Bandung, Beritageothermal.com – Akademisi Geotermal Institut Teknologi Bandung (ITB), Ir. Nenny Miryani Saptadji, PhD, menilai momentum satu abad pengembangan panas bumi di Indonesia harus menjadi titik balik untuk mempercepat pemanfaatan energi panas bumi secara berkelanjutan. Menurutnya, potensi panas bumi yang besar tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan energi saat ini, tetapi juga harus dijaga sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Pandangan tersebut disampaikan Nenny dalam The 5th ITB International Geothermal Workshop (IIGW) 2026 bertema New Horizons in Geothermal: Beyond Conventional Boundaries di Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7/2026). Forum tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, pelaku industri, investor, dan berbagai pemangku kepentingan guna membahas arah pengembangan panas bumi nasional.
Dalam pemaparannya, Nenny menyebut PLTP Kamojang sebagai salah satu contoh pengelolaan panas bumi yang mampu menunjukkan praktik keberlanjutan dan layak menjadi acuan pengembangan di berbagai wilayah Indonesia.
“Panas bumi ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini, tetapi juga menjadi warisan bagi generasi mendatang. Karena itu, saya mengajak para mahasiswa untuk mempelajari dan mengembangkan panas bumi sebagai bagian dari masa depan energi Indonesia,” ungkapnya.
Nenny menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dunia di sektor panas bumi apabila pengelolaannya dilakukan secara berkelanjutan, didukung inovasi teknologi, riset, serta kolaborasi yang kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri.
Perjalanan pengembangan panas bumi di Indonesia sendiri telah dimulai sejak survei manifestasi panas bumi di Kamojang yang kemudian dilanjutkan dengan pengeboran eksplorasi pertama pada 1926. Kini, Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau terbesar kedua di dunia, sehingga menjadi modal penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih.
Sejalan dengan pandangan tersebut, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pengembangan panas bumi melalui inovasi teknologi, diversifikasi pemanfaatan energi, hingga kolaborasi lintas sektor.
Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, mengatakan satu abad perjalanan panas bumi Indonesia menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan energi nasional.
“Seratus tahun perjalanan panas bumi Indonesia membuktikan bahwa energi panas bumi telah menjadi salah satu fondasi penting ketahanan energi nasional. Ke depan, fokus PGE adalah mempercepat inovasi teknologi, memperluas pemanfaatan panas bumi di luar sektor kelistrikan, serta memperkuat kolaborasi agar potensi besar yang dimiliki Indonesia dapat memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” ujar Andi Joko Nugroho.
Menurut Andi, PGE tidak hanya berfokus pada pembangkitan listrik, tetapi juga mengembangkan berbagai inovasi pemanfaatan panas bumi seperti direct use untuk sektor pertanian dan industri serta pengembangan green hydrogen sebagai bagian dari ekosistem energi rendah karbon.
Di sisi operasional, PGE juga terus mempercepat transformasi digital melalui pengembangan teknologi pengujian sumur panas bumi dan digitalisasi operasi guna meningkatkan efisiensi, akurasi data, serta mempercepat pengambilan keputusan dalam pengembangan lapangan panas bumi.
Lebih lanjut, Andi menegaskan percepatan industri panas bumi memerlukan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui penguatan inovasi, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan pemanfaatan panas bumi, PGE optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai world-leading geothermal producer sekaligus geothermal centre of excellence. Ke depan, Perseroan akan terus mengoptimalkan aset eksisting, mendorong ekspansi bisnis, sekaligus mengembangkan berbagai sumber pendapatan masa depan (future revenue streams) melalui inovasi dan diversifikasi pemanfaatan energi panas bumi,” kata Andi.
Komitmen tersebut turut mendapat pengakuan dalam ajang IIGW 2026. PGE menerima Ganesha Geothermal Award for Outstanding Funding dan Ganesha Geothermal Award for Long-Term Commitment atas kontribusinya dalam mendukung riset, pendidikan, inovasi, serta pengembangan industri panas bumi nasional.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, PGE menargetkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri mencapai 1 GW pada 2028 dan meningkat menjadi 1,8 GW pada 2034. Target tersebut diharapkan semakin memperkuat peran panas bumi sebagai tulang punggung energi bersih Indonesia sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada energi nasional.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini

















