Bojonegoro, Beritageothermal.com – Peluang pemanfaatan energi panas bumi di Gunung Pandan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih menunggu pembuktian secara ilmiah. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merencanakan survei lapangan selama 30 hari untuk mengidentifikasi kondisi geologi kawasan tersebut.
Penelitian ini ditujukan untuk mengumpulkan data mengenai karakteristik bawah permukaan Gunung Pandan. Informasi yang diperoleh akan menjadi bahan awal untuk mengevaluasi indikasi keberadaan sumber daya panas bumi di wilayah tersebut.
Rencana survei itu disosialisasikan oleh Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP), Badan Geologi, kepada pemerintah daerah dan sejumlah unsur terkait di Gedung Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Jumat (23/10/2026).
Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Bojonegoro, Yudhistira Adi Nugraha, mengatakan kegiatan tersebut akan mencakup serangkaian pengamatan dan pengukuran di lapangan.
Tim akan menerapkan empat metode kajian, yaitu geologi, geokimia, gaya berat, dan magnetotellurik (MT). Selain mempelajari batuan serta bentang alam, petugas akan mengambil sampel air dan tanah serta melakukan pengukuran geofisika.
Seluruh temuan itu kemudian dianalisis oleh tim teknis Badan Geologi untuk menyusun gambaran ilmiah mengenai kondisi kebumian Gunung Pandan.
Yudhistira menegaskan hasil survei belum dapat digunakan untuk menyimpulkan besaran potensi panas bumi yang tersedia. Penilaian terhadap peluang pemanfaatannya harus didasarkan pada hasil pengolahan data.
“Dalam sosialisasi, panas bumi dipaparkan sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang dapat mendukung penyediaan energi bersih,” ungkapnya.
Data Bawah Permukaan Jadi Fokus Penelitian
Survei geotermal tidak sekadar mengamati kondisi permukaan tanah. Pengukuran geologi dan geofisika diperlukan untuk membantu memahami struktur batuan serta karakteristik bawah permukaan yang berkaitan dengan kemungkinan keberadaan sistem panas bumi.
Data geokimia juga menjadi bagian dari kajian untuk memperoleh informasi mengenai karakteristik sampel yang dikumpulkan di lapangan.
Gabungan hasil pengukuran tersebut akan memberikan dasar bagi tim teknis untuk menilai apakah kawasan Gunung Pandan memiliki indikasi prospek panas bumi yang patut ditindaklanjuti.
Meski begitu, temuan awal tidak serta-merta menjamin suatu wilayah dapat menghasilkan listrik secara komersial. Masih diperlukan penelitian lanjutan untuk mengetahui karakteristik sumber daya, perkiraan potensinya, serta kelayakan pengembangannya.
Energi Geotermal Punya Keunggulan, tetapi Potensi Harus Dibuktikan
Dalam kegiatan sosialisasi, panas bumi diperkenalkan sebagai salah satu alternatif energi terbarukan yang berpotensi mendukung pasokan energi bersih.
Salah satu karakteristiknya adalah produksi listrik tidak bergantung langsung pada kondisi cuaca seperti energi surya dan angin. Pembangkit panas bumi juga tidak memerlukan pasokan bahan bakar yang harus diangkut secara rutin melalui fasilitas transportasi dan bongkar muat.
Dari sisi penggunaan ruang, materi sosialisasi memperkirakan kebutuhan lahan pembangkit listrik tenaga panas bumi sekitar satu hektare untuk setiap megawatt kapasitas.
Namun, keunggulan teknologi tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa Gunung Pandan pasti memiliki sumber daya yang ekonomis untuk dimanfaatkan. Kondisi geologi setempat dan hasil penelitian tetap menjadi faktor utama dalam menentukan arah pengembangan.
Pemkab Bojonegoro Libatkan Unsur Wilayah
Penyampaian informasi mengenai rencana survei juga melibatkan berbagai unsur pemerintahan dan perwakilan wilayah. Langkah ini dilakukan agar pihak-pihak yang berkaitan dengan kegiatan lapangan memahami tujuan serta gambaran pelaksanaannya.
Peserta sosialisasi terdiri atas unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimca), Dinas Lingkungan Hidup, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, serta kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dari wilayah terkait.
Berdasarkan materi sosialisasi, kegiatan survei akan menggunakan peralatan berukuran relatif kecil dan tidak melibatkan alat berat. Pelaksanaannya juga disebut tidak melepaskan zat berbahaya yang berpotensi mencemari lingkungan.
Warga lokal berpeluang dilibatkan sesuai kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Yudhistira mengatakan pemerintah kabupaten mendukung sosialisasi tersebut untuk membantu memastikan informasi mengenai rencana penelitian tersampaikan secara jelas kepada masyarakat.
“Dari hasil kajian diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai kondisi geologi Gunung Pandan sebagai dasar untuk menilai potensi panas bumi seteempat,” bebernya.
Belum Masuk Tahap Pembangunan Pembangkit
Tahap survei pendahuluan menjadi bagian awal dalam proses penilaian potensi panas bumi. Setelah pengumpulan data selesai, tim teknis perlu menganalisis hasilnya sebelum menentukan kemungkinan penelitian lanjutan.
Apabila hasil kajian memperlihatkan indikasi prospek yang menjanjikan, kegiatan dapat diteruskan ke tahap eksplorasi untuk mengetahui karakteristik dan besaran sumber daya secara lebih mendalam.
Penentuan kelayakan pengembangan juga memerlukan evaluasi teknis dan investasi. Dengan demikian, belum ada kepastian bahwa Gunung Pandan akan dikembangkan menjadi lokasi pembangkit listrik tenaga panas bumi.
Untuk saat ini, survei yang direncanakan selama 30 hari tersebut berfokus pada pemetaan dan pengumpulan bukti ilmiah. Hasilnya akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan apakah potensi panas bumi Gunung Pandan layak diteliti lebih lanjut.
Ikuti Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp beritageothermal.com klik di sini
















