Berita Geothermal – Di tengah kesejukan lereng Kamojang, Jawa Barat, yang berselimut kabut pagi dan hijaunya hamparan kebun sayur milik warga, deretan pipa-pipa panas bumi membentang di antara pepohonan dan ladang.
Pemandangan ini menjadi latar istimewa bagi sebuah peristiwa bersejarah: panen perdana dan ekspor perdana kopi hasil Geothermal Coffee Process (GCP) dari Kamojang ke Eropa, Jumat (18/7).
Suasana perayaan panen ini pun tampak hidup. Tarian tradisional masyarakat lokal menyambut kedatangan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, serta Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Julfi Hadi di Area PLTP Kamojang.
Di sela udara yang dingin dan menyegarkan, para tamu undangan diajak menyusuri area PLTP Kamojang, sekaligus area pertanian kopi dan fasilitas panas bumi dengan sepeda motor listrik—dari ojek binaan PGE Kamojang yang tergabung dalam platform RangerApp.
Sensasi melintasi jalur dengan latar bentangan pipa-pipa uap panas bumi, menembus warna-warni sayuran dan rimbunnya hutan, menjadi pengalaman tak terlupakan.
“Alhamdulillah saya bisa datang ke Kamojang. Energi baru terbarukan umumnya berada di lokasi yang sulit dijangkau, tapi PLTP Kamojang ini berbeda. Aksesnya sangat mudah,” ujar Eniya Listiani Dewi dalam sambutannya.
Eniya pun sempat mencicipi kopi GCP. Sambil mencium harumnya kopi dalam cangkir, Eniya berkata;
“Ini harum dan enak,” ujarnya.
Sementara itu, Julfi Hadi menegaskan komitmen PGE untuk terus bertumbuh bersama masyarakat.

Dirjen EBTKE Eniya Listiani Dewi dan Dirut PGE dalam acara panen perdana kopi GCP Kamojang dan ekspor ke Eropa
“GCP adalah buah dari sinergi PGE dengan para petani binaan Kamojang. Kami memanfaatkan energi panas bumi tak hanya untuk listrik, tapi juga untuk menggerakkan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” ucapnya.
GCP bukan sekadar inovasi proses. Di balik teknologi pengeringan kopi menggunakan uap panas bumi ini, terdapat lebih dari 653 petani lokal yang terlibat aktif dari hulu ke hilir. Bersama prosesor, roaster, dan barista, mereka membentuk sebuah ekosistem kopi yang produktif, inklusif, dan ramah lingkungan.
Metode GCP memanfaatkan sisa panas dari produksi energi yang sebelumnya terbuang, menjadikan proses pengeringan lebih cepat, higienis, dan hemat energi dibanding metode konvensional.
Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah—akrab disapa Deden—adalah sosok muda asal Kamojang di balik lahirnya kopi GCP.
“Dengan panas bumi, pengeringan kopi jauh lebih mudah, singkat, dan bersih. Itu membuat kualitas kopi lebih terjaga,” katanya di hadapan Dirjen EBTKE dan Dirut PGE.
Lewat tangan dingin Deden, lahirlah Kopi Canaya, merek lokal yang kini sudah mencicipi pasar Asia dan, dengan panen ini, resmi menembus Eropa.
Jumat (18/7) Kamojang tak hanya merayakan panen dan ekspor, tapi juga mengukuhkan diri sebagai pionir pengolahan kopi berbasis energi bersih panas bumi.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini



















