Bandung, Berita Geothermal – Kabut pagi menggantung rendah di perbukitan Kamojang. Jalan berliku yang dilalui Tim Redaksi Berita Geothermal masih basah oleh embun, sebagian berlubang, tanpa pembatas di sisi jurang. Dari balik barisan pinus, terdengar desis panjang ritmis, konstan seperti napas raksasa yang tidur di bawah tanah.
Di sanalah Sumur KMJ-3 berada. Tidak mencolok. Tidak pula dibungkus kemegahan. Namun uap yang terus mengepul darinya menandai satu hal: sejarah energi Indonesia pernah dimulai dari tempat sunyi ini.
Kawah yang Dijaga oleh Ingatan
Setibanya di kawasan kawah, tim ditemani Ibu Dedeh, warga setempat yang mengenal Kamojang bukan karena kebetulan melainkan dari cerita keluarga. Ia adalah anak Abah Omo, cucu dari Aki Edong penjaga kawasan generasi ketiga yang merawat Kamojang secara konvensional sejak lama, bahkan sebelum istilah panas bumi dikenal luas.

Di tengah kepulan uap Kawah Kereta Api, Dedeh bercerita tentang kakeknya. Aki Edong, kata dia, telah ikut merawat Kawah Kamojang 3 sejak masa kolonial Belanda.
Kala itu, belum ada pagar pembatas atau rambu keselamatan. Yang ada hanyalah kepercayaan bahwa kawah harus dijaga agar tidak membahayakan dan tetap memberi manfaat.
Cerita itu mengalir pelan, seiring suara uap yang tak pernah benar-benar berhenti.
Gagasan Sunyi Seorang Guru
Jauh sebelum kisah keluarga itu hidup, Kamojang telah lebih dulu hadir dalam sejarah lewat sebuah gagasan. Pada awal abad ke 20, JB Van Dijk, guru HBS di Bandung, mengusulkan pemanfaatan sumber panas bumi di Kamojang. Usulan ini menjadi pijakan awal pemikiran energi panas bumi di Indonesia.
Secara kebetulan, waktu itu beriringan dengan kelahiran industri panas bumi dunia. Pada 1918, lapangan panas bumi Larderello, Italia, telah memanfaatkan uap alam untuk menghasilkan listrik. Indonesia berada di tahun yang sama namun masih sebatas usulan. Dua jalan berbeda, satu garis waktu.
Ketika Tanah Menjawab Bor
Baru pada 1926, pemerintah kolonial Belanda mulai menembus tanah Kamojang dengan pengeboran dangkal pada kedalaman 60 hingga 128 meter. Dua tahun berselang, lima sumur eksplorasi lahir. Salah satunya adalah KMJ 3.
Dengan kedalaman sekitar 66 meter, sumur ini bertahan hingga hari ini, terus menyemburkan uap panas. Dalam dunia geotermal, uap Kamojang dikenal berkualitas tinggi dominan uap kering menjadikannya salah satu lapangan panas bumi terbaik di dunia.
Kawah sebagai Ruang Penyembuhan
Bagi warga, Kamojang bukan sekadar titik energi. Ibu Dedeh mengenang cerita tentang orang-orang yang datang dari berbagai daerah, bahkan luar kota, untuk mandi dan berendam di air kawah. Air panas alami itu dipercaya mampu membantu menyembuhkan berbagai penyakit kulit.
Ia menunjuk ke area yang kini dipenuhi ilalang. Di sanalah dahulu terdapat tujuh pancuran yang menjadi tempat berendam dan mandi. Kini, pancuran-pancuran itu tak lagi berfungsi, tertutup vegetasi dan perubahan zaman.
Harapan Dedeh sederhana: agar pemandian yang dulu dibuat oleh kakeknya dapat difungsikan kembali, sebagai penanda bahwa Kamojang juga menyimpan sejarah sosial.
Dari Sunyi Menjadi Cahaya
Pasca kemerdekaan, Kamojang sempat terdiam. Baru pada 1970-an, eksplorasi kembali dilakukan. Pada 1978, panas bumi Kamojang menghasilkan listrik pertamanya sebesar 0,25 megawatt.
Unit demi unit menyusul. PLTP Kamojang Unit 1 beroperasi pada 1981, disusul Unit 2 dan 3 pada 1987. Kini, kawasan ini dikelola oleh Pertamina Geothermal Energy (PGE) dengan kapasitas terpasang mencapai sekitar 235 megawatt menjadikannya PLTP pertama di Indonesia.
Alam, Wisata, dan Pengalaman Merasakan
Kamojang berada dalam kawasan Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Kamojang seluas 8.298,2 hektare, di ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.
Lanskap pegunungan, kabut uap kawah, pinus, dan vegetasi asli menjadikannya ruang wisata alam yang unik.
Fenomena Kawah Kereta Api, dengan suara uap menyerupai deru lokomotif, serta Kawah Hujan, yang menghadirkan sensasi mandi uap alami, menjadi magnet bagi pengunjung.
Banyak pengunjung datang bukan sekadar melihat, tetapi merasakan. Mandi uap dan berendam di air panas alami dipercaya membantu meredakan flu, memperlancar pernapasan, dan memperbaiki sirkulasi darah. Udara pegunungan yang bersih memberi jeda dari hiruk-pikuk kota.
Fasilitas tersedia secukupnya warung, toilet, musala, area parkir, gazebo, jalur pejalan kaki, spot foto dan play ground atau tempat bermain anak-anak meski mengalami kerusakan di beberapa bagian.
Kawasan ini umumnya dibuka pukul 07.00–17.00 WIB, dengan tiket masuk sekitar Rp40.000, belum termasuk biaya kendaraan sekitar Rp15.000.
Jalan Menuju Tanah Panas
Akses menuju Kamojang bisa ditempuh dari Bandung melalui Majalaya Paseh, atau dari Garut melalui Samarang Pangkalan.
Namun jalur menanjak, berlubang, dan minim pembatas menuntut kewaspadaan dan dipastikan kendaraan dalam kondisi prima.
Perjalanan ke Kamojang adalah bagian dari pengalaman itu sendiri.
Uap yang Menjaga Masa Depan
Kamojang 3 bukan hanya sumur tua. Ia adalah simpul pertemuan antara gagasan, teknologi, dan manusia. Dari seorang guru, dari tangan warga lokal seperti Aki Edong, hingga pembangkit listrik modern semuanya berakar di tanah yang sama.
Di Kamojang, sejarah tidak ditulis ulang.Ia terus mengepul, setia, dari perut bumi menjadi pengingat bahwa energi terbesar lahir dari kesabaran menjaga alam.*
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini





















