Jakarta, Beritageothermal.com – Lapangan hijau kini tak hanya menjadi arena pertandingan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang edukasi mengenai energi bersih. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM resmi membangun kolaborasi untuk mengenalkan potensi energi panas bumi melalui pembinaan sepak bola.
Kesepakatan tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) bertajuk “Kampanye dan Sosialisasi Pengembangan Panas Bumi dan Industri Olahraga Melalui Pembinaan Olahraga” di Hotel Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Kerja sama ini menjadi pendekatan baru yang menghubungkan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dengan industri olahraga nasional. Pemerintah menilai olahraga, khususnya sepak bola, memiliki daya jangkau luas untuk meningkatkan literasi masyarakat mengenai energi panas bumi sekaligus memperkuat pembinaan olahraga di daerah.
Pelaksanaan program akan melibatkan Deputi Pengembangan Industri Olahraga Kemenpora, Geothermal Soccer Indonesia (GSI), dan Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API). Sementara Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM bertindak sebagai pembina sekaligus pengawas teknis GSI.
Fokus utama program ini adalah menghadirkan pembinaan sepak bola di kawasan sekitar pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Selain mencetak bibit atlet, kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara industri panas bumi dengan masyarakat di wilayah operasional.
Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Pengembangan Industri Olahraga Kemenpora, Suyadi Pawiro, mengatakan sepak bola dipilih karena memiliki pengaruh yang sangat besar di Indonesia.
“Berdasarkan data, jumlah penggemar sepak bola di Indonesia mencapai 160 juta orang, atau lebih dari 60 persen dari total penduduk kita. Artinya, sepak bola bisa menjadi tools (alat) yang luar biasa,” ujar Suyadi.
Ia menjelaskan, Kemenpora ingin menjadikan olahraga sebagai instrumen yang mampu menghasilkan manfaat lebih luas. Tidak hanya melahirkan atlet muda berbakat, tetapi juga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan menggerakkan roda ekonomi melalui industri olahraga, termasuk pelaku UMKM.
“Artinya, ini bisa menjadi alat tidak hanya untuk industri olahraga, tapi bagi industri panas bumi juga bisa menjadi alat kampanye dan sosialisasi ke depannya. Bapak Menpora sangat menyambut baik dan dengan senang hati mendukung Kemenpora menjadi bagian penting dari upaya mendorong green energy di Tanah Air,” tambahnya.
Momentum penandatanganan kerja sama tersebut juga diwarnai dengan peluncuran Geothermal Soccer Indonesia (GSI) beserta dimulainya Geothermal League, kompetisi yang akan menjadi wadah pembinaan sekaligus sarana sosialisasi energi panas bumi.
Ketua Umum GSI, Carson Hakama, mengatakan organisasinya hadir sebagai komunitas pertama yang menghubungkan sektor panas bumi dengan olahraga sepak bola.
Menurut Carson, GSI dibentuk untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai energi panas bumi melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kita ingin melakukan edukasi dan publikasi terkait apa itu energi panas bumi. Sepak bola kami pilih karena ini adalah olahraga masyarakat yang digemari berbagai kalangan dan usia, dari anak kecil hingga dewasa. Demi meningkatkan potensi panas bumi, kita juga harus mengurangi isu-isu sosial di lapangan. Nah, isu sosial itulah yang coba kita mitigasi melalui sepak bola, karena sepak bola bisa masuk ke segala lini,” ungkap Carson.
Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API), Julfi Hadi, menilai pendekatan berbasis olahraga memiliki nilai strategis dalam memperkuat kolaborasi antar-pemangku kepentingan di sektor panas bumi.
Ia menyebut keberhasilan penyelenggaraan GSI Tournament 2025 menjadi bukti bahwa sepak bola mampu menciptakan ruang komunikasi yang lebih cair antara pemerintah dan pelaku industri.
“Poin penting yang saya lihat dari kolaborasi GSI Tournament pertama di tahun 2025 lalu adalah bagaimana eksekutif sampai level bawahan bisa bersatu. Ini menjadi media komunikasi informal Business to Business (B2B) antar stakeholder bidang panas bumi yang sangat menguntungkan,” kata Julfi.
Julfi juga melihat kegiatan olahraga dapat dikembangkan menjadi bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan energi.
“Bisa dimulai dari membeli apparel, membuat liga, hingga membangun GOR Sepak Bola. Ini adalah wadah sosialisasi yang sangat tepat,” tuturnya.
Kolaborasi Berlanjut Menuju Indonesia Sports Summit 2026
Sinergi antara Kemenpora, Kementerian ESDM, GSI, dan API tidak berhenti pada pembinaan sepak bola di wilayah panas bumi. Kerja sama tersebut juga dipersiapkan sebagai bagian dari rangkaian menuju Indonesia Sports Summit 2026.
Pengalaman kolaborasi pada penyelenggaraan Indonesia Sports Summit 2025 menjadi fondasi untuk memperluas integrasi antara sektor olahraga dan energi terbarukan.
Melalui langkah ini, pemerintah berharap olahraga tidak hanya menjadi sarana mencetak prestasi, tetapi juga menjadi media efektif dalam mempercepat edukasi publik, memperkuat penerimaan masyarakat terhadap pengembangan energi panas bumi, serta mendukung agenda transisi energi menuju Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















