Garut, Berita Geothermal – Di ketinggian sekitar 2.665 meter di atas permukaan laut, Gunung Papandayan menyimpan energi panas bumi yang tak pernah benar-benar padam. Dari aktivitas vulkanik inilah lahir pemandian air panas alami di kawasan Kawah Papandayan, salah satu daya tarik unggulan wisata Garut.
Air hangat yang kini menjadi tempat relaksasi wisatawan itu sejatinya adalah hasil proses geologi panjang selama ratusan tahun.
Terbentuk dari Rangkaian Letusan Besar
Catatan sejarah menyebutkan letusan besar tahun 1772 sebagai peristiwa paling mengubah wajah Papandayan. Erupsi tersebut menyebabkan runtuhnya bagian puncak gunung dan membentuk morfologi tapal kuda (horseshoe-shaped crater) yang masih terlihat hingga kini.
Aktivitas berlanjut pada periode 1923–1927 dalam bentuk letusan lumpur dan penguatan aktivitas solfatar, terutama di Kawah Mas. Sementara itu, letusan freatik 2002 memicu longsoran dinding kawah Nangklak dan membentuk kawah baru yang masih aktif secara termal.
Secara ilmiah, pemandian air panas terbentuk ketika air hujan meresap melalui rekahan batuan vulkanik dan mencapai zona panas di bawah permukaan. Air tersebut kemudian dipanaskan oleh batuan bersuhu tinggi atau sisa magma, lalu naik kembali ke permukaan sebagai mata air panas yang mengandung sulfur.
Di kawasan ini, pengunjung bisa melihat langsung fumarola (hembusan uap panas), kolam lumpur mendidih, hingga endapan belerang berwarna kuning cerah.
Status Kawasan Konservasi, Dikelola Swasta
Kawasan wisata ini berada di dalam Taman Wisata Alam Gunung Papandayan, yang statusnya merupakan kawasan konservasi.
Sejak 2016, pengelolaan wisata dipercayakan kepada PT Asri Indah Lestari. Namun, secara operasional dan pengawasan utama tetap berada di bawah koordinasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Barat (BBKSDA Jabar), karena lokasinya berada di area konservasi negara.
Selain itu, pengelola juga berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut dalam aspek pengembangan pariwisata, keamanan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Skema ini memungkinkan pengembangan fasilitas wisata tetap berjalan dengan prinsip konservasi dan keberlanjutan lingkungan.
Harga Tiket dan Operasional Terbaru
Wisatawan yang ingin menikmati pemandian air panas dikenakan tiket terpisah dari tiket masuk kawasan.
Tiket kolam air panas:
- Weekday: Rp20.000
- Weekend: Rp25.000
- Anak-anak: Rp10.000–Rp15.000
Tiket masuk kawasan TWA:
- Wisatawan nusantara weekday: Rp20.000–Rp30.000
- Weekend: Rp25.000–Rp35.000
- Kendaraan roda dua: Rp12.000
- Kendaraan roda empat: Rp25.000
Jam operasional reguler pukul 07.00–17.00 WIB. Pada Jumat buka hingga pukul 00.00 WIB, dan akhir pekan bisa beroperasi 24 jam. Pengunjung disarankan membawa uang tunai secukupnya.
Manfaat Kesehatan Berbasis Sulfur
Kandungan belerang (sulfur) dalam air panas Papandayan dipercaya memiliki manfaat kesehatan, di antaranya:
- Membantu mengatasi penyakit kulit seperti gatal, eksim, dan infeksi jamur
- Meredakan nyeri otot dan sendi
- Melancarkan sirkulasi darah
- Memberikan efek relaksasi alami
Namun, wisatawan dianjurkan berendam maksimal 10–15 menit untuk menghindari pusing atau iritasi kulit. Setelah berendam, tubuh sebaiknya dibilas dengan air bersih. Suhu udara di kawasan ini dapat turun hingga sekitar 8 derajat Celsius, terutama pagi dan malam hari.
Dampak Ekonomi Nyata bagi Warga
Keberadaan pemandian air panas mengubah Papandayan dari sekadar destinasi pendakian menjadi wisata keluarga dan kesehatan.
Di wilayah Cisurupan dan sekitarnya, dampak ekonomi terasa langsung. Warung makan, kios kelontong, penyewaan handuk dan sarung, jasa ojek wisata, pemandu lokal, hingga homestay milik warga mengalami peningkatan omzet, terutama saat akhir pekan dan libur nasional.
Produk oleh-oleh seperti belerang padat untuk perawatan kulit juga menjadi sumber tambahan pendapatan masyarakat.
Target Wisata Panas Bumi Kelas Dunia
Pemerintah daerah bersama aparat TNI/Polri rutin melakukan pengamanan dan patroli di kawasan wisata. Infrastruktur akses juga terus ditingkatkan untuk menunjang kenyamanan pengunjung.
Papandayan bahkan didorong menjadi bagian dari pengembangan wisata panas bumi (geothermal tourism) bersama kawasan lain di Garut.
Dengan kombinasi sejarah letusan berusia ratusan tahun, fenomena geologi aktif, manfaat kesehatan, serta pengelolaan berbasis konservasi, pemandian air panas Kawah Papandayan kini tak hanya menjadi tempat berendam, tetapi juga laboratorium alam terbuka yang hidup sekaligus mesin penggerak ekonomi lokal Garut.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















