Cianjur, Berita Geothermal – Wacana pemanfaatan energi panas bumi di kawasan Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mulai menjadi perbincangan di kalangan masyarakat setempat. Proyek energi terbarukan yang sedang direncanakan itu dinilai memiliki potensi besar, namun di sisi lain juga memunculkan sejumlah kekhawatiran terkait dampaknya terhadap lingkungan dan kawasan konservasi.
Topik tersebut dibahas dalam sebuah forum diskusi yang digelar warga Kecamatan Pacet di Vila 45 Cipendawa. Pertemuan yang berlangsung menjelang waktu berbuka puasa itu menghadirkan pakar panas bumi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ali Ashat, untuk menjelaskan berbagai aspek teknis dan lingkungan dari rencana proyek geothermal tersebut.
Ali menjelaskan bahwa informasi awal mengenai potensi panas bumi biasanya hanya memberikan gambaran umum pada tingkat regional. Data tersebut belum cukup untuk menentukan secara pasti lokasi pengeboran sumber energi panas bumi.
Menurutnya, untuk menetapkan titik eksplorasi yang akurat diperlukan penelitian lanjutan yang jauh lebih rinci. Proses tersebut mencakup kajian geologi mendalam serta pengeboran eksplorasi guna memastikan keberadaan sumber panas bumi di bawah permukaan.
Ia menambahkan, proyek panas bumi tidak hanya berkaitan dengan potensi energi, tetapi juga harus mempertimbangkan berbagai tantangan yang menyertainya.
“Selain beban biaya dan aspek teknis, dampak terhadap ekosistem menjadi poin krusial yang tidak boleh terabaikan,” dikutip, Senin (16/3/2026).
Ali juga menyinggung kemungkinan dampak pembangunan infrastruktur pendukung proyek, seperti akses jalan menuju lokasi pengeboran. Jika tidak dirancang dengan cermat, pembangunan tersebut berpotensi memicu fragmentasi habitat yang dapat memengaruhi keseimbangan lingkungan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan kawasan konservasi.
Untuk mengurangi dampak tersebut, ia menyarankan pendekatan low footprint geothermal development. Konsep ini menekankan pembangunan yang meminimalkan pembukaan lahan, dilakukan secara bertahap, serta disertai pemantauan lingkungan yang ketat.
Selain persoalan lingkungan, Ali juga menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai potensi gempa kecil yang dapat dipicu oleh aktivitas panas bumi atau yang dikenal sebagai induced seismicity.
Ia menjelaskan bahwa gempa yang berkaitan dengan aktivitas geothermal umumnya berskala kecil dan tidak menimbulkan kerusakan. Fenomena ini berbeda dengan gempa tektonik alami yang sering terjadi di Indonesia.
Sementara itu, analis Rumah Bersama Urang Cianjur (RBUC), Ridwan Marcell, menilai pentingnya keterbukaan informasi ilmiah kepada masyarakat terkait rencana proyek tersebut.
Menurut Ridwan, diskusi antara masyarakat, pemerintah, dan para ahli perlu terus dilakukan agar setiap tahapan proyek dapat dipahami secara jelas oleh warga.
Ia juga menyebut masih ada sejumlah kekhawatiran yang disampaikan masyarakat, terutama terkait potensi dampak terhadap sumber air serta mekanisme pengawasan proyek ke depan.
Karena itu, Ridwan berharap forum dialog semacam ini tidak berhenti pada satu pertemuan saja. Warga di sekitar kawasan Gunung Gede Pangrango, menurutnya, masih membutuhkan ruang diskusi yang lebih luas untuk menyampaikan aspirasi dan mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif mengenai rencana pengembangan panas bumi di wilayah tersebut.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini


















