Jakarta, Beritageothermal.com – Indonesia menyimpan potensi energi panas bumi sekitar 23 gigawatt (GW). Namun, besarnya sumber daya tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi pembangkit listrik yang beroperasi.
Kondisi itu dinilai menjadi pekerjaan rumah sekaligus peluang besar bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi bersih. Apalagi panas bumi memiliki karakteristik berbeda dari sejumlah energi terbarukan lain karena dapat menghasilkan listrik secara kontinu.
Direktur Utama MCI Renewables, Julfi Hadi, mengatakan Indonesia memiliki keunggulan sumber daya panas bumi karena berada di kawasan vulkanik.
“Panas bumi adalah indigenous resources Indonesia yang terbesar di dunia. Kita dianugerahkan panas bumi karena Indonesia merupakan negara vulkanik,” ujar Julfi.
Menurut Julfi, karakteristik tersebut membuat panas bumi dapat memainkan peran penting dalam sistem kelistrikan nasional. Pembangkit panas bumi dapat beroperasi sepanjang waktu dan menjadi salah satu sumber listrik base load.
“Panas bumi adalah indigenous resources Indonesia yang terbesar di dunia. Kita dianugerahkan panas bumi karena Indonesia merupakan negara vulkanik,” ujar Julfi.
Ia menilai kebutuhan terhadap energi domestik yang stabil dan rendah emisi semakin penting. Ketidakpastian geopolitik, konflik di berbagai wilayah, serta ancaman perubahan iklim membuat ketergantungan terhadap energi fosil menghadapi tantangan yang semakin besar.
Dalam kondisi tersebut, pengembangan sumber energi yang berasal dari dalam negeri menjadi semakin strategis.
Tiga Masalah Utama Pengembangan Geothermal
Meski memiliki sumber daya besar, pengembangan panas bumi di Indonesia tidak otomatis berjalan cepat.
Setelah industri geothermal berkembang selama puluhan tahun, masih terdapat sejumlah persoalan yang membuat investasi di sektor tersebut menghadapi risiko cukup tinggi.
Julfi menyebut terdapat tiga persoalan utama yang perlu dibenahi, yakni risiko eksplorasi dan pengeboran, keekonomian proyek, serta bankability dan kepastian regulasi.
“Risiko pengeboran eksplorasi, komersialitas proyek, serta bankability dan regulasi harus diperbaiki. Kalau tiga hal ini bisa kita ubah, kita akan mendapatkan geothermal boom di Indonesia,” katanya.
Menurut dia, persoalan tersebut harus ditangani secara bersamaan. Pasalnya, panas bumi memiliki karakteristik bisnis yang berbeda karena keberhasilan proyek sangat bergantung pada kondisi sumber daya di bawah permukaan.
Risiko tersebut kemudian berpengaruh terhadap kebutuhan modal, biaya pengembangan, hingga kemampuan proyek memperoleh pembiayaan.
Tak Cukup dengan Model Lama
Julfi berpandangan percepatan pengembangan panas bumi tidak bisa hanya dilakukan dengan mempertahankan pola bisnis konvensional.
Menurut dia, industri geothermal perlu mengubah cara proyek dirancang sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi yang dapat mengurangi risiko dan kebutuhan investasi.
Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian adalah staging, yakni pengembangan pembangkit secara bertahap sesuai tingkat kepastian sumber daya.
Model tersebut berbeda dari pendekatan lama yang cenderung langsung mengembangkan pembangkit dalam kapasitas besar.
“Kalau dulu pengembangan geothermal harus besar-besar, misalnya 50 MW sampai 110 atau 120 MW, sekarang dengan teknologi yang ada kita bisa mengembangkan dalam skala kecil secara lebih fleksibel,” jelas Julfi.
Dengan pola bertahap, pengembang dapat menyesuaikan ekspansi berdasarkan hasil pengembangan sumber daya. Pendekatan ini juga dapat membantu mengendalikan risiko pada tahap awal proyek.
Selain skala pengembangan, penempatan fasilitas juga dapat dioptimalkan. Pembangkit dan lokasi sumur yang dibuat lebih berdekatan berpotensi mengurangi kebutuhan infrastruktur permukaan, termasuk jaringan pipa.
Perkembangan teknologi pemanfaatan uap juga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi panas bumi. Sementara itu, konsep cogeneration dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan nilai ekonomi dari fluida panas bumi.
Julfi menilai inovasi tersebut penting karena bisnis geothermal sangat bergantung pada kondisi bawah permukaan.
“Kalau kita hanya berusaha mengurangi operation cost dengan model bisnis yang sama, mungkin peningkatannya hanya sekitar 10 persen. Untuk mempercepat geothermal, yang harus dilakukan adalah mengganti model bisnisnya,” ujarnya.
PLN hingga Pemerintah Punya Peran
Selain teknologi, percepatan investasi geothermal juga membutuhkan dukungan ekosistem.
Julfi menilai kebijakan pemerintah, struktur tarif, kepastian pembelian listrik, serta hubungan antara pengembang dan PLN menjadi faktor yang saling berkaitan.
Kepastian PLN sebagai offtaker dinilai penting untuk memberikan kepastian terhadap proyek sekaligus meningkatkan daya tarik investasi.
Dalam pandangannya, pengembang, PLN, dan pemerintah perlu memiliki peran yang saling melengkapi agar proyek panas bumi tidak berhenti pada tahap eksplorasi.
MCI Renewables mencoba menjawab persoalan tersebut melalui pendekatan end-to-end geothermal platform. Model ini mencakup rangkaian pengembangan proyek dari sisi hulu hingga hilir.
Tujuannya adalah menjaga kesinambungan proyek, memangkas waktu pengembangan, sekaligus mengendalikan biaya.
“Biasanya project timeline geothermal bisa mengaret sampai tujuh tahun. Dengan end-to-end business model ini, kami ingin memastikan proyek bisa lebih cepat,” katanya.
Kepahiang Jadi Proyek Percontohan
Pendekatan tersebut salah satunya akan diuji melalui proyek panas bumi Kepahiang, Bengkulu, yang dikembangkan MCI Renewables bersama PT PLN (Persero).
Dalam kerja sama tersebut, PLN bertindak sebagai offtaker, sedangkan MCI Renewables membawa pengalaman pengembangan panas bumi.
Untuk tahap awal, proyek Kepahiang akan menggunakan pendekatan staging dengan kapasitas sekitar 35 MW.
Persiapan infrastruktur kini terus dilakukan. Pengeboran ditargetkan mulai pada pertengahan tahun depan.
“Di subsurface kami akan menjalankan staging, mulai 35 MW. Pengeboran ditargetkan pertengahan tahun depan dan COD pada 2030 atau 2031,” ujar Julfi.
Jika berjalan sesuai rencana, Kepahiang tidak hanya menjadi proyek pembangkit baru. Proyek tersebut juga diharapkan menjadi pembuktian bahwa pengembangan panas bumi dengan kapasitas awal yang lebih fleksibel dapat diterapkan untuk mengelola risiko eksplorasi.
Tahap pengeboran menjadi salah satu titik penting karena hasilnya akan menentukan tingkat keberhasilan pembuktian sumber daya uap.
Setelah sumber daya berhasil dibuktikan, pengembangan dapat berlanjut menuju tahap berikutnya sesuai strategi yang telah dirancang.
Targetnya Bukan Sekadar Punya Potensi
Bagi Indonesia, besarnya potensi panas bumi sekitar 23 GW menjadi modal strategis untuk memperkuat bauran energi nasional.
Namun, besarnya potensi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak dapat diterjemahkan menjadi proyek yang layak secara teknis dan finansial.
Karena itu, tantangan pengembangan geothermal kini bergeser dari sekadar menemukan sumber daya menuju bagaimana membuat proyek dapat dibiayai, ekonomis, dan beroperasi secara berkelanjutan.
Julfi optimistis kombinasi teknologi, model bisnis yang lebih fleksibel, dukungan regulasi, kepastian offtaker, serta kolaborasi antarpemangku kepentingan dapat membuka fase baru industri panas bumi Indonesia.
Jika berbagai hambatan tersebut dapat dikurangi, panas bumi berpeluang mengambil peran lebih besar sebagai sumber listrik domestik yang bersih, stabil, dan mampu memasok kebutuhan base load.
Dengan demikian, potensi 23 GW yang selama ini tersimpan di bawah permukaan bumi Indonesia tidak berhenti sebagai angka dalam peta sumber daya, tetapi dapat dikonversi menjadi kapasitas listrik yang memperkuat ketahanan energi nasional.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini














