Jakarta, Berita Geothermal – Kinerja bisnis PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Perusahaan pengembang energi panas bumi tersebut berhasil membukukan pendapatan tertinggi sejak berdiri, seiring meningkatnya produksi panas bumi yang dikelola perseroan.
Dalam laporan kinerja tahunan, PGEO mencatat pendapatan sebesar US$ 432,73 juta pada 2025. Capaian tersebut meningkat 6,29% dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka US$ 407,12 juta.
Pertumbuhan ini terjadi di tengah kondisi industri energi global yang terus berfluktuasi. Meski demikian, perusahaan tetap berfokus memperluas pemanfaatan energi panas bumi sebagai bagian dari kontribusi terhadap pengembangan energi bersih di Tanah Air.
Direktur Keuangan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Yurizki Rio mengatakan pertumbuhan pendapatan mencerminkan fondasi bisnis perusahaan yang tetap kuat. Ia menilai peningkatan kinerja tersebut juga dipengaruhi oleh kinerja operasional yang mencatatkan produksi panas bumi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.
“Pendapatan meningkat secara year on year dan menunjukkan bahwa kinerja PGE tetap berada pada jalur yang sehat. Kondisi ini turut didukung kinerja operasional yang mencatatkan produksi tertinggi sepanjang sejarah dengan kenaikan produksi sebesar 5,6% pada 2025,” ujar Yurizki dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per akhir 2025, perusahaan membukukan laba bersih sebesar US$ 137,67 juta. Sementara itu, total aset perusahaan tercatat mencapai US$ 3,03 miliar dengan kas dan setara kas sebesar US$ 718,50 juta.
Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Ahmad Yani menuturkan bahwa perusahaan terus mengarahkan strategi bisnis untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang melalui optimalisasi potensi energi panas bumi nasional.
Menurutnya, PGEO memiliki ambisi untuk menjadi salah satu produsen panas bumi terdepan di dunia atau world leading geothermal producer. Target tersebut tidak hanya dilihat dari peningkatan kapasitas pembangkit, tetapi juga dari pengakuan global terhadap kemampuan perusahaan dalam mengembangkan energi panas bumi.
“Untuk mencapai tujuan tersebut, perseroan menjalankan strategi menjaga keandalan operasional pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) eksisting dengan kapasitas 727 megawatt yang dikelola secara mandiri, mendorong ekspansi bisnis, serta mengembangkan sumber pendapatan masa depan,” kata Ahmad Yani.
Ia menambahkan bahwa setiap langkah ekspansi dilakukan dengan pendekatan yang terukur, disiplin investasi, serta tetap mengedepankan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan atau ESG.
Dalam mendukung rencana pengembangan bisnis, perusahaan juga terus menyiapkan berbagai proyek panas bumi baru guna meningkatkan kapasitas pembangkit. Secara keseluruhan, perusahaan menargetkan kapasitas terpasang hingga 3 gigawatt (GW) dari 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) yang saat ini berada dalam pengelolaan perusahaan.
Beberapa proyek yang sedang dikembangkan antara lain Lumut Balai Unit 3 dan 4 dengan kapasitas masing-masing 55 MW, Hululais Unit 1 dan 2 dengan kapasitas 110 MW, serta Lahendong Unit 7 dan 8 yang masing-masing memiliki kapasitas 20 MW.
Selain itu, perusahaan juga tengah mengembangkan proyek binary unit berkapasitas 10 MW serta proyek co-generation yang diperkirakan dapat menambah kapasitas hingga sekitar 230 MW.
Upaya pengembangan energi panas bumi juga diperkuat melalui kerja sama dengan perusahaan milik negara lainnya. Pada Agustus 2025, PGEO menandatangani kerja sama dengan PT PLN Indonesia Power untuk mempercepat pengembangan panas bumi melalui 19 proyek eksisting dengan total kapasitas sekitar 530 MW.
Melalui kolaborasi tersebut, potensi tambahan kapasitas pembangkit diperkirakan bisa mencapai hingga 1.130 MW yang berasal dari wilayah kerja yang telah berproduksi maupun area prospektif baru.
Langkah ini sekaligus mendukung target peningkatan porsi pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan hingga 76% pada periode 2025–2034 sebagaimana tercantum dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini




















