Tomohon, Beritageothermal.com – Upaya membangun pembangkit listrik berbasis energi bersih tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kepercayaan masyarakat juga menjadi faktor penentu. Atas dasar itu, PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Maluku dan Papua (UIP MPA) mengajak puluhan warga Halmahera Selatan melihat langsung operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Sebanyak 66 peserta mengikuti studi lapangan tersebut pada Kamis (25/6/2026). Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan, Pemerintah Kecamatan Bacan Timur, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda hingga perwakilan warga dari Desa Tawa, Desa Songa, dan Desa Wayaua.
Kegiatan itu bukan sekadar kunjungan industri. PLN ingin memperlihatkan secara langsung bagaimana pembangkit panas bumi dapat beroperasi tanpa mengganggu kehidupan masyarakat maupun kelestarian lingkungan.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari tahapan persiapan pembangunan PLTP Tawa Songa Wayaua berkapasitas 10 megawatt (MW) yang akan dikembangkan di Halmahera Selatan. Proyek itu masuk dalam agenda pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk memperkuat pasokan listrik sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia.
Selama berada di Lahendong, rombongan mengunjungi fasilitas Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang dikelola PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE). Mereka juga berdialog langsung dengan masyarakat sekitar yang telah hidup berdampingan dengan pembangkit selama lebih dari 20 tahun.
Diskusi tersebut memberikan gambaran mengenai dampak operasional PLTP terhadap aktivitas ekonomi warga, kondisi lingkungan, hingga peluang yang muncul setelah kawasan tersebut berkembang menjadi wilayah energi panas bumi.
Para peserta turut menyaksikan praktik pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik. Uap panas bumi dimanfaatkan untuk mendukung proses produksi gula aren, sementara aktivitas perkebunan dan peternakan masyarakat tetap berjalan seperti biasa. Kondisi tersebut menjadi contoh penerapan direct use geothermal yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Kepala Desa Tawa, Lonly Loleo, mengaku kunjungan tersebut mengubah cara pandang masyarakat terhadap proyek panas bumi.
“Selama ini masyarakat memiliki pertanyaan mengenai dampak pembangkit panas bumi terhadap lingkungan dan kehidupan sehari-hari. Setelah melihat langsung PLTP Lahendong dan berdialog dengan masyarakat sekitar, kami memperoleh gambaran yang sangat jelas bahwa pembangkit ini dapat berjalan berdampingan dengan lingkungan maupun aktivitas masyarakat. Kami melihat sendiri perkebunan tetap produktif, peternakan berjalan normal, bahkan panas bumi mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekitar,” ungkap Lonly.
PLTP Lahendong saat ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 120 MW. Pembangkit tersebut menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan listrik di sistem Sulawesi Utara-Gorontalo (Sulutgo) dengan kontribusi sekitar 21 persen terhadap total produksi listrik kawasan tersebut. Kehadirannya juga menjadi bagian penting dalam peningkatan bauran energi baru terbarukan di wilayah timur Indonesia.
General Manager PLN UIP MPA Raja Muda Siregar menilai keterbukaan informasi menjadi langkah penting agar masyarakat memahami manfaat pengembangan energi panas bumi.
“PLN meyakini keberhasilan pengembangan energi panas bumi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh tumbuhnya kepercayaan masyarakat. Oleh karena itu, kami menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat sendiri bagaimana PLTP beroperasi, berinteraksi langsung dengan warga yang telah merasakan manfaatnya, serta memperoleh informasi secara utuh berdasarkan pengalaman nyata di lapangan,” katanya.
Menurut Raja Muda, pengalaman yang diperoleh masyarakat di Lahendong diharapkan menjadi bekal dalam memahami pengembangan PLTP Tawa Songa Wayaua yang akan dibangun di Halmahera Selatan.
“PLTP Lahendong membuktikan pengelolaan panas bumi yang dilakukan dengan standar teknologi dan prinsip keberlanjutan mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami berharap pengalaman ini memberikan keyakinan bahwa proyek PLTP Tawa Songa Wayaua nantinya akan menjadi sumber energi bersih yang tidak hanya meningkatkan keandalan sistem kelistrikan, tetapi juga membuka peluang kerja, mendorong aktivitas ekonomi lokal, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat Halmahera Selatan,” ungkapnya.
PLN menegaskan pengembangan proyek panas bumi tersebut akan tetap mengacu pada prinsip Good Corporate Governance (GCG), memenuhi seluruh ketentuan lingkungan, serta melibatkan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan agar proses pembangunan berjalan transparan, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















