Jakarta, Beritageothermal.com – Pengembangan energi hijau, termasuk energi panas bumi, dinilai bukan sekadar bagian dari upaya Indonesia melakukan transisi energi. Sektor ini juga berpotensi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur Utama PT Geo Dipa Energi (Persero) Yudistian Yunis mengatakan Indonesia membutuhkan investasi hijau dalam jumlah besar untuk membangun ekosistem energi terbarukan sekaligus menopang pertumbuhan industri hijau.
Menurut Yudistian, kebutuhan investasi hijau Indonesia diperkirakan mencapai US$45 miliar hingga US$60 miliar atau sekitar Rp804,9 triliun-Rp1.073 triliun dengan asumsi kurs Rp17.890 per dolar AS.
Investasi tersebut diperlukan untuk dua sisi utama, yakni penyediaan energi terbarukan dan pengembangan industri hijau.
“Kalau kita proyeksikan di Indonesia maka tambahan investasi hijau yang kita butuhkan untuk melingkar ini itu ada dua hal, sisi penyediaan energinya sama sisi industrinya sendiri itu hampir US$45 miliar sampai US$60 miliar,” ujar Yudistian dalam media gathering, dikutip Senin (5/10/2026).
Investasi Hijau Berpotensi Tambah PDB
Yudistian melihat besarnya kebutuhan investasi tersebut sekaligus menunjukkan peluang ekonomi yang dapat tercipta dari pengembangan ekosistem hijau.
Ia memperkirakan investasi hijau berpotensi memberikan tambahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dalam paparannya, potensinya berada di kisaran 6%.
“Dengan harapan dia bisa menambah potensi tambahan PDB nasional sekitar 6 persen. Mungkin ini terlalu ini, tapi menurut saya maksimum mungkin 6 persen dia bisa nambah,” sambungnya.
Peluang tersebut, kata dia, dapat berasal dari terbentuknya ekosistem industri hijau yang membutuhkan pasokan energi terbarukan. Energi bersih nantinya dapat mendukung berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur berorientasi ekspor, tekstil, kendaraan listrik, pusat data, hingga industri pengolahan mineral.
Kebutuhan listrik untuk industri hijau pada periode 2026-2034 juga diproyeksikan mengalami peningkatan signifikan, yakni sekitar 3,5 hingga 6,3 kali lipat.
Peningkatan itu tidak terlepas dari tuntutan penerapan standar lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG), serta kebutuhan industri untuk mempertahankan akses ke pasar ekspor.
Selain mendorong investasi dan aktivitas industri, pengembangan ekonomi hijau juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Yudistian memperkirakan terdapat potensi pembukaan sekitar 1,8 juta hingga 1,9 juta lapangan kerja hijau pada 2030.
“Karena lapangan kerjanya terbuka, produk-produk hijau ekspor kita itu disukai, memang banyak sekali produk industri kita yang disukai, khususnya kerajinan, barang-barang furniture dan garment itu banyak sekali, tidak tertentu kemungkinan dia akan bisa menambah pembukaan lapangan kerja itu sekitar 1,5 sampai hampir 2 juta lapangan kerja hijau,” ujar Yudistian.
Energi Hijau Bisa Tekan Emisi 151 Juta Ton CO2
Selain manfaat ekonomi, pengembangan energi terbarukan juga dinilai memiliki dampak terhadap upaya pengurangan emisi karbon.
Yudistian mengatakan, dengan dukungan yang kuat, pemanfaatan energi hijau berpotensi mengurangi emisi dari energi fosil hingga setara 151 juta ton CO2.
“Ini peluangnya. Jadi kita mau coba bahwa bagaimana EBT kita itu tidak hanya sekedar kita berlaku perilaku baik sebagai warga dunia, tapi itu menjadi peluang untuk mesin pertumbuhan ekonomi,” imbuhnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa transisi energi dapat ditempatkan bukan hanya sebagai agenda lingkungan, tetapi juga sebagai strategi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru.
Geo Dipa Siapkan Pendanaan Proyek Panas Bumi
Di sisi lain, Geo Dipa Energi tengah menyiapkan berbagai opsi pendanaan untuk mendukung pengembangan proyek panas bumi.
Salah satu opsi yang sedang dikaji adalah penerbitan obligasi. Yudistian mengatakan rencana tersebut berpeluang direalisasikan pada akhir 2027 atau awal 2028.
“Tahun depan itu mau kita bikin kajiannya. Mau kita persiapkan. Mudah-mudahan di akhir tahun atau awal tahun 2028 kita bisa IPO,” katanya kepada awak media saat ditemui di Bogor, Jumat (2/10/2026).
Geo Dipa juga tengah berdiskusi dengan Kementerian Keuangan mengenai kemungkinan penggunaan skema collaborative bond untuk mendukung pembiayaan proyek energi panas bumi.
“Bisa (melakukan collaborative bond). Kan pemerintah kebanyakan bond itu hanya untuk defisit utang aja kan. Mungkin ini bisa dimasukin juga. Itu yang kita lagi bicarakan sama teman-teman di Kemenkeu,” ujarnya.
Namun, karena masih berada dalam tahap pembahasan dan kajian, Yudistian menegaskan belum terdapat kepastian mengenai waktu penerbitan maupun nilai obligasi yang akan dihimpun.
Di sisi lain, peluang pendanaan tersebut disebut telah mendapatkan perhatian dari investor internasional. Yudistian menyebut investor dari Eropa dan Jepang menunjukkan minat terhadap instrumen pembiayaan tersebut.
“Eropa banyak tuh (minat obligasi). Jepang juga minta,” ungkapnya.
Pembiayaan tersebut menjadi salah satu alternatif yang disiapkan Geo Dipa untuk mendukung pengembangan proyek ekstraksi energi panas bumi.
Dalam jangka panjang, Geo Dipa menargetkan pengembangan kapasitas pembangkit listrik berbasis panas bumi hingga mencapai 1 gigawatt dalam 10 tahun ke depan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















