Berita Geothermal – Inovasi pengolahan kopi yang menggabungkan teknologi ramah lingkungan dengan kearifan lokal berhasil mengantarkan kopi Kamojang menembus pasar internasional.
Lewat metode Geothermal Coffee Process (GCP), pemanfaatan panas bumi untuk mengeringkan biji kopi kini menjadi simbol keberhasilan ekonomi berkelanjutan dan kemandirian lokal yang berdampak luas.
GCP bukan sekadar inovasi teknis. Di balik teknologi ini, lebih dari 653 petani lokal terlibat aktif dalam seluruh rantai proses, dari hulu hingga hilir. Model bisnis yang dikembangkan PGE Area Kamojang, Jawa Barat, bersama kelompok petani, prosesor, roaster, dan barista ini membentuk ekosistem usaha kopi yang tak hanya produktif, tapi juga inklusif dan ramah lingkungan.
Geothermal Coffee Process menggunakan uap panas bumi sebagai sumber energi untuk proses pengeringan biji kopi. Metode ini membawa banyak keunggulan dibanding pengeringan konvensional. Selain mengandalkan energi terbarukan dan hemat energi karena memanfaatkan sisa produksi panas yang sebelumnya terbuang, GCP juga mempercepat proses pengeringan secara signifikan.
Contohnya, metode fermentasi dan penjemuran kopi full wash yang biasa memakan waktu hingga 10 hari, kini dapat diselesaikan hanya dalam 2–4 hari menggunakan teknologi geothermal. Bahkan proses natural yang biasanya memerlukan waktu 35–42 hari kini bisa dipersingkat menjadi hanya 7–10 hari.
Tak hanya efisien, metode ini juga meningkatkan higienitas produk. Suhu hangat dan kering di geothermal dry house mencegah fermentasi tidak terkontrol dan melindungi kopi dari kontaminasi eksternal, seperti debu dan asap kendaraan yang dulu sering dikeluhkan petani saat menjemur kopi di pinggir jalan.
Ekspor ke Jepang, Timur Tengah, dan Target Eropa
Keberhasilan GCP bukan hanya soal teknis dan efisiensi, tetapi juga pengaruhnya di pasar global. Kopi Kamojang yang diolah dengan metode ini telah menembus pasar ekspor Asia di antaranya ke Jepang, Riyadh, Jeddah, Dubai, dan Korea Selatan. Keunikan rasa dan konsistensi kualitas yang dihasilkan dari proses ini membuat kopi GCP menjadi primadona baru di pasar internasional.
Salah satu tokoh di balik kesuksesan ini adalah Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah, atau Deden, pemuda asal Kamojang yang menjadi pionir pengembangan GCP.
Deden dan timnya mampu menyerap hingga 20 ton biji kopi dalam satu musim panen. Kini, ia tengah menargetkan ekspansi ke pasar Eropa sekaligus mengurus hak paten atas teknologi GCP untuk melindungi inovasi ini dari klaim pihak asing.
Perusahaan panas bumi PGE Area Kamojang, sebagai penggagas teknologi ini, menyatakan bahwa kolaborasi antara teknologi panas bumi dan komunitas lokal adalah masa depan bisnis yang berkelanjutan.
“Kami percaya, dengan dukungan para petani lokal, mitra komunitas, dan pemanfaatan teknologi geothermal, produk unggulan seperti kopi dapat menjadi simbol ketahanan, inovasi, dan kebanggaan bangsa,” ungkap pihak PGE dalam keterangan tertulisnya dikutip Selasa 15/7).
Keberhasilan GCP menunjukkan bahwa teknologi ramah lingkungan bisa berjalan seiring dengan peningkatan pendapatan petani dan perluasan pasar. Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi, kopi panas bumi dari Kamojang menjadi bukti bahwa inovasi lokal bisa bersaing di kancah global.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















