Penulis: Marlin Dinamikanto
Budayawan
Sejarah Pengembangan
Sejak dekade awal Abad ke-20, pemerintah kolonial Belanda sudah menjadikan Kamojang sebagai daerah pelesiran – terutama bagi bule-bule Eropa.
Udaranya yang sejuk disertai sumber air panas yang mengalir dari celah-celah perbukitan, menjadikan Kamojang dan beberapa tempat lain di kaki gunung Guntur hingga Papandayan, sebagai destinasi wisata favorit warga Eropa – baik yang tinggal di sekitar perkebunan teh, kopi maupun yang berkantor di Batavia, Buitenzorg, maupun daerah lainnya di wilayah Hindia-Belanda.
Jejak itu diabadikan lewat unggahan beberapa foto di sejumlah situs web maupun platform media sosial. Sebut saja koleksi foto berjudul Taman Inggris yang berlokasi di Kamojang (Wereldmuseum Amsterdam) bertitimangsa 1910-1940.
Foto hitam putih itu menggambarkan harmoni alam yang hening. Sejauh pengamatan kami yang berkunjung ke kawah Kamojang pada 30 Juli 2025, harmoni alam itu tetap terjaga – tidak jauh berbeda kecuali hadirnya teknologi modern sebagai keniscayaan peradaban.

“English Park yang Menghampar di Area Panasbumi Kamojang”
Pemanfaatan Geothermal atau panasbumi sebagai energi penggerak tenaga listrik memang sudah berjalan lebih dari satu Abad. Tepatnya sejak Pangeran Piero Ginori Conti menemukan generator listrik tenaga panas bumi pada 4 Juli 1904 di Larderello, Italia.
Setelah itu pembangkit listrik tenaga panas bumi komersial skala penuh pertama di dunia dibangun dan mulai beroperasi di lokasi yang sama di Larderello pada tahun 1911.
Meskipun panasbumi sudah diteliti oleh banyak negara, seperti Jepang, Amerika Serikat dan Selandia Baru, namun hingga tahun 1958 Italia adalah satu-satunya negara yang memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP).
Keberhasilan Italia mengembangkan PLTP juga menginspirasi ilmuwan Belanda JB Van Dijk. Tahun 1918 dia mengusulkan pemerintah Hindia Belanda memanfaatkan sumber energi Panasbumi di Kamojang, Jawa Barat.
Usulan itu baru ditindaklanjuti oleh pemerintahan Kolonial Hindia Belanda pada tahun 1926 dengan melakukan pengeboran dangkal antara 60 – 128 meter.
Dari penggalian itu didapati lima sumur eksplorasi yang sekarang hanya tersisa sumur KMJ-3 dengan kedalaman 66 meter atau lebih dikenal dengan sebutan Kawah Kereta Api yang kini menjadi destinasi wisata ikonik di Kamojang.
Dengan adanya eksplorasi itu membuktikan potensi area Panasbumi di Kamojang, bahkan disebut terbaik di dunia. Hentakan sumber panas bumi didominasi oleh uap (Very Dry/VD) dengan kandungan air yang sedikit sehingga mudah diproses.
Namun pemerintah kolonial Belanda tidak segigih Italia dan Selandia Baru untuk segera memprosesnya menjadi PLTP. Pemerintahan Republik Indonesia pun sedang menghadapi konflik geopolitik global “Perang Dingin” hingga akhir 1960-an.
Baru pada 1971, survei Panasbumi Kamojang diteruskan hingga 1979. Berdasarkan survei intensif pada 1978 potensi panasbumi di lapangan Kamojang mampu dimanfaatkan dengan dibangunnya monoblok/pembangkit berkapasitas 0,25 MW.
Sejak itu dilakukan pengeboran sebanyak 14 titik sehingga Kamojang disebut sebagai pelopor lapangan panasbumi yang pertama di Indonesia. Kandungan uapnya yang tebal dengan sedikit kandungan air dapat langsung diproses oleh turbin tanpa proses penyaringan air. Proses produksinya kala itu mencapai 1.752 Gwh per tahun.
PT. Pertamina Geothermal (PGE) hingga kini memiliki 5 Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) yang keseluruhannya menghasilkan 235 MW dengan estimasi pasokan listrik ke 260 ribu rumah.
Ke-5 PLTP itu berada di Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Kamojang – Darajat. Manfaat lain yang didapat oleh keberadaaan PLTP antara lain pengurangan emisi karbon hingga 1.222.000tCO2 per tahun dan potensi penghematan cadangan devisa migas yang tidak sedikit jumlahnya.

Keseimbangan Ekologi, Wisata dan Budaya
Dalam kunjungan singkat pada 30 Juli 2025, tutupan hijau masih terjaga dengan baik sepanjang perjalanan Tarogong – Kamojang. Memang, sebelum masuk areal panasbumi terdapat lahan-lahan pertanian dan perkampungan sepanjang kiri kanan jalan.
Di areal pertanian warga mengoptimalkan lahan yang dikuasainya dengan menanam sayur-sayuran. Air jernih mengalir lancar di parit sepanjang jalan yang sepanjang pantauan kami tidak terlihat sampah.
Padahal Kamojang sudah menjadi destinasi wisata yang cukup ramai dikunjungi, terutama oleh pelancong domestik. Tentu saja mereka membawa sampah yang apa bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan banyak masalah. Namun dengan adanya mesin biodigester yang tersedia di kawasan wisata, persoalan sampah diatasi – bahkan menjadi berkah bagi 134 nasabah bank sampah, karena sampah-sampah yang mereka kumpulkan lewat mesin biodigester ini diubah menjadi sumber energi yang menghasilkan rupiah.
Keberadaan mesin sampah itu sendiri adalah bentuk komitmen nyata PT Pertamina Geothermal Energi (PGE) Tbk. untuk menciptakan ekosistem hijau di wilayah kerjanya di perbatasan Kabupaten Garut – Bandung, Jawa Barat. Satu diantaranya mengelola sampah bukan lagi menjadi sumber masalah. Tapi rupiah.
Untuk itu lewat corporate social responbility (CSR) PGE lewat program Kamojang Green Living Ecosystem (Kang Elie) membiayai biodigester, mesin sampah yang tidak terkesan kumuh melainkan ceria dengan disain lucu mirip odong-odong.
Penting diingat, dataran tinggi Kamojang dilintasi sungai Citarum sepanjang 297 km yang mengalir melintas 13 kabupaten/kota Jawa Barat.
Oleh karenanya, biodigester bukan hanya memberikan manfaat langsung kepada nasabah yang memasok sampah ke mesinnya, melainkan turut menjaga kelestarian daerah aliran sungai (DAS) Citarum sejak hulu.
Berdasarkan data Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Kamojang mencakup luas 8.298,198 hektar dengan rincian 7.763,198 hektar kawasan hutan dan taman wisata seluas 353 hektar.
Sepanjang pengamatan kami keutuhan hutan alam hingga kini tetap terjaga. PGE yang mengeloa sebagian dari kawasan tetap mempertahankan eko sistem lingkungan, antara lain lewat dana CSR membiayai berbagai ikhtiar pelestarian lingkungan.
Di kawasan Kamojang juga terdapat Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) yang berlokasi di Jl. Raya Kamojang, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut.
Ada beberapa jenis Elang langka yang ditangkarkan, dirawat, hingga pada saat yang tepat dilepas ke alam bebas. Program ini juga sebagai bentuk komitmen PGE dalam pelestarian lingkungan.
Seperti halnya kawasan panasbumi lainnya yang berserak di Indonesia, sejak lama sumber mata air panas di Kamojang sudah dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk keperluan praktis seperti merebus telur.
Dalam perkembangannya uap panasbumi yang mencapai 170 derajat celcius dikembangkan untuk membunuh bakteri tanaman kentang yang banyak dibudidayakan petani setempat, sehingga mereka tidak perlu peptisida.
Selain itu, uap panas bumi juga dapat difungsikan untuk mengeringkan bijian kopi yang banyak dipanen oleh petani Kamojang.
Hingga sekarang, cerita rakyat tentang gadis yang melarikan diri karena tidak mau dipaksa menikah oleh orang tuanya masih hidup di sekitar Kawah Kamojang. Gadis itu melarikan diri hingga sesat di hutan dan tidak pernah diketemukan. Gadis itu digambarkan cantik luar biasa (mojang). Sejak itu kawasan hutan tempat gadis itu melarikan diri dinamakan Kamojang.

Warisan Budaya Panasbumi
Tentu saja jejak sejarah sumur KMJ-3, satu di antara lima sumur eksplorasi warisan pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang masih tersisa, patut dijadikan penanda hadirnya peradaban baru pengelolaan panasbumi yang tetap menjaga harmoni alam di tengah godaan pragmatis tanpa kehilangan visi hadirnya energi terbarukan yang ramah lingkungan.
Untuk itu, penyematan lapangan panasbumi Kamojang sebagai Warisan Bidaya (Heritage) yang tetap menjaga kearifan lokal, penjagaan lingkungan yang disertai komitmen kuat untuk ekonomi hijau yang berkesinambungan, baik pemanfaatan panasbumi sebagai sumber energi listrik yang bersih, pemanfaatan di sektor pariwisata, pertanian, kehidupan sehari-hari serta perlindungan budaya lokal, akan menjadi semacam referensi, guidance, atau apa pun namanya terkait dengan pemanfaatan panasbumi di daerah lain Indonesia.
Karena itu, PT PGE sebagai anak perusahaan Pertamina yang sudah hadir di Kamojang, sukses meneruskan eksplorasi yang terhenti di Kamojang sejak 1926 patut mendapatkan apresiasi dari masyarakat luas.
Terutama tentang tata kelola penanganan pengelolaan panasbumi di Kamojang yang telah memberikan manfaat baik bagi masyarakat setempat, flora dan fauna yang tetap lestari di kawasan cagar alam di sekitar kawasan wilayah kerja panasbumi (WKP) yang menjadi tanggung jawabnya sebagai perusahaan yang sudah semestinya ramah lingkungan.***
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















