dan mengundang decak kagum siapa pun yang datang.
Rabu (30/7), Kamojang tak hanya disambangi oleh wisatawan biasa, tetapi oleh para penyair yang datang untuk menyelami lanskap puitis Kawah Kereta Api.
Di antara mereka, ada Marlin Dinamikanto, penyair Yogyakarta dan Subhan Ihsan, penyair asal Cianjur. Ihsan tak kuasa menyembunyikan keterpukauannya.
“Kamojang alamnya sangat puitis,” ucap Ihsan. Mata menyapu seluruh penjuru Kamojang. Ia kemudian membacakan bait-bait puisi yang ia ciptakan secara spontan.
Deru kawah, kabut yang menari, kepulan uap yang perlahan membubung—semuanya menyatu dalam larik-larik yang lahir dari keheningan dan kekaguman.
Benar kata Ichsan. Kawah Kereta Api dan Kamojang bukan hanya lanskap destinasi wisata alam, melainkan juga puisi dan ruang kontemplasi. Suara desis dari dalam bumi terasa seperti panggilan purba, mengingatkan bahwa manusia hanyalah titik kecil di tengah gelombang energi alam yang tak pernah tidur.
Beberapa meter dari Kawah Kereta Api, berdiri sebuah podium dan tribun kecil—sering dijadikan arena pertunjukan seni. Di belakangnya, deretan tenda putih berdiri tenang, tempat para pengunjung beristirahat.
Marlin Dinamikanto juga turut menyelami suasana Kamojang. Ia berdiri sejenak, matanya melihat ke sekeliling, sementara rambutnya yang panjang tampak dimainkan angin.
Marlin tampak larut dalam hawa sejuk dan kepulan uap yang muncul dari celah-celah tanah.
Barangkali, bagi Marlin dan penyair-penyair lainnya, Kamojang bukan hanya tempat, melainkan ruang batin yang menenangkan—tempat di mana alam bicara dengan bahasa yang tak bisa dibohongi.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















