Jakarta, Berita Geothermal – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mulai menyiapkan langkah konkret masuk ke pengembangan hidrogen hijau. Melalui proyek percontohan di Ulubelu, Lampung, PGEO menargetkan fasilitas Green Hydrogen dapat mulai beroperasi pada kuartal III-2026 dengan kapasitas produksi sekitar 80–100 kilogram per hari.
Pilot project ini mengandalkan sumber energi panas bumi sebagai penggerak utama proses produksi. Energi tersebut dikombinasikan dengan teknologi elektrolisis berstandar modern yang dirancang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Manager Corporate Communication & CSR Pertamina Geothermal Energy Muhammad Taufik menyampaikan, pengembangan fasilitas ini tidak semata berorientasi pada produksi hidrogen hijau.
“Pilot Project Green Hydrogen Ulubelu dirancang tidak hanya sebagai sarana produksi, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran, uji komersial, dan studi pasar,” dalam keterangan resminya Senin (16/2/2026).
Lebih lanjut, proyek ini diposisikan sebagai fondasi awal PGEO dalam membangun ekosistem hidrogen hijau secara terintegrasi. Inisiatif tersebut diarahkan untuk menopang agenda transisi menuju industri rendah karbon, sekaligus membuka peluang pengembangan solusi energi di luar sektor kelistrikan bagi transportasi dan industri.
Dalam skema pengembangannya, hidrogen hijau hasil produksi Ulubelu akan didistribusikan ke PT Pertamina Energy Terminal Tanjung Sekong. Proses penyaluran dilakukan melalui kerja sama dengan PT Elnusa Petrofin sebagai perusahaan transporter.
Distribusi ini diharapkan mampu meningkatkan pemanfaatan energi hijau di terminal BBM dan LPG. Model tersebut juga disiapkan untuk direplikasi di terminal lain sebagai bagian dari pembentukan rantai pasok hidrogen hijau nasional.
Saat ini, proyek Hidrogen Hijau Ulubelu masih berada pada fase awal. Fokus utama diarahkan pada pengujian teknologi, pemetaan permintaan pasar, pengujian kualitas produk, serta penyiapan ekosistem hilir hidrogen hijau.
Hasil dari tahap ini akan menjadi acuan bagi pengambilan keputusan pengembangan lanjutan dengan skala yang lebih besar dan berorientasi komersial. Pada saat yang sama, PGEO menyiapkan fondasi ekosistem hidrogen hijau yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi dan mendukung transisi energi nasional.
Dalam jangka menengah, PGEO juga melihat peluang hilirisasi hidrogen hijau ke produk turunan bernilai tambah, seperti metanol hijau dan amonia hijau. Arah pengembangan ini sejalan dengan Peta Jalan Hidrogen dan Amonia Nasional yang diterbitkan Kementerian ESDM pada April 2025, yang menargetkan pembangunan ekosistem hidrogen domestik hingga 2060 sebagai bagian dari komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission 2060.
Namun demikian, PGEO mengakui pengembangan hidrogen hijau masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, khususnya terkait kepastian tarif, ketersediaan insentif, serta kejelasan regulasi.
“Untuk menjawab hal tersebut, PGEO bersama Pertamina Group terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan para pemangku kepentingan guna menciptakan iklim yang kondusif dan mempercepat realisasi ekosistem hidrogen hijau di Indonesia,” tandas dia.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















