Flores Timur, Beritageothermal.com – Rencana pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Oka Ile Ange di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai dibahas melalui koordinasi awal antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak terkait.
Di tengah rencana pemanfaatan potensi energi panas bumi tersebut, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen meminta aspek lingkungan dan kondisi sosial masyarakat menjadi perhatian utama.
Hal itu disampaikan Doni Dihen dalam rapat koordinasi awal pengembangan WKP Oka Ile Ange yang turut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PLN secara daring.
Doni Dihen mengatakan pengembangan panas bumi berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi daerah maupun masyarakat. Namun, menurutnya, potensi tersebut harus diimbangi dengan kajian yang matang sebelum pengembangan masuk ke tahapan berikutnya.
Ia menilai kajian mengenai panas bumi tidak bisa hanya dilihat dari satu perspektif. Sejumlah disiplin ilmu dan tenaga ahli perlu dilibatkan untuk memastikan berbagai potensi dampak dapat diidentifikasi dan dikendalikan sejak awal.
Menurut Doni Dihen, kehati-hatian menjadi penting karena pengembangan panas bumi juga berkaitan dengan kondisi sosial masyarakat di sejumlah wilayah Flores.
“Karena itu, bagi orang-orang awam ketika bicara soal pengeboran di sana untuk kepentingan panas bumi tentu sangat sensitif,” ujarnya.
Ia menegaskan potensi ekonomi yang dihasilkan dari WKP Oka Ile Ange tidak seharusnya mengesampingkan aspek lingkungan. Pemerintah dan pihak terkait diminta memastikan kegiatan pengembangan tidak menimbulkan persoalan lingkungan yang sulit dipulihkan di kemudian hari.
Salah satu langkah yang dinilai penting ialah memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui sosialisasi sebelum pengembangan dilanjutkan.
“Sosialisasi tidak boleh omong-omong semata,” kata Doni Dihen.
Potensi Panas Bumi Oka Ile Ange
WKP Oka Ile Ange menjadi salah satu wilayah yang disiapkan untuk pengembangan panas bumi di Pulau Flores. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 2849.K/30/MEM/2012, wilayah kerja tersebut memiliki luas sekitar 12.510 hektare.
Potensi panas bumi di WKP Oka Ile Ange diperkirakan mencapai sekitar 40 megawatt (MW). Adapun kapasitas pengembangan awal yang direncanakan berada pada kisaran 10-15 MW.
Pengembangan Oka Ile Ange juga berkaitan dengan rencana Flores Geothermal Island, yakni pemanfaatan potensi panas bumi untuk mendukung pengembangan energi bersih di Pulau Flores.
Dari sisi pemerintah pusat, Koordinator Pelayanan dan Bimbingan Usaha Panas Bumi pada Direktorat Panas Bumi, Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Budi Herdiyanto, memastikan setiap tahapan pengembangan akan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.
Tahapan tersebut mencakup proses survei, pengeboran hingga penyaluran listrik kepada masyarakat. Seluruh proses, kata Budi, akan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP).
“Kami juga memahami bahwa mulai dari pemilihan lokasi kami juga memohon perijinan, kami menyadari bahwa sedari awal kami juga harus sejalan dengan sistem administrasi dari Pemerintah Daerah,” kata Budi.
“Kami juga akan selalu bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah terkait hal-hal yang harus dilakukan sampai selesai. Kami juga memastikan standar standar tersebut sesuai dengan SOP sehingga bisa menimalisir dampak dampak terkait eksporasi panas bumi ini,” sambungnya.
Koordinasi awal tersebut selanjutnya akan dilanjutkan melalui pertemuan teknis. Pertemuan itu akan membahas secara lebih rinci tahapan serta langkah yang diperlukan dalam rencana pengembangan WKP Oka Ile Ange.
Dengan demikian, pembahasan pengembangan panas bumi di Oka Ile Ange tidak hanya berkaitan dengan besarnya potensi energi yang dapat dimanfaatkan. Aspek lingkungan, kesiapan wilayah, prosedur pengembangan, serta penerimaan dan kondisi masyarakat sekitar juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan sejak tahap awal.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini















