Jakarta, Berita Geothermal – Indonesia duduk di atas cadangan panas bumi raksasa dunia. Ratusan gunung api aktif di sepanjang jalur Ring of Fire menyimpan energi bersih yang nyaris tak ada habisnya. Namun hingga kini, pemanfaatan geothermal nasional dinilai belum sejalan dengan potensi yang dimiliki.
Pakar geologi dan geofisika Prof. Sukir menilai persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan teknologi maupun sumber daya manusia, melainkan lemahnya keterhubungan antar pemangku kepentingan. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi ilmiah yang membahas keterkaitan energi panas bumi dan kebencanaan.
Menurut Prof. Sukir, pengetahuan ilmiah tentang geothermal masih kerap terjebak di ruang akademik dan tidak sampai ke masyarakat luas. Kondisi ini berdampak pada munculnya resistensi warga terhadap proyek panas bumi di sejumlah daerah.
“Kalau tidak ada kolaborasi kuat, pengetahuan ilmiah tidak sampai ke masyarakat. Ini yang membuat sebagian warga masih resisten terhadap proyek geothermal,” dalam keterangan resminya, Minggu, (15/02).
Padahal, Indonesia memiliki rekam jejak panjang dalam pengembangan panas bumi. PLTP Kamojang menjadi pembangkit panas bumi pertama yang menandai dimulainya pemanfaatan geothermal nasional. Di sisi lain, kawasan seperti Gunung Ijen terus dikembangkan sebagai wilayah eksplorasi potensial.
Meski begitu, Prof. Sukir mencatat pemanfaatan panas bumi Indonesia saat ini baru berkisar 10–20 persen dari total potensi yang tersedia. Cadangan geothermal tersebar luas di berbagai wilayah, mulai dari Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Ia menjelaskan, panas bumi memiliki fleksibilitas pemanfaatan yang luas. Selain diolah menjadi listrik melalui pembangkit tenaga panas bumi, geothermal juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk kebutuhan produktif masyarakat.
Pemanfaatan langsung tersebut antara lain untuk pengeringan hasil pertanian, pengolahan kayu, penyulingan minyak atsiri, hingga pengaturan suhu pada rumah kaca pertanian. Di negara maju seperti Jepang, panas bumi bahkan telah digunakan untuk pemanas ruangan, sistem pengairan pertanian, hingga pengendalian salju di wilayah bersuhu ekstrem.
Lebih jauh, Prof. Sukir menekankan bahwa geothermal tidak bisa dilepaskan dari isu kebencanaan. Aktivitas panas bumi, menurutnya, berkaitan langsung dengan dinamika gunung api. Karena itu, eksplorasi geothermal dinilai dapat berperan dalam pelepasan energi panas dari dalam bumi.
Ia menilai pengalaman erupsi Gunung Semeru menjadi pelajaran penting tentang urgensi pendidikan kebencanaan yang berkelanjutan. Program edukasi yang pernah dilakukan tim akademisi terbukti mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi erupsi lanjutan.
“Mitigasi dan eksplorasi harus berjalan seimbang. Dulu fokus eksplorasi saja, sekarang harus disertai monitoring dan edukasi masyarakat,” tegasnya.
Di ranah pendidikan tinggi, Universitas Brawijaya disebut tengah menyiapkan fasilitas pemantauan gunung api dan geothermal berbasis kolaborasi internasional. Program ini dirancang sebagai sekolah lapangan multidisiplin yang menggabungkan riset energi, kebencanaan, dan edukasi publik.
Menurut Prof. Sukir, pendekatan tersebut penting agar ilmu kebumian tidak berhenti sebagai kajian teoritis, melainkan memberi dampak nyata bagi masyarakat yang hidup di kawasan rawan bencana.
Ia pun berharap pemerintah dapat mengambil peran lebih aktif sebagai penggerak edukasi publik terkait geothermal, sekaligus memastikan setiap kebijakan eksplorasi dibarengi mitigasi bencana dan komunikasi yang terbuka.
“Energi panas bumi adalah masa depan energi bersih Indonesia. Kalau kolaborasi berjalan baik, manfaat ekonomi, lingkungan, dan keselamatan masyarakat bisa dirasakan bersama,” ujarnya.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















